Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA
Kedatangan Dewa


__ADS_3

*****


Mendengar ucapan Oma nya, Ruby tiba-tiba merasa takut akan kehilangan orang yang sangat menyayanginya itu, muncul kekhawatiran di hati Ruby karena teringat Dewi yang ternyata akan pergi meninggalkannya pun tiba-tiba membicarakan hal yang biasa, meninggalkan pesan-pesan yang awalnya dirasa konyol itu ternyata jadi sebuah amanat yang terakhir dari diri Dewi.


Meski Ruby memang tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi permintaan almarhum sahabatnya itu, tetap saja Ruby selalu terngiang kalimat-kalimat ucapan Dewi dalam pikirannya.


"Oma janji jangan tinggalin Ruby …," lirih Ruby dengan mata yang berkaca kemudian meraih tangan Omanya itu dan mendekap erat di dadanya. Bu Rahma hanya tersenyum kemudian mengusap lembut rambut cucunya itu.


"Apa kamu sudah memiliki perasaan terhadap seseorang?" tanya Bu Rahma menatap serius kepada Ruby. Ditanya seperti itu raut wajah Ruby mendadak bersemu merah, meski dia memang tidak pernah berpacaran dengan siapapun tapi tak bisa dipungkiri jika dalam hatinya telah menyimpan nama seorang pria, yaitu Abian sahabatnya.


"Akh Oma, Ruby masih muda, masih sekolah, tidak ada pikiran untuk pacaran-pacaran dulu. Kan Oma pernah bilang agar Ruby belajar yang baik dan raih cita-cita Ruby setinggi mungkin," jawab Ruby mencoba menutupi perasaan yang sesungguhnya.


"Oma tau … kamu harus meraih impian dan cita-cita kamu sesuai dengan apa yang kamu harapkan, tapi Oma lebih tenang jika disaat kamu berjuang dalam mimpimu itu ada pria yang membersamai langkahmu tapi tentu saja dalam ikatan yang sudah halal. Jika sudah ada yang menjagamu, Oma pasti akan merasa tenang jika kapanpun Tuhan akan memanggil Oma kembali ke pangkuanNya …," ucap Bu Rahma lagi panjang lebar.


"Oma ngomong apa sih Oma, Ruby gak suka!" ketus Ruby malah merinding mendengar semua yang dikatakan oleh Omanya itu.


"Apa kamu mencintai Abian?" tanya Bu Rahma mencoba menebak isi hati dari cucunya itu.


"Akh kok Oma ngomong gitu. Ruby dan Bian itu cuma sahabatan, mana mungkin Ruby menyimpan perasaan sama dia. Kita ini kan sudah seperti saudara!" bantah Ruby tidak mau untuk mengakui perasaan yang sesungguhnya.


"Bian juga pria yang baik, tapi entah kenapa Oma merasa jika Dewa lebih cocok untuk menjadi pendampingmu …."


"Sudah akh, ucapan Oma semakin ngelantur. Ruby mau tidur lagi. Oma juga istirahat karena ini masih larut malam!"


Ruby pura-pura memejamkan matanya agar Omanya berhenti berkata yang tidak-tidak dan segera menyudahi pembicaran mereka berdua yang dirasa Ruby sudah terlalu jauh. Meski saat ini Ruby pura-pura cuek dan tidak mau menanggapi namun di hati Ruby yang sesungguhnya memendam ketakutan yang sangat luar biasa. Ketakutan akan ditinggalkan oleh Oma tercintanya seperti Dewi yang juga pergi meninggal secara tiba-tiba setelah memberi pesan dan amanat terakhir untuk dirinya.


*****


Sudah empat hari Ruby berada di Rumah Sakit, Dokter belum mengijinkan Ruby untuk pulang karena kondisi kesehatannya yang belum pulih. Oma nya yang selalu setia menemaninya, Romy hanya sesekali menemaninya karena kebetulan sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya.

__ADS_1


Sudah tiga hari Ruby tidak bertemu dengan Abian, tentu saja rasa itu teramat sangat menyiksanya. Tak seharipun untuknya tak bertemu atau bertukar kabar dengan Abian, meski hari libur sekolah tiba yang membuat mereka berdua tidak bisa untuk bertemu namun mereka pasti melakukan panggilan video call sebagai pelepas rindu.


Kali ini Abian jangankan menemuinya, membalas pesan atau menjawab panggilannya pun tidak pernah sama sekali. Tentu saja hal itu membuat Ruby jadi meradang, jika kakinya tidaklah sakit ingin sekali ia pergi menemui Abian saat ini juga dan melepas rasa rindunya yang teramat menyesakan dada. Ruby semakin yakin, jika dirinya benar-benar telah jatuh cinta pada Abian, bukan sekedar rasa sayang kepada seorang sahabat yang ia pikir selama ini.


"Kenapa sih Lo gak mau angkat telpon dari gue sih Bian?! Lo ngapain juga mesti takut sama kak Romy?! Gue benci sikap pengecut lo kali ini, gue benci! Lo gak tau apa kalo gue tuh kangen tau sama elo!" gerutu Ruby menahan kesal karena Abian tak juga mau mengangkat telpon darinya itu. Ruby pun beralih mengetik sebuah pesan untuk Abian persis dengan apa yang sedang dikeluhkan nya saat ini.


Setelah selesai Ruby pun mengirimkan pesan itu, tatapan Ruby terus terfokus pada layar ponselnya, berharap garis dua di pesannya tersebut segera berubah menjadi biru dan dibalasnya. Namun beberapa menit menunggu garis dua itu tak segera berubah juga. Hingga akhirnya Ruby tak bisa menahan kesabarannya dan melempar ponselnya itu di atas ranjangnya.


Bu Rahma yang pura-pura tidur di sofa itu sebenarnya memperhatikan gerak-gerik cucunya tersebut, namun Bu Rahma tak mau untuk mengganggunya. Bu Rahma bisa menilai jika sepertinya cucunya itu memang ada perasaan terhadap sahabat prianya itu. Benar memang seperti kata pepatah, laki-laki dan perempuan yang bersahabat dekat, bohong jika salah satunya tak akan menyimpan rasa.


Saat mendengar isak tangis dari cucunya yang berbaring memunggunginya, Bu Rahma pun segera bangkit dan duduk sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan kemudian berdiri dan menghampiri cucunya itu.


"Ruby … kenapa, sayang? Kok kamu nangis?" tanya Bu Rahma sambil mengusap punggung cucunya itu. Ruby pun terlihat mengusap air matanya dan perlahan membalikan tubuhnya menghadap Oma nya itu.


"Ruby cuma kesal, kenapa sih Abian mesti takut sama kak Romy?! Jangankan mau menengok Ruby kesini, mengangkat panggilan dari Ruby pun tidak?! Dasar pengecut!" gerutu Ruby teramat kesal.


"Mungkin Abian hanya sedang sibuk, By … berpikir positif saja, jangan berpikir yang tidak-tidak!" balas Bu Rahma menasehati.


"Bilang saja kamu kangen kan sama Abian?" tanya Bu Rahma malah menggoda, tentu saja pertanyaan itu membuat wajah Ruby langsung berubah merah merona karena Oma nya itu selalu pandai dalam menebak isi hatinya.


"Apa sih Oma?! Ruby hanya kesal sama Abian, Oma!" sangkal Ruby.


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai dia?" tanya Bu Rahma tiba-tiba menatap wajah Ruby dengan seksama.


"Apa sih Oma?"


"Pastikan pria mana yang benar-benar kamu cintai dan bisa membuat kamu merasa tenang dan nyaman berada di dekatnya. Bisa membuatmu bahagia ketika dirinya ada dalam bayangan masa depanmu?" 


"Oma bicara apa sih, mulai ngaco lagi deh pembicaraannya?!" jawab Ruby merasa heran.

__ADS_1


"Cinta memang tidak harus saling memiliki, cinta itu memang hadir tanpa bisa kita prediksi. Tapi orang yang kita cintai, belum tentu juga jadi orang yang bisa kita miliki dan pasti membahagiakan hidup kita … cinta bisa pudar seiring waktu tapi tidak dengan perasaan kasih sayang yang benar-benar tulus dari hati kita yang akan tetap abadi apapun yang terjadi …."


"Jika Oma memintamu untuk segera menikah, apa kamu mau melakukannya untuk Oma?" lanjut Bu Rahma sambil menatap serius pada cucunya yang balik menatapnya dengan mimik wajah terkejut dengan apa yang kini diucapkan oleh dirinya.


"Oma bicara apa sih? Ruby masih sekolah Oma, masa iya Ruby harus menikah? Oma juga kenapa tiba-tiba berkata seperti itu, Oma kesambet apa sih?!" jawab Ruby dengan tak suka menatap heran pada Oma nya.


"Jika tiba-tiba Oma dipanggil Yang Maha kuasa untuk menghadapNya, dan harapan Oma cuma satu yaitu ingin melihat kamu menikah agar Oma merasa tenang karena sudah ada yang menjagamu, apa kamu mau melakukannya untuk Oma?" tanya Bu Rahma sekali lagi dengan tatapan yang penuh harap.


"Oma … Ruby gak suka ya Oma bicara seperti itu! Ruby—," ucapan Ruby terhenti karena tiba-tiba pintu kamarnya itu dibuka dari luar oleh seseorang. Ruby dan Bu Rahma pun serempak langsung menoleh dan ingin melihat siapa orang yang datang. Muncul sosok pria tampan yang tak lain adalah Dewa, kakaknya dari almarhum Dewi sahabat Ruby. 


Dewa masih menggunakan seragam gurunya, sepertinya dia baru saja pulang dari mengajar, di tangan kanannya Dewa membawa sebuah parcel buah-buahan serta satu kantong plastik makanan. Dewa tersenyum sambil mengucapkan salam dengan hormat sambil berjalan mendekat pada Ruby dan juga Bu Rahma.


"Assalamualaikum … maaf saya langsung nyelonong masuk, tadi sempat mengetuk pintu tapi tidak juga ada jawaban, maaf jika saya kurang sopan," ucap Dewa dengan begitu santun dan lembut.


"Waalaikumsalam …." Ruby dan Bu Rahma pun menjawab salam dari Dewa secara bersamaan. Dewa menyalami Bu Rahma dengan mencium punggung tangannya setelah itu memberikan parcel buah serta makanan yang dibawanya.


"Apa kabar Oma? Oma pasti lelah menjaga terus Ruby disini? Ini ada sedikit buah-buahan dan makanan untuk kalian berdua,"


"Alhamdulilah Nak Dewa … Oma baik-baik saja. Terimakasih kamu sudah repot-repot datang kemari dan membawakan kami makanan," jawab Bu Rahma menatap kagum pada Dewa yang tepat berdiri di hadapannya itu. Sejak awal pertemuan pertama dengan Dewa, Bu Rahma memang begitu menyukai sikap dari anak muda tersebut.


"Apa kabar Ruby? Maaf karena Bang Dewa baru sempat menjenguk kamu kemari, beberapa hari ini banyak tamu terus yang berdatangan untuk ikut berbela sungkawa atas kepergian Dewi," ucap Dewa beralih menatap ke arah Ruby.


"Alhamdulilah Ruby sudah lebih baik Bang …."


"Syukurlah jika kondisimu lebih baik.  Abang juga baru sempat ke Sekolah lagi, Abang jadi ingat jika Abang belum sempat jenguk kamu. Maaf jika Abang tidak pernah menghubungi kamu untuk menanyakan kabarmu, bagaimanapun juga kamu mengingatkan Abang kepada Dewi dan hal itu jujur membuat Abang merasa semakin sedih dan terpukul atas kepergian Dewi untuk selamanya," lanjut Dewa terdengar sedih.


"Yang sabar ya Nak Dewa … Oma mengerti perasaanmu. Apalagi kamu pasti sedih sepeninggal Dewi, kamu jadi sendirian saja tinggal di rumah pasti itu membuatmu sangat sedih," balas Bu Rahma sementara Ruby hanya terdiam.


"Iya Oma … dua hari kemarin masih sempat ditemani beberapa saudara jauh, tapi sekarang mereka sudah kembali pulang ke daerahnya masing-masing, Dewa jadi sendiri lagi dan baru terasa sekali betapa menyakitkannya ditinggalkan oleh orang yang kita cintai seperti ini," jawab Dewa menunduk sedih.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menikah saja Dewa … agar ada yang menemanimu untuk kedepannya," ucap Bu Rahma yang membuat Dewa juga Ruby langsung menatap pada Bu Rahma.


__ADS_2