
Put … Kita belum juga memulai, masalah bagaimana nanti kita serahkan pada takdir yang akan membawa kita sampai kemana. Aku menyayangimu dari dulu hingga saat ini, aku ingin kamu membersamai langkahku dalam menggapai cita-citaku. Kita saling dukung, kita saling support." jawab Bian penuh harap.
"Tapi Bian—" jawab Putri tak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Put, apa yang kamu kini ragukan. Apa kamu takut Papamu akan marah? Aku akan bicara nanti sama Papa kamu secara baik-baik. Bukankah kita sudah memiliki keyakinan yang sama, jadi sudah tidak ada penghalang besar lagi diantara kita berdua," jawab Bian meyakinkan.
"Tapi Bian bukan masalah itu, masalahnya aku—" Putri lagi-lagi tak melanjutkan ucapannya, dia terlihat ragu namun tergambar jelas gurat kesedihan di wajah cantiknya itu.
"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan siap Put. Masalah jodoh, kita serahkan pada Yang Kuasa. Yang pasti aku ingin melewati kebersamaan ini bersamamu lagi dengan penuh kebahagiaan."
"Bagaimana, kamu mau kan Put jika kita membina hubungan lagi seperti dulu?" tanya Abian sekali lagi ingin memastikan jawaban meyakinkan dari Putri.
__ADS_1
"Aku ingin kamu bicara sama Papa, jika Papa mengizinkan aku akan memberikan kamu kesempatan lagi. Tapi aku tidak janji untuk selalu bersamamu sampai nanti. Jangan pernah menyesal jika nanti aku akan pergi meninggalkanmu lagi," jawab Putri memberi syarat.
"Baik, hari ini juga aku akan menemui Papamu. Diizinkan atau tidak, aku harap kamu tetap memberiku kesempatan untuk dekat baik sebagai teman atau saudara seperti halnya kepada Ruby ataupun Mawar," ucap Abian tetap merasa memiliki sebuah harapan apalagi saat mendengar cerita dari Putri jika Papanya saat ini telah berubah. Bahkan dia pun selalu menanyakan tentang Abian.
"Terserah kamu, tapi apapun jawaban Papa nanti, kamu harus menerimanya dengan lapang dada," saran Putri.
"Kamu tidak akan ikut memperjuangkan cinta kita lagi kah, seandainya Papamu tidak merestui lagi hubungan kita seperti dulu?" tanya Abian ingin tahu tentang perasaan Putri yang sesungguhnya.
Abian terdiam mendengar semua jawaban Putri yang sedikit tidak dimengerti oleh hati dan juga pikirannya. Putri berbicara seolah-olah sisa waktu dalam hidupnya itu hanya tinggal sebentar saja.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, Put? Kenapa kamu bicara seolah-olah waktumu hanya tinggal sebentar saja?" tanya Abian merasa heran.
__ADS_1
"Bukankah kita memang tidak tahu usia kita ini akan sampai kapan, Bian? Bisa saja saat ini kita sehat, terus tiba-tiba besok kita meninggal! Semua itu tidak akan ada yang tahu, karena rezeki, jodoh dan kematian itu hanyalah rahasia Tuhan, aku hanya ingin memanfaatkan waktuku yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya …."
Abian menatap wajah teduh dan cantik di hadapannya saat ini.
"Aku tahu Put, aku juga menyadari hal ini sejak kepergian Dewi beberapa saat lalu. Dewi baru saja ngobrol dan bersama-sama kita dan setelah itu tiba-tiba dia kecelakaan dan langsung meninggalkan kami semua. Oleh karena itu, izinkan aku membahagiakanmu dengan sisa waktu hidupku yang aku miliki ini, Put …," pinta Abian masih dengan penuh harap.
"Jawabanku, tergantung bagaimana jawaban Papa … setelah ini apa kamu sudah bersedia bicara sama Papa dan siap dengan bagaimanapun jawabannya nanti?!"
"Aku siap Put!" jawab Abian dengan yakin meski sesungguhnya hatinya berdebar-debar.
Abian yakin untuk memulai kembali segalanya demi mendapatkan cinta Putri kembali dan restu dari kedua orang tuanya.
__ADS_1