
"Kami berdua sudah membicarakannya dari hati ke hati, dan kami berdua akhirnya sudah sepakat memutuskan untuk menikah secepatnya dalam waktu dekat ini."
Oma Rahma dan Romy saling menatap ketika mereka mendengar perkataan yang barusan diucapkan oleh Dewa di hadapan mereka berdua saat ini. Sementara Ruby yang duduk tepat di sebelah Dewa hanya menunduk sambil sesekali memainkan jari jemarinya.
"Nak Dewa serius mau menikahi Ruby? apa kamu tidak akan menyesal nantinya? Sikap Ruby yang masih kekanakan dan manja ditambah usia serta sifat kalian yang jauh berbeda apakah Nak Dewa siap menerima itu semua?" tanya Oma Rahma ingin memastikan semuanya.
"Saya yakin akan menerima Ruby dengan baik, meski kami belum ada perasaan cinta diantara kami, tapi seiring waktu kami yakin perlahan cinta itu akan hadir dengan sendirinya jika kita saling ikhlas menerima," jawab Dewa dengan yakin.
"Dan kamu juga By, kamu yakin akan menikah dalam usia semuda ini? Maaf jika ucapan Oma kemarin-kemarin membuat kamu tertekan dan jadi memikirkan masalah ini, Oma hanya takut jika Oma tiba-tiba harus pergi jika kamu belum ada yang menjaga dan menyayangi. Jika memang cuma gara-gara itu, Oma minta maaf … Oma tidak bermaksud memaksa kamu Ruby, atau memaksa Nak Dewa … sekarang, jangan pikirkan ucapan Oma, lagipula sampai saat ini Oma juga sehat dan baik-baik saja," ucap Oma Rahma merasa jadi penyebab semuanya.
"Tidak, Oma. Awalnya mungkin memang karena itu, tapi Ruby berpikir Ruby memang sangat butuh pendamping. Ruby juga sudah memutuskan untuk pindah Sekolah dimana tempat Bang Dewa saat ini mengajar," sahut Ruby panjang lebar.
__ADS_1
"Aku setuju saja jika kalian memang mau menikah. Tapi sebaiknya nanti saja setelah Ruby selesai sekolah, lagipula tinggal hitungan beberapa bulan lagi, tidak sampai waktu setahun juga Ruby menyelesaikan pendidikannya. Sambil kalian mempersiapkan acara pernikahannya!" saran Romy kali ini angkat bicara.
"Tapi Ruby ingin secepatnya, Kak!" sergah Ruby.
"Tapi semua ini butuh perencanaan yang matang, Ruby!" saran Romy.
"Kalian kemarin seolah menyuruh Ruby untuk segera menikah dengan Bang Dewa, tapi sekarang kenapa kalian seolah tidak mendukung? Padahal aku ingin menuruti permintaan kalian!" kesal Ruby.
"Iya Kakak tau By, tapi semua ini terlalu mendadak dengan keputusan kamu yang tiba-tiba ini!" ucap Romy.
"Ya sudah, Kakak beri kamu waktu untuk mempertimbangkannya lagi, jangan sampai kamu menyesal dengan keputusan yang kamu ambil disaat hatimu sedang dilema!" sahut Romy.
__ADS_1
Ruby diam menunduk dan tak menjawab lagi ucapan dari Kakaknya itu.
*****
Keesokan harinya Ruby dan Dewa mengunjungi makamnya Dewi. Ruby kembali tidak masuk sekolah, dan Ruby berniat akan pergi ke sekolah besok saja namun hanya untuk segera mengurus surat-surat kepindahannya.
"Wi, gue kangen lo, Wi … sepi rasanya hari-hari gue tanpa lo, Wi …," ucap Ruby pelan sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama dan tanggal lahir Dewi serta hari wafatnya.
"Wi … gue kesini ingin bawa kabar bahagia buat lo. Gue udah memutuskan untuk segera menikah dengan Bang Dewa, sesuai dengan harapan dan keinginan lo. Lo seneng kan dengernya Wi?" lanjut Ruby dengan mata yang berkaca, meski sesungguhnya hatinya campur aduk penuh warna, rasa sakit yang lebih mendominasi. Salahkan keputusannya bersedia menikah dengan Bang Dewa hanya karena ia mengalami patah hati karena Abian? batinnya tiba-tiba merasa berdosa.
Bukankah sama saja dia hanya menganggap Bang Dewa seperti pelampiasan. Tapi … Ruby rasanya tidak bisa berpikir apa-apa lagi, saat hatinya terluka entah kenapa dia langsung memutuskan memilih Dewa, ingin menikah dengannya karena merasa jika pernikahan itu akan membuatnya kembali bangkit dan dirinya akan lupa dari segala kecewa serta lukanya.
__ADS_1
"Bang Dewa … kenapa tiba-tiba mau dan yakin untuk bersedia menikah dengan Ruby, apa hanya karena semata ingin mewujudkan keinginan Dewi?" tanya Ruby menoleh pada Dewa yang duduk di sebelahnya dan terlihat sedang mulai menabur bunga di atas pusara adiknya itu.
"Aku tidak tahu pasti apa alasannya. Tapi Allah yang menuntun hatiku untuk yakin dan bersedia melakukannya, serta menerimamu jadi calon istriku … aku pasrahkan semuanya pada Allah yang memberikan takdir dan jodoh kepada kita. Jika kita berjodoh, pasti kita akan bersama. Namun jika tidak, kita pun harus ikhlas dengan apa yang sudah digariskan olehNya untuk kita!"