
*****
Abian terpaku menatap seseorang yang saat ini berdiri tak jauh dari tempatnya. Menatap Putri yang saat ini berdiri tepat di samping Mawar. Putri terlihat sangat terkejut begitu melihat Abian yang baru saja mengangkat wajahnya dan saat ini menatapnya.
Saat Mawar mengajak Putri untuk ke kantin bersama, Putri pun langsung mengiyakan karena memang saat ini Putri belum tahu seluk beluk tentang lingkungan di Sekolah itu. Namun saat Putri berdiri menunggu Mawar untuk mengajak teman sebangkunya yang masih terlihat sibuk menulis, Putri pun berdiri di samping Mawar dan menunggunya.
Saat Abian masih dalam posisi menunduk dan sedang menulis, Putri masih belum tahu jika pria yang ada di hadapannya itu adalah Abian, mantan kekasihnya terdahulu. Namun begitu Abian mengangkat wajahnya dan Putri jelas melihatnya, Putri tentu saja sangat terkejut ternyata pria yang ada di hadapannya itu adalah Abian mantan kekasihnya, yang selama ini begitu sangat dirindukannya.
"Abian?" lirih Putri pelan bahkan hanya terdengar seperti sebuah gumaman.
Abian pun beranjak dari duduknya, ia kemudian berdiri dan terlihat kebingungan dengan apa yang saat ini harus diperbuat oleh dirinya.
"Benarkah kamu Abian?" tanya Putri sekali lagi ingin memastikan jika dugaannya tidaklah salah bahwa pria yang saat ini sedang berada di depannya itu memanglah Abian yang dikenalnya.
"Ka—kalian saling mengenal?" tanya Mawar penasaran menatap Abian dan Putri secara bergantian.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Mawar, karena kedua orang di hadapannya itu sama-sama terpaku saling menatap tanpa berkedip. Apalagi Putri ia merasa tak percaya akan bertemu lagi dengan Abian.
Beberapa saat lamanya mereka berdua terkunci dalam sebuah tatapan yang penuh dengan cinta dan kerinduan.
__ADS_1
Mata Putri kini terlihat sudah berkaca, begitu halnya dengan Abian. Mawar hanya mematung menyaksikan mereka berdua yang hanya tetap saling menatap tanpa sedikitpun berbuat sesuatu atau pun berbicara apa-apa.
"Putri …," akhirnya sebuah kalimat meluncur pelan dari bibir Abian yang kini sedikit terbuka. Putri menangis mendengar Abian yang memanggilnya. Tanpa memperdulikan adanya Mawar di antara mereka berdua saat ini, Putri langsung memburu ke arah Abian dan memeluknya.
"Abian, benarkan kamu Abian?" ucapnya sambil memeluk tubuh Abian penuh rasa haru dan kerinduan.
Tak ada penolakan dari Abian, bahkan Abian pun balas memeluk Putri yang mulai terisak dalam pelukannya itu.
Untung suasana kelas sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa siswa saja yang terlihat belum keluar dari dalam ruangan kelas itu. Melihat Putri dan Abian yang saat ini saling memeluk mereka terlihat heran kemudian saling berbisik antara satu dengan yang lainnya namun setelah itu pura-pura acuh dan tak peduli meski salah satunya masih terdengar berbisik-bisik.
Namun setelah itu ketiganya langsung keluar dari dalam ruangan itu, meninggalkan Mawar yang mematung bak seorang wasit yang menjadi saksi dua orang yang sama-sama sedang mencurahkan rasa rindunya.
"Aku merindukanmu Abian … sangat merindukanmu," isak Putri masih tenggelam dalam rasa haru.
"Bentar bentar! Gue gak tahu ada hubungan apa diantara kalian berdua ini, tapi saran gue tolong jaga sikap kalian! Ingat kita ini sedang berada di Sekolah, jangan sampai ada yang mengadukan kalian berdua melakukan hal yang tidak senonoh di Sekolahan meskipun hanya sekedar berpelukan!"
Mendengar ucapan Putri, Abian dan Putri pun sama-sama saling melepas pelukan mereka.
"Maaf Mawar, aku cuma kaget ternyata orang yang saat ini ada di depanku adalah Abian sahabat dekatku dulu ketika kami masih kelas sepuluh," jawab Putri merasa tak enak hati sambil menyeka sisa-sisa air matanya yang masih terlihat membasahi pipinya yang mulus itu.
__ADS_1
"Gak apa-apa Put, gue cuma kaget aja ternyata kalian sudah saling kenal. Sorry gue ngomong gitu takutnya ada yang ngaduin kalian yang tidak-tidak pada Guru-Guru disini. Sorry ya jika gue kesannya so menggurui!" lanjut Mawar.
"Iya terimakasih kamu sudah memperingatkan. Aku juga harusnya bisa jaga sikap tadi dan ingat jika saat ini aku sedang berada di Sekolah, cuma aku gak nyangka aja bisa ketemu Abian setelah dua tahun lamanya kami berdua tidak pernah bertemu lagi," jawab Putri lagi sementara Abian hanya terdiam sambil mencuri pandang ke arah Putri dengan tatapan yang masih menyimpan begitu banyak kerinduan.
"Kalian ini dulu sahabatan atau—" ucapan Mawar terpotong karena ragu untuk mengucapkan sesuatu hal yang ada dalam pikirannya saat ini. Mawar menduga jika sepertinya Abian dan Putri itu pernah menjalin hubungan yang istimewa bukan hanya sekedar hubungan persahabatan.
"Putri mantan pacar gue, Mawar!" kali ini Abian angkat bicara.
"What?! Jadi kalian berdua pernah pacaran?" tanya Mawar tetap terkejut meski dirinya sudah menduganya sejak awal mereka berpelukan saat tadi.
"Iya, Putri mantan pacar gue dulu. Kami tidak pernah bertemu lagi dan hilang komunikasi setelah kami masing-masing pindah Sekolah," jawab Abian lagi.
"Aku kira kamu masih menetap di Sumatera Bian?" tanya Putri kemudian.
"Sejak kamu pindah ke Kalimantan, aku pun memutuskan untuk pindah ke kota ini untuk menemani kak Mona, karena kak Mona sekarang sudah punya rumah sendiri," jawab Abian sambil berusaha bersikap tenang dan menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku pindah kemari karena Papa dipindah tugas ke Kota ini," jawab Putri pelan entah kenapa jika ingat masa-masa sulit setelah hari perpisahannya dengan Abian saat itu hati Putri rasanya kembali sakit.
"Kamu—kamu kok memakai hijab, Put?" tanya Abian merasa heran sambil memperhatikan wajah Putri yang baginya terlihat begitu cantik dalam balutan kerudung segi empat putih yang dikenakannya saat ini.
__ADS_1
"Alhamdulilah Bian, sudah beberapa bulan ini aku sudah memeluk agama Islam, seperti keinginanku sejak dulu Bian …," ucap Putri dengan netra yang kini kembali menganak sungai.
"Benarkah, Put?" tanya Abian merasa tak percaya dan rasanya seperti mimpi mendengar Putri kini telah memeluk agama yang sama seperti dirinya.