Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA
Kedatangan Putri


__ADS_3

****


Pagi itu Abian baru saja datang ke Sekolah dan langsung masuk ke dalam kelasnya. Abian langsung menuju mejanya dan sudah ada Mawar disana yang sedang terlihat sibuk mengerjakan tugas di buku pelajarannya.


Kelas masih terlihat sepi, hanya ada beberapa siswa di meja lain yang terlihat sedang mengobrol satu sama lain. Jam masuk kelas memang masih sekitar lima belas menit lagi, kebanyakan para siswa masih berada di luar kelas sedang ngobrol ataupun masih berada di kantin sekolah untuk sarapan.


"Kebiasaan, lo pasti belum ngerjain PR, kan?!" cetus Abian kemudian duduk di kursi yang berada di samping Mawar.


"Gue tadi malam ada acara keluarga, jadi gue gak sempat Bian! Biasanya juga gue rajin!" jawab Mawar menggerutu tanpa menoleh ke arah Abian dan tetap fokus pada tugas matematika yang sedang dikerjakannya.


"Lo mau nyontek punya gue gak jawabannya, biar cepat!" tawar Abian.


"Ogah, jawaban lo kebanyakan suka salah, coba sekarang ada Ruby dan—," ucapan Mawar terpotong ketika teringat jika Dewi telah tiada. Mawar mengangkat kepalanya kemudian menoleh ke arah meja kosong tepat di belakangnya, meja tempat duduk Ruby dan Dewi yang sudah selama seminggu ini kosong dan tak berpenghuni. Mawar kembali merasa sedih jika teringat Dewi tak akan pernah kembali lagi, sementara Ruby masih terbaring sakit dan belum bisa masuk sekolah.


"Gue jadi kangen Dewi …," lirih Mawar terdengar sedih. "Biasanya Dewi yang bantuin gue kerjain PR jika gue kelupaan ngerjain tugas sekolah … dan sekarang Dewi gak akan pernah bisa lagi bantuin gue," lanjut Mawar lagi dengan suara serak dengan mata yang kini berkaca-kaca.


"Kenapa sih lo cepet banget ninggalin kita, Wi?" lanjut Mawar kini terisak.


"Sudah … jangan sedih, kita doakan saja yang terbaik untuk Dewi. Jangan sampai Dewi disana sedih jika melihat kita masih bersedih seperti ini!" nasehat Abian dengan nada pelan.


"Gue lupa kemarin sore gue habis nengok Ruby, gue mau ngajak lo tapi telpon gue gak lo angkat," ucap Mawar sambil menyeka sisa-sisa air matanya dengan selembar tisu yang diambilnya dari dalam tas miliknya.


"Gimana keadaan Ruby? Dia sudah jauh lebih baik, kan?" tanya Abian datar, raut mukanya mendadak berubah hingga Mawar merasa heran dengan perubahan Abian sahabatnya itu.


"Lo kenapa sih Bian? Lo gak mau nengok Ruby di Rumah Sakit, lo juga gak mau ngangkat telepon ataupun balas chat dari Ruby?! Ruby sedih tau gak sih lo giniin?! Jika lo bersikap begini karena permintaan dari kakaknya Ruby agar lo menjauh dari Ruby, tapi bukan begini caranya! Jaga jarak sih jaga jarak, tapi bukan berarti lo mutusin komunikasi sampe sekedar balas chat pun lo gak mau!" ketus Mawar sedikit emosi.


"Sebelum Ruby kecelakaan pun, kita sudah tahu kak Romy tiba-tiba berubah dan menyuruh lo menjauhi Ruby, tapi lo masih tetep ngotot nyamperin dia, lo masih tetep jalan sama-sama dengan Ruby, karena menurut lo kan lo gak punya salah apa-apa! Terus kenapa sekarang lo malah menghindar gini?! Ruby tuh lagi sakit, ditambah dia juga sedih kehilangan Dewi, tapi lo malah menambah luka hatinya!" ceramah Mawar panjang lebar, dan Abian acuh tak acuh menanggapinya, bahkan menatap Mawar pun dia tak mau, seolah ucapan Mawar sama sekali tak didengarkan oleh dirinya.


"Lo dengerin ucapan gue gak sih, Bian?!" omel Mawar kini beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Kalo gue lagi bicara, lo lihat gue dong! Gak ngehargain gue banget sih lo!" tambahnya lagi.


Abian terpaksa menoleh ke arah Mawar dengan malas-malasan.


"Iya iya nih gue dengerin NYONYA BESAR!" jawab Abian dengan menekankan kata di kalimat Nyonya Besar yang barusan diucapkannya.


"Kita tuh sekarang harusnya saling menguatkan! kita sudah kehilangan Dewi, jangan sampai gara-gara sikap lo itu jadi memecah belah persahabatan kita yang sudah terjalin sejak lama!"


"Nanti istirahat lo hubungi Ruby! Ruby sampe gak mau makan gara-gara mikirin sikap lo yang mendadak berubah gini!" titah Mawar dengan tegas.


"Gue gak bisa!" jawab Abian singkat.


"Tinggal nelpon apa susahnya Bian?! lo gak harus ke Rumah Sakit jika gak mau ketemu kak Romy! Lo cukup telpon Ruby dan tanyakan keadaannya, apa susahnya sih, Bian?!" umpat Mawar semakin kesal.


"Ini adalah janji, janji adalah janji. Gue gak bisa untuk mengingkarinya!" jawab Abian dengan nada yang serius.


"Janji apa sih maksud lo?! Janji ama siapa?!" tanya Mawar tak mengerti, namun belum selesai pembicaraan mereka berdua, bel tanda masuk kelas kini terdengar sudah berbunyi, para siswa pun berbondong-bondong masuk ke dalam kelas hingga memenuhi isi ruangan di kelas itu. Mawar pun menyudahi pembicaraan mereka dan dengan tergesa segera melanjutkan menyelesaikan tugas sekolahnya yang terlupakan sebelum guru mata pelajaran keburu datang ke dalam kelas.


"Assalamualaikum … Selamat pagi anak-anak!" ucap Bu Dahlia memberi salam begitu beliau masuk ke dalam kelas.


"Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh … Pagi Bu!" jawab semua para siswa secara serentak.


Ternyata Bu Dahlia tidak masuk seorang diri, ada seorang siswi yang berjalan masuk di belakangnya. Siswi yang mengenakan seragam panjang karena menggunakan hijab tersebut berdiri tepat di depan kelas atas suruhan Bu Dahlia.


"Anak-anak … mulai hari ini, di kelas kita telah kedatangan seorang siswi baru pindahan dari pulau Kalimantan yang akan menjadi teman kelas kalian mulai dari sekarang. Silahkan perkenalkan nama kamu, agar semua teman-temanmu saling mengenal!" ucap Bu Dahlia memperkenalkan adanya murid baru di kelas mereka lalu menyuruh gadis manis berlesung pipit itu untuk memperkenalkan diri kepada siswa yang lainnya.


"Assalamualaikum teman-teman semua, perkenalkan nama saya Putri Anggita Wira Kusumah, saya pindahan dari Kalimantan karena Papa saya dipindah tugaskan di kota ini jadi saya ikut juga pindah sekolah di kota ini. Salam kenal untuk teman-teman semuanya …," ucap gadis cantik bernama Putri itu sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Semua siswa serempak menjawab salam dari Putri, bahkan beberapa siswa berdiri dan memperkenalkan nama mereka masing-masing. Mereka terlihat senang atas kedatangan Putri, apalagi Putri berwajah cantik.

__ADS_1


"Putri, kamu sekarang duduk di belakang Mawar. Kebetulan hanya meja itu yang kosong, nanti kamu duduk sama Ruby. Kebetulan Ruby sedang sakit dan belum bisa masuk sekolah jadi sementara ini kamu duduk sendiri dulu!" titah Bu Dahlia sambil menunjuk meja kosong yang berada tepat di belakang Abian dan juga Mawar.


"Iya Bu, tidak apa-apa. Terimakasih Bu …," jawab Putri menangguk kemudian berjalan menuju meja yang ditunjuk oleh Bu Dahlia.


Tanpa Putri tau, ada sepasang mata yang menatap dirinya tanpa berkedip. Bahkan sampai berulang kali mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya. Dan orang itu tidak lain adalah Abian Permana. Dia sempat syok begitu tatapannya tertuju pada siswi baru yang berdiri di depan kelasnya itu.


Awalnya Abian hanya merasa jika orang itu mirip seseorang yang dulu pernah dikenalnya, tapi saat mendengar perempuan itu memperkenalkan diri dengan menyebut nama aslinya, Abian sungguh merasa sangat tak percaya. Bahkan jantungnya mendadak terasa berhenti berdetak saking merasa tidak percayanya.


"Benarkah itu Putri? Putri Anggita yang dulu pernah dikenalnya?" batin Abian bermonolog. Dirinya rasanya ragu untuk mempercayai itu semua. Putri orang yang dulu pernah dikenalnya itu kini benar-benar nyata dan berada di hadapannya.


Saat Putri melintas tepat di hadapannya, mata Abian menatap tajam tanpa berkedip. Putri berjalan gontai dan tak melihat ke arah Abian yang menatapnya secara intens tersebut. Melihat Abian yang menatap Putri dengan ekspresi seperti itu membuat Mawar sedikit kesal. Mawar menyiku perut Abian dengan tangannya hingga terdengar Abian mengaduh kesakitan namun ditahan karena takut terdengar oleh Bu Dahlia.


"Dasar buaya empang, lihat yang bening aja matanya jelalatan!" omel Mawar berbisik di dekat telinga Bian.


"Apaan sih Lo, sakit tahu!" jawab Abian sambil meringis kesakitan.


Mawar kemudian menoleh ke belakang untuk menyapa Putri yang kini sudah duduk tepat di belakangnya.


"Hai Putri, gue Mawar," sapa Mawar tersenyum sambil mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.


"Hai Mawar, aku Putri. Nanti jika istirahat, bolehkan nanti kamu tunjukan aku kantin dimana, soalnya aku sama sekali tidak kenal siapapun juga di sekolah ini," jawab Putri dengan santun dan lemah lembut.


"Oke Putri, lo tenang aja. Gabung aja sama kita-kita nanti, gak usah sungkan-sungkan! Kita semua disini pada welcome kok orangnya," balas Mawar sambil tersenyum.


"Iya Mawar, terimakasih ya!" jawab Putri kemudian.


Sementara itu Abian merasa ragu untuk menoleh ke belakang, lehernya mendadak terasa kaku. Berat rasanya untuk memutar badannya untuk bersitatap bersama Putri, entah bagaimana ekspresi Putri jika mengetahui dirinya sekarang menjadi teman sekelasnya lagi saat ini, sama persis seperti halnya dua tahun yang lalu.


Namun baru saja Abian memberanikan diri untuk menoleh ke belakang untuk menyapa Putri, Bu Dahlia keburu berbicara dan menyuruh semua siswa untuk mengumpulkan tugas PR yang diberikan olehnya hari rabu kemarin. Bu Dahlia pun menyuruh para siswa untuk fokus mengikuti pelajaran yang akan disampaikan olehnya sebentar lagi dan dilarang mengobrol selama mata pelajaran sedang berlangsung.

__ADS_1


******


__ADS_2