
*****
Dewa tersenyum kecil mendengar perkataan dari Bu Rahma, sementara Ruby terlihat wajahnya menegang karena merasa jika Oma nya itu pasti akan berkata yang tidak-tidak.
"Dewa inginnya begitu Oma, tapi Dewa belum ada calon, he he …," jawab Dewa sambil tertawa kecil.
"Masa pria setampan Nak Dewa tidak ada yang mau. Nak Dewa ganteng, baik, sopan santun, seorang Guru lagi, pasti banyak perempuan yang antri untuk daftar jadi istrinya Nak Dewa …," puji Bu Rahma sambil menatap kagum kepada pria muda di hadapannya itu.
"Setiap manusia pasti memiliki kekurangan Oma, begitu juga saya … Mungkin di mata perempuan yang melihat saya, saya terlihat kurang menarik Oma, buktinya tidak ada yang mau sama saya, he he …," canda Dewa membalas ucapan Bu Rahma.
"Akh … Nak Dewa bisa saja, jika Oma masih muda pasti jatuh cinta pada Nak Dewa, he he …," goda Bu Rahma.
"Aduh Oma ada-ada saja." Dewa jadi terkekeh.
"Kalau menikah sama Ruby bagaimana? Nak Dewa bersedia?" ucapan Bu Rahma barusan tentu saja membuat Ruby dan Dewa sama-sama menatap terkejut pada Bu Rahma.
"Oma ngomong apaan sih! Gak lucu deh Oma! Jangan buat Ruby malu! Emangnya Ruby apaan?!" gerutu Ruby terlihat ngambek, wajahnya terlihat sedikit bersemu merah apalagi saat Dewa melirik ke arahnya sambil tertawa.
"Boleh jika Ruby nya mau, he he!" tentu saja jawaban Dewa membuat Bu Rahma makin tertawa melihat ekspresi Ruby yang mendadak ngambek dengan wajah yang cemberut.
"Tuh By, Dewa mau katanya nikah sama kamu," tawa Bu Rahma semakin menggoda.
__ADS_1
"Oma, gak lucu tau! Apa-apaan sih!" kesal Ruby. "Lagian Ruby masih sekolah, siapa juga yang kepikiran ingin menikah!" lanjut Ruby terlihat semakin kesal.
"Tapi jika Ruby mau, Bang Dewa akan melamar Ruby saat ini juga," goda Dewa membuat Bu Rahma dan Dewa sama-sama tertawa karena merasa lucu dengan sikap Ruby yang terlihat semakin kikuk dan salah tingkah.
"Seandainya itu pun nyata, Oma akan merasa sangat bahagia … jika bisa melihat cucu Oma menikah dengan pria sebaik Nak Dewa …," ucap Bu Rahma dengan nada yang serius, suaranya terdengar penuh harap dan tanpa ada nada bercanda.
Dewa menatap serius pada Bu Rahma, tentu saja hal itu membuat suasana jadi menegang.
"Sudahlah … Oma pergi ke Mushola dulu, Oma belum sholat Dzuhur. Oma titip jaga Ruby sebentar ya. Nak Dewa sudah sholat kan?" ucap Bu Rahma mencairkan suasana yang mendadak berubah tegang. Bu Rahma bertanya seperti itu karena tahu jika Dewa adalah pria yang sangat rajin dalam ibadahnya, karena mereka sempat ngobrol panjang lebar beberapa kali jika Dewa bertandang ke rumahnya untuk menjemput Dewi jika Dewi tak membawa kendaraan.
"Sudah Oma, tadi sebelum pulang Dewa sudah melaksanakan shalat Dzuhur tadi di Mushola Sekolah. Silahkan Oma Sholat dulu dengan tenang dan tidak usah terlalu terburu-buru, Dewa pasti akan menjaga Ruby dengan baik," jawab Dewa dengan hormat.
"Iya Oma, nanti coba Dewa nasehatin Ruby untuk makan."
"Oma kenapa sholat di Mushola, biasanya juga Oma sholat disini?" tanya Ruby heran.
"Mumpung ada Dewa yang menjagamu disini, Oma ingin sholat di Mushola biar lebih khusyu." jawab Bu Rahma.
Bu Rahma pun setelah itu pergi ke luar sambil membawa mukena miliknya untuk pergi ke Mushola di area Rumah Sakit tersebut. Biasanya Oma melaksanakan sholat di ruangan itu, tapi entah kenapa saat itu Oma merasa perlu memberi ruang untuk Ruby dan Dewa untuk bicara berdua saja.
'Ya Allah, semoga apa yang menjadi harapanku bisa terkabul' batin Bu Rahma dalam hatinya sebelum menutup pintu ketika melihat Ruby dan Dewa yang sama-sama tengah menatapnya.
__ADS_1
Sepeninggal Bu Rahma, Dewa duduk di kursi tepat di pinggir pembaringan Ruby. Suasana mendadak menjadi lain dari biasanya, padahal sebelumnya Ruby tidak pernah merasa se canggung itu di hadapan Dewa jika setiap kali mereka berdua bertemu ketika Ruby mengunjungi Dewi di rumahnya, Ruby biasa bercanda, ngobrol dan bertegur sapa dalam canda, tapi kenapa sejak ucapan Oma nya yang menginginkan Dewa jadi pendamping hidup untuk dirinya, kenapa Ruby merasa ada yang aneh dalam dirinya.
"Kamu tahu By … melihat kamu, jujur hati Abang merasa sakit, sakit sekali rasanya jika menyadari kalau Dewi sudah tidak ada lagi berada diantara kita. Rasanya ini terlalu berat, tapi Bang Dewa mencoba ikhlas dengan takdir yang sudah Allah gariskan …," ucap Dewa terdengar sedih, mata teduhnya menatap sayu ke arah Ruby, hingga perlahan mata itu berubah menganak sungai. Terdengar Dewa menghela nafas berat, mencoba melegakan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Bang Dewa yang sabar … Ruby memahami perasaan Abang, karena Ruby juga tentu saja teramat sangat kehilangan Dewi karena Dewi adalah orang terdekat bagi Ruby … Tapi Ruby mencoba untuk ikhlas dan tegar, tidak kebayang jika nanti Ruby sekolah pasti Ruby akan merasa sangat kehilangan karena Dewi tidak lagi berada duduk di samping Ruby, hiks … hiks," isak tangis akhirnya pecah juga dari bibir mungil Ruby.
Ruby berusaha untuk menahan diri untuk tidak bersedih saat menjawab perkataan dari Dewa, mencoba untuk memberi kakak dari almarhum sahabatnya itu kekuatan, tapi nyatanya ujungnya malah dia yang yang menangis dengan tubuh gemetaran.
"Abang merasa benar-benar sangat kehilangan. Saat bangun tidur, Abang pasti bangunin dia karena selalu saja kesiangan, kita saling ngobrol dan bercerita sebelum kita masing-masing berangkat ke Sekolah, tapi sekarang saat terbangun tidak ada siapapun yang Abang temui, bahkan Abang tidak bisa menahan tangis ketika tadi pagi sarapan sendiri tanpa ada lagi kehadiran Dewi, rasanya sakit sekali …," ucap Dewa mencurahkan segala kesedihan di hatinya. Punggung tangannya menyeka butiran-butiran air mata yang mulai menetes membasahi kedua belah pipinya.
"Kita harus sama-sama kuat demi Dewi, Bang Dewa … agar Dewi bahagia jika melihat kita berdua tetap bahagia," ucap Ruby mencoba untuk menenangkan.
"Kamu tahu … beberapa hari ini aku terus bermimpi jika Dewi hadir menemui Abang dengan menggunakan pakaian yang serba putih … dia menasehati Abang untuk tetap tegar tanpa kehadirannya, dan dia juga meminta Abang untuk segera menikah, agar Abang tak merasa kesepian …," lanjut Dewa kali ini sudah terlihat jauh lebih tegar dan tenang.
"Jika menurut Abang permintaan Dewi itu baik untuk Abang, Ruby hanya ikut bisa mendoakan agar Abang bisa segera menikah dengan perempuan yang kini Abang cintai," jawab Ruby sambil tersenyum setelah mengusap sisa-sisa air matanya yang sedari tadi mengalir deras begitu saja.
"Kamu tahu siapa perempuan yang Dewi inginkan untuk Abang nikahi?" tanya Dewa kali menatap serius kepada Ruby, mendengar itu tentu saja Ruby jadi teringat dengan mimpinya tentang Dewi beberapa malam ini, yang menginginkan agar dirinya menikah dengan Abangnya Dewa, jangan-jangan mimpi Dewa pun sama seperti dengan mimpinya, dan perempuan yang Dewa maksud adalah juga dirinya. Tapi rasanya tidak mungkin jika isi dari mimpi mereka kebetulan itu sama.
"Siapa memangnya Bang?" tanya Ruby penasaran meski hatinya mendadak merasa tidak karuan untuk sekedar mendengar jawabannya.
"Perempuan yang diinginkan Dewi untuk Abang segera nikahi itu— perempuan itu adalah kamu, Ruby!"
__ADS_1