
"Ada apa Archi?" tanya Andini penasaran sekaligus khawatir.
"Agust...Agust!" kata Archi dengan cepat.
"Agust kecelakan!" ucapnya pada akhirnya lalu bergegas menuju ke ruangan Ridwan.
Tok...tok...
"Masuk!" sahut Ridwan di mejanya.
"Pak...saya mau izin pulang cepat!" pinta Archi dengan suaranya yang bergetar membuat Ridwan tau ada sesuatu yang terjadi.
"Ada apa Archi?" tanya Ridwan.
"Agust...maksud saya, suami saya kecelakaan. Ibu saya barusan telepon. Mereka ada di rumah sakit sekarang," kata Archi dengan cemasnya.
"Oh... Oke, aku izinkan, Archi. Biar aku yang buatkan surat izinnya."
"Terimakasih Pak, atas bantuannya!" ucap Archi.
"Apa mau aku antar ke rumah sakit?" tanya Ridwan.
"Nggak Pak. Nggak enak dilihat yang lain. Saya sendiri saja naik taksi online."
"Oh benar. Oke Archi. Hati-hati di jalan Archi. Dan semoga suamimu baik-baik saja." ucap Ridwan.
"Terimakasih Pak!" jawab Archi bergegas keluar ruangan.
Archi pun mengambil tasnya.
"Aku akan ke rumah sakit!" kata Archi kepada Andini.
"Pulang kerja kami akan ke sana!" kata Andini.
"Oke, dah!" Archi melambai dan pergi.
Archi pergi ke rumah sakit yang diberitahukan ibu sebelumnya. Ketika di sana sudah ada Ayah menunggu di depan ruang unit gawat darurat.
"Bagaimana Agust, Ayah?" tanya Archi.
"Dia masih dalam pemeriksaan dan belum sadarkan diri," kata Ayah memberitahukan kondisi terakhir Agust.
"Bagaimana Agust bisa kecelakan?" tanya Archi.
"Yang Ayah dengar, dia sedang menuruni turunan, entah apa yang terjadi di turunan yang berupa perempatan jalan itu sebuah mobil melintas di jalanan bawahnya. Agust yang tidak siap menabrak mobil itu." cerita Ayah.
"Ya Allah...Agust!" Archi tampak sangat khawatir.
"Mudah-mudahan Agust baik-baik saja. Kita doakan saja Agust." kata Ayah.
Setelah pemeriksaan dan dilakukan tindakan, Agust yang masih belum sadarkan diri dipindahkan ke ruang perawatan. Beberapa luka terlihat di kaki dan tangan Agust.
Archi menemani Agust dengan duduk di kursi, di sebelah tempat tidur Agust. Dia mengirimkan pesan untuk datang besok saja karena Agust belum sadar.
"Makan dulu!" Ibu datang dengan kotak makan susun yang berisi masakannya.
"Kenji dimana?" tanya Archi mengkhawatirkan adiknya.
"Ada Kakak di rumah," kata ibu.
__ADS_1
"Nanti Ayah pulang dulu mengantarkan Ibu, ya. Nanti ayah balik lagi bawa baju ganti untukmu." jelas Ayah yang sedang duduk di sofa dekat jendela kamar.
"Besok aja ke sininya Ayah. Malam ini Ayah istirahat aja."
"Ibu bawa baju ganti kok untuk Archi," kata Ibu sambil mengambilkan makan untuk Ayah dan Archi.
"Tuh! Iya, jadi ayah besok aja ke sini lagi," kata Archi menyuap makanannya.
"Kasian Agust, baru kerja udah dapat musibah," kata Ibu duduk disebelah ayah.
"Tapi kata Dokter apa?" tanya Ibu.
"Lengannya kirinya patah karena menahan ketika jatuh." kata Ayah.
Setelah jam besuk selesai, Ayah dan Ibu pulang ke rumah. Tinggalah Archi menunggu Agust di kamar perawatan nya.
Hari semakin larut tetapi Agust belum juga sadar. Archi tertidur dengan kepalanya yang berbaring di kasur Agust. Dia menggunakan tangan sebagai bantalnya.
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, Agust pun sadar.
"Archi!" panggilnya membangunkan Archi.
"Heum!" kata Archi yang belum menyadari Agust sudah sadar.
"Archi!" panggil Agust sekali lagi.
Archi mengangkat kepalanya sambil membuka mata.
"Kamu udah sadar Agust?" serunya sangat senang.
"Aku kenapa?" tanyanya.
Agust terlihat mencoba mengingat.
"Agh...!" Dia merintih seraya memegang kepalanya yang sakit mengingat kejadian mengerikan tadi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Archi. Agust mengangguk.
"Aku mau minum," kata Agust.
Archi membantu Agust untuk duduk lalu membantunya untuk minum.
"Aku mau buang air kecil," kata Agust.
"Kamu kan pakai pampers. Buang air saja di situ!" suruh Archi sambil menaruh gelas di atas meja sebelah tempat tidur.
"Nggak mau. Aku nggak biasa buang air di pampers."
"Ya ampun lagi sakit aja repot banget!" dumel Archi.
"Kamu nggak boleh bangun dulu sama dokter."
"Nggak peduli, aku mau ke kamar mandi," kata Agust bersikeras.
"Ke kamar mandinya besok aja pas ada ayah, sekarang di pampers dulu," sengit Archi.
"Aku nggak bisa kalau harus buang air di pampers. Aku paksa juga dia nggak mau keluar. Aku mau ke kamar mandi,"
"Tangan kamu kan patah, nggak bisa buka pakai pampers sendiri,"
__ADS_1
"Kan Ada kamu," kata Agust.
"Apaaaa?" pekik Archi.
"Ayolah please. Ga kuat ini!"
"Ya uda, Ayo!" dengus Archi lalu membantu Agust turun dari tempat tidur dan memapahnya ke kamar mandi.
Sementara itu diluar kamar perawatan....
"Aku pengen banget ketemu suami Archi!" gumam Ridwan membawa hampers di tangannya.
"Sayang banget rapatnya baru selesai aku jadi baru bisa datang ke rumah sakit jam segini," dumel Ridwan lagi sambil membuka pintu.
"Kok nggak ada orang?" kata Ridwan mendapati tempat tidur Agust kosong. Dia pun mendengar suara dari dalam kamar mandi yang tertutup.
"Aku malu Agust...ih....!" kata Archi.
"Buruan...bukain celananya. Aku udah nggak tahan Archi!"
"Iya...iya...bantuin pake tangan kamu yang satunya!" kata Archi lagi sambil memejamkan matanya menurunkan celana Agust.
"Aah...enak...lega banget!" kata Agust.
Ridwan yang hanya bisa mendengar itu jadi salah paham. Dia terbelalak, tubuhnya mematung di dekat pintu kamar mandi.
"Buang Air di pampers aja bisa,"
Ceklek...
Segala pengen di kamar mandi. Kan repot!" keluh Archi sambil keluar dari kamar mandi.
Pintu kamar mandi terbuka tanpa Ridwan sadari karena dia terlihat masih sangat shocked.
"Loh...Ridwan di sini?" seru Archi terkejut.
"Eu...iya....a-aku..."
Mendapati Ridwan yang seperti itu, Archi menyadari kalau Ridwan telah salah paham.
"Eh...jangan salah paham! Agust pengen buang air kecil di kamar mandi. Bukan ngapa-ngapain kok," kata Archi lagi.
"Haduuuh...kenapa juga pakai aku jelasin segala sama Ridwan?!" kata hati Archi.
"Iya Archi... nggak apa-apa. Ini untuk suamimu," kata Ridwan memberikan hampers nya ke tangan Archi.
"Terimakasih, sebentar aku mau ambil handuk dulu," kata Archi lagi.
"Aku pulang aja deh Archi. Udah malam juga. Aku cuman mau nganterin ini aja." sahut
"Loh... ya udah deh kalau begitu." jawab Archi.
Ridwan keluar dari ruang perawatan,
"Huft.... Lega....kirain mereka beneran abis ngapa-ngapain. Tapi kalau ngapa-ngapain juga, memangnya kenapa? Mereka suami istri, kok gua yang nggak terima? patah hati," kata Ridwan lagi.
"Tapi aku percaya sih sama Archi. Kalau dia bilang nggak, pasti nggak. Dia kan orangnya polos." kata Ridwan lagi.
"Dengan dia coba jelasin aja itu membuat gua yakin kalau Archi itu sebenarnya cinta sama gua dan nggak mau bikin gua salah paham. Kalau kaya gitu, gue jadi berharap banget bisa secepatnya dapatin Archi!" doa Ridwan di dalam hati.
__ADS_1