
*****
Ruby baru saja keluar dari ruang kantor guru di Sekolahnya, Ruby meminta surat pindah sekolah untuk melanjutkan belajarnya di sekolah lain dimana tempat Dewa saat ini mengajar. Bu Siska sebagai guru wali kelas tentu saja merasa terkejut dengan pemberitahuan Ruby akan niatnya pindah sekolah itu, bagaimanapun juga Bu Siska lumayan dekat dengan Ruby selama ini, pasti Bu Siska akan merasa kehilangan apalagi belum lama setelah kepergian Dewi untuk selamanya.
"Kenapa harus pindah, By? Apa kamu merasa tidak nyaman belajar di Sekolah ini? Padahal beberapa bulan lagi juga sekolahmu akan selesai. Atau kamu ada masalah, cerita sama Ibu?" tanya Bu Siska mencoba menyelidiki alasan terbesar Ruby kenapa dia sampai memutuskan pindah sekolah.
"Tidak Bu Siska, Ruby tidak ada masalah apa-apa. Ruby … hanya merasa sedih jika memasuki ruangan kelas, karena pasti Ruby akan teringat Dewi, Ruby tidak mau terus menerus seperti ini … Makanya Ruby lebih baik memutuskan untuk pindah sekolah saja, agar Ruby bisa melupakan semua kejadian itu," jawab Ruby panjang lebar.
Ruby memang sudah mencari alasan tepat untuk keputusannya pindah dari sekolah tersebut. Tentu saja demi menutupi alasan sebenarnya jika dirinya tidak mau lagi bertemu dengan Abian, apalagi harus memberitahukan niatnya menikah dengan Dewa, karena hal itu pasti akan dirahasiakan dulu untuk sementara ini sampai dia menyelesaikan pendidikan Sekolah SMA nya.
"Ibu sebenarnya sedih dengan niat kamu pindah sekolah, tapi Ibu juga tidak bisa memaksa atas apa yang sudah menjadi keputusan kamu. Ibu memahami perasaanmu. Sesekali datanglah ke sekolah ini untuk bertemu dengan Ibu dan juga teman-temanmu," lanjut Bu Siska dengan sedih.
"Tentu saja Bu, Ruby tidak akan pernah lupa pada kalian. Terimakasih selama ini Ibu sudah mendidik Ruby dengan baik." Tak terasa mata Ruby kini berkaca, bagaimanapun juga dirinyalah yang paling bersedih dalam memilih keputusannya.
*****
"Apa, lo mau pindah?!" Mawar berucap setengah berteriak begitu Ruby menemuinya saat istirahat di Kantin sekolah tempat biasa mereka jajan jika waktunya beristirahat. Ruby sengaja mengirim chat pada Mawar agar menemuinya disana tanpa kehadiran Abian tentunya. Ruby malas jika harus bertemu dengan Abian karena hatinya pasti akan kembali merasakan luka dan kekecewaan.
__ADS_1
"Iya, dan gue udah urus surat pindahnya," jawab Ruby datar.
"Ini gak lucu tau gak By, lo serius apa bercanda?!" cetus Mawar merasa belum percaya atas apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Gue gak bercanda! Lo tanya sama Bu Siska kalo lo belum percaya juga!"
"Iya tapi kenapa lo harus pindah By! Lo mau ninggalin gue?! Gue baru aja kehilangan Dewi, dan sekarang lo juga mau ninggalin gue?!" sinis Mawar terlihat kesal.
"Jangan bilang kalau lo pindah gara-gara Abian?!" cehcar Mawar.
Ruby tak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Kantin itu tidak terlalu ramai, karena memang terletak di pojok sekolah dan jarang yang jajan di tempat itu, tapi Ruby dan teman temannya malah senang mojok dan ngobrol di kantin itu.
"Keputusan gue sudah bulat, gak akan berubah lagi!" tegas Ruby.
"Seandainya Abian masuk sekolah hari ini, gue pasti minta kalian berdua selesaikan masalahnya saat ini juga. Sayangnya Abian gak sekolah. Tadi pagi dia chat gue katanya harus nemenin Putri yang dirawat di Rumah Sakit." lanjut Mawar.
Mendengar hal itu, hati Ruby terasa perih kembali, rasa cemburunya kembali muncul dan membakar panas dadanya.
__ADS_1
"Biarin aja, dia juga gak bakalan peduli meski gue pindah. Sudah ada Putri, dia gak akan butuh gue lagi!" sinis Ruby.
"Kenapa sih By, sikap lo sekarang membuat gue jadi menyimpulkan sesuatu hal. Apa lo suka sama Abian, lo cinta kan sama Abian?! Sikap lo itu nunjukin jika lo cemburu kan Abian sama Putri?" tanya Mawar mengeluarkan pertanyaan yang beberapa hari ini mengganjal di hatinya.
"Gue males bahas itu! Kepindahan gue gak ada hubungannya sama Abian!"
"Gue sahabat lo By, gue tau meski lo coba sembunyikan dari gue!"
"Gue mau pulang. Gue rasa pembicaraan kita sudah selesai. Bilang saja jika Abian masuk sekolah lagi, gue sudah pindah sekolah. Jadi dia bisa bebas tanpa gangguan gue lagi. Bilang sama dia, terimakasih selama ini sudah bersedia menjadi sahabat gue!" ucap Ruby sambil beranjak dari duduknya.
"By, please lo jangan kayak gini dong! Sikap lo sekarang kekanakan tau! Semua bisa kita bicarakan baik-baik, By!" Mawar mencoba menahan kepergian Ruby.
"Ya … lo benar, sikap gue memang kekanakan, maka dari itu gue memutuskan untuk segera menikah agar sikap gue bisa berubah jadi dewasa!" pungkas Ruby kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.
"Apa, lo mau nikah?! Lo ngomong apa sih By? lo jangan bercanda deh!" tanya Mawar terkejut dan semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Ruby.
"Gue gak bercanda. Gue serius. Minggu depan gue akan nikah sama bang Dewa. Dan gue juga pindah ke Sekolah tempat bang Dewa saat ini mengajar!"
__ADS_1
"Gue cuma ngasih tau ini sama lo, dan gue harap lo rahasiakan ini dari orang lain. Gue harap lo datang nanti ke acara akad nikah gue yang memang diadakan secara tertutup, bagaimanapun juga status gue masih pelajar. Tapi ingat, tanpa Abian! Gue percaya sama lo, jadi cukup lo saja yang tau!"
Mawar membulatkan matanya tak percaya dengan semua kenyataan yang didengarnya saat ini dari sahabatnya itu. Benar-benar sebuah kejutan yang tidak sedikitpun terlintas dalam pikirannya akan terjadi hal semacam ini.