Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA
Perhatian Dewa


__ADS_3

Apa kabar Oma, Dewa?" sapanya kemudian menyalami mereka satu persatu sementara pada Bu Rahma, Dewa mencium punggung tangan wanita itu dengan hormat. Kemudian memberikan bingkisan makanan yang dibawanya pada Bu Rahma.


"Nak Dewa, kok gak mengajar ke Sekolah?" tanya Bu Rama terlihat begitu senang atas kedatangan Dewa.


"Tidak Oma, kebetulan Dewa izin untuk mempersiapkan acara tahlil nanti malam untuk Ruby. Setiap malam jumat, Dewa memang rutin mengadakan pengajian untuk mendoakan Dewi sampai menunggu empat puluh harinya Dewi nanti," jawab Dewa menjelaskan.


"Maaf Nak Dewa kami tidak pernah hadir karena Oma tidak bisa pergi, Ruby kan belum sembuh …," ucap Bu Rahma merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Oma, Dewa memakluminya. Dewa kebetulan tadi habis belanja makanan di sekitar sini untuk persediaan nanti malam, jadi sekalian mampir kemari sebentar," jawab Dewa lagi.


"Bang Dewa, maaf ya karena Ruby belum bisa ikut acara tahlilan untuk Dewi … tapi Ruby selalu mendoakan Dewi setiap hari," ucap Ruby mulai terlihat sedih.


"Tidak apa-apa Ruby. Semoga kamu cepat sehat, bisa segera pulang ke rumah dan tentunya bisa kembali bersekolah lagi," jawab Dewa sambil tersenyum. Senyum manis yang tanpa sadar membuat Ruby merasa begitu teduh melihat kelembutan wajah pria yang menjadi abang sahabatnya itu.


"Maaf Dewa, aku juga kebetulan banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, belum harus bolak balik juga ke Rumah Sakit untuk gantian menjaga Ruby. Jadi maaf jika belum sempat menghadiri acaranya," Romy kini ikut bicara.

__ADS_1


"Iya Romy tidak apa-apa. Maaf aku juga jadi jarang menjenguk Ruby kemari. Bagaimanapun juga Ruby sudah kuanggap adik sendiri seperti halnya kepada Dewi."


"Tidak apa-apa Dewa. Terimakasih atas perhatiannya," sahut Romy. " Oh iya Dewa, berhubung ada kamu disini, bagaimana jika aku titip sebentar Ruby disini. Aku mau nganterin Oma pulang dulu ke rumah, biar Oma bisa istirahat dengan nyaman. Sudah berapa hari Oma tidak pulang, makanya aku suruh pulang dulu biar pikiran Oma tidak aneh-aneh dan ngelantur seperti sekarang. Masa Ruby Oma suruh menikah," lanjut Romy panjang lebar.


Dewa tersenyum mendengar hal itu karena Dewa pun sempat tahu keinginan Bu Rahma itu saat menjenguk Ruby kemarin.


"Namanya orang tua, pasti selalu khawatir akan anak serta cucunya," jawab Dewa tersenyum sambil menatap ke arah Bu Rahma. "Tapi maaf Romy, aku tidak bisa lama-lama disini karena kebetulan belanjaanku sekarang sedang ditunggu Bi Minah yang bekerja di rumahku. Jika Oma mau pulang, biar Oma saja yang sekalian aku antar pulang!"


"Ya sudah kalau begitu. Oma pulang saja dengan Nak Dewa itu juga jika tidak merepotkan, kebetulan ada yang mau Oma bicarakan," ucap Bu Rahma mendadak terlihat semakin berbahagia.


"Ya sudah, terimakasih kalau begitu Dewa. Maaf jadinya malah merepotkan," ujar Romy.


"Tidak Romy … Ya sudah kalau begitu aku pamit. Ruby, kamu cepat sehat ya jangan lupa makan yang banyak dan minum obatnya!" ucap Dewa menatap ke arah Ruby.


"Iya Bang Dewa, makasih ya selalu sempetin nengokin Ruby," balas Ruby.

__ADS_1


Sepeninggal Oma dan juga Dewa, Ruby langsung membaringkan kembali tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Romy yang bersikap acuh juga bahkan tak mau saling menatap, keduanya masih sama-sama kesal antara satu dengan yang lainnya.


"Kamu dengar apa yang Oma bilang tadi, jika tiba-tiba Oma memaksa memintamu menikah dalam waktu dekat ini, kamu mau menikah sama siapa? Jangan bilang kalau kamu akan menikah dengan sahabat yang kamu bangga-banggakan si Abian itu, aku gak sudi punya adik ipar seperti dia!" tiba-tiba Romy kembali angkat bicara setelah beberapa saat keduanya sama-sama terdiam dalam kebisuan.


Mendengar itu Ruby langsung merubah posisi tubuhnya untuk duduk dan menghadap ke arah Romy Kakaknya yang sedang berbaring di sofa dengan posisi terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu.


"Jangan mulai deh Kak, aku malas berdebat lagi. Terserah Kak Romy mau bilang apa, yang pasti aku ini masih sangat muda dan tidak ada niat untuk menikah dengan siapapun!" jawab Ruby dengan ketus melirik tajam ke arah Kakaknya yang tak memperdulikannya sama sekali.


"Seandainya itu jadi nyata, Oma tiba-tiba sakit dan akan meninggalkan kita terus memintamu untuk segera menikah, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Romy kali ini melirik ke arah Ruby yang masih dalam posisi sedang menatap tajam ke arahnya.


"Kakak ngomong apa sih?! Jangan  bilang hal yang tidak-tidak tentang Oma! Tidak akan terjadi sesuatu sama Oma. Oma akan selalu sehat dan tetap ada bersama-sama kita, jadi jangan nakut-nakutin aku! Aku gak suka ya Kak Romy bicara lagi seperti itu, itu sama aja Kakak mendoakan hal buruk untuk Oma!" gertak Ruby jadi emosi.


"Kamu pikir aku tidak khawatir mendengar pembicaraan Oma yang terkesan ngelantur beberapa hari ini. Aku juga terus kepikiran, bahkan di belakang kamu pun saat kita berdua sedang bicara, Oma berulang kali mengatakan hal ini. Oma ingin sekali melihat kamu menikah!" ujar Roby menjelaskan yang sebenarnya.


"Benarkah itu Kak Romy?" tanya Ruby begitu pelan, semangatnya seakan runtuh begitu saja.

__ADS_1


"Ya … dan aku tidak tahu, kenapa Oma terus membicarakan hal itu kepadaku. Dan Oma berharap agar kamu bisa menikah dengan Dewa. Jika kamu menikah dengan Dewa, aku pun pasti menyetujuinya. Daripada sama si Abian itu!"


__ADS_2