
*****
Abian tentu saja panik melihat hal itu.
"Putri kamu kenapa, kok tiba-tiba mimisan? Apa kamu sedang sakit?" tanya Abian terlihat begitu khawatir.
"Iya Nak Bian Putri memang—" Putri terlihat memberi isyarat pada Ibunya agar tidak melanjutkan ucapannya, hingga Bu Mira pun kembali terdiam.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang panas dalam makanya jadi mimisan." Putri memotong kalimat Ibunya yang belum tuntas.
"Sayang, lebih baik kamu istirahat saja di kamar, setelah itu kami minum obat!" titah Pak Darmanto dan langsung diangguki kepala oleh Putri.
Bu Mira dan Pak Darmanto langsung mengantar Putri untuk segera beristirahat ke kamarnya, Abian pun mengekori di belakangnya dengan banyaknya pertanyaan yang saat ini berada di kepalanya tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Putri, sepertinya Putri menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tapi semoga itu hanya perasaannya saja. Dan keadaan Putri pun baik-baik saja.
Setelah meminum obatnya, Putri pun langsung tertidur di ranjangnya dengan tenang, apalagi ada Abian yang menemani di sisinya. Sebelum tertidur Putri berulang kali mengatakan jika dirinya baik-baik saja kepada Abian agar Abian tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Setelah itu Abian pun berpamitan untuk pulang karena merasa lega melihat Putri memang baik-baik saja. Pak Darmanto pun mengantarkan kepulangan Abian sampai di depan rumahnya. Abian merasa bahagia dengan perubahan sikap kedua orang tua Putri yang berbanding jauh terbalik dari sikap mereka sebelumnya.
Malam harinya Abian pun menelpon Putri kembali dan menanyakan keadaannya, Abian tentu saja lega karena bisa mendengar suara Putri yang mengatakan bahwa dirinya itu baik-baik saja. Abian pun terus melakukan panggilan sampai akhirnya Putri tertidur.
__ADS_1
Abian pun berniat hendak memejamkan mata namun dering ponsel yang memang tidak dimatikannya itu mengurungkan kembali niatnya. Abian pun melihat nama Ruby tertera di layar ponselnya dan sedang mencoba untuk menghubunginya. Abian pun membiarkan panggilan tersebut tanpa berniat untuk mengangkatnya ataupun mematikannya.
"Maafin gue By ... gue terpaksa lakuin ini agar kakak lo Romy gak memaksa lo buat pindah sekolah nantinya kalau kita terlihat dekat seperti biasanya, agar kita tetap bisa sama-sama meski kita gak bisa sedekat dulu lagi. Maaf jika gue mungkin nyakitin hati lo By, tapi ini yang terbaik untuk lo juga" ucap Bian bergumam sambil menatap layar ponselnya yang masih tertera nama Ruby yang tanpa henti terus mencoba menghubunginya tanpa henti.
"Wajar juga mungkin jika kakak lo Romy membenci gue By, ternyata kakak lo pernah ada hubungan sama kakak gue, kak Mona ... dan disaat kakak lo sedang cinta-cintanya sama kak Mona, kak Mona malah berkhianat dan meninggalkan kakak lo yang hampir frustasi karena saking kecewanya sama kak Mona. Mungkin itu sebabnya kak Romy tidak pernah dekat dengan cewek manapun, karena dia masih trauma dikhianatin kakak gue ... ku harap lo ngerti situasi ini," lanjut Abian sambil menghela nafas berat karena sesungguhnya ia pun tidak mau bersikap seperti itu kepada Ruby. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Romy mengancamnya.
******
Pagi itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk Ruby, setelah dua minggu lebih dia terbaring di Rumah Sakit, akhirnya dia bisa pulang dan hari ini bisa kembali ke sekolah, meski kakinya belum bisa berjalan normal seperti biasanya. Meski tertatih dan perlahan-lahan tapi setidaknya dia sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tongkat seperti sebelumnya.
Ruby diantar kakaknya Romy menggunakan mobil sampai gerbang depan sekolah, Romy berniat mengantarkan Ruby hingga masuk ke dalam kelas namun Ruby melarangnya karena ingin membuat kejutan pada teman-temannya. Sebelum turun Romy pun berpesan agar Ruby jangan dekat-dekat lagi dengan Abian, Ruby hanya mengiyakannya karena malas berdebat apalagi ini hari pertamanya kembali ke sekolah.
"Ruby!" teriakan Mawar mengalihkan obrolannya bersama dengan teman lainnya. Mawar terlihat girang melihat Ruby akhirnya bisa kembali bersekolah.
"Ruby akhirnya lo sekolah lagi, gue kesepian tau gak sih gak ada lo!" rengek Mawar sambil memeluk hangat tubuh Ruby. "Lo udah sehat beneran, sorry gue seminggu ini sibuk dan gak sempat jenguk dan juga telpon lo. Gue pulang sekolah ikut membantu persiapan pernikahan sepupu gue yang dilaksanakan hari kemarin. Gue juga tiga hari ini ijin gak masuk sekolah By karena lagi sibuk-sibuknya," jelas Mawar panjang lebar masih dalam posisi merangkul Ruby.
"Iya gak apa-apa, gue faham." sahut Ruby.
"Lo jangan marah ya!" rengeknya.
__ADS_1
"Nggak lah, ngapain juga marah. Gue tuh marahnya sama Abian, udah gak jenguk gue sekalipun, telpon gue juga gak pernah diangkatnya. Kesel gue, gak sabar gue pengen nonjok muka dia!" ucap Ruby berapi-api. Ruby memang jengkel atas sikap Abian selama ini yang terus mengacuhkannya, tapi rasa jengkelnya itu tentu saja tidak lebih besar dari rasa rindunya. Ruby rindu sekali ingin segera melihat sosok pria itu yang membuat tidurnya tak pernah nyenyak karena selama hampir dua minggu ini dia tak bertemu.
"Abian ada di kelas lagi sama ayanknya!" sahut Mawar. Mendengar hal itu tentu saja Ruby merasa terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Mawar saat ini. Ruby jadi penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Mawar dengan kalimat 'sibuk dengan ayanknya'.
"Maksud lo, sibuk dengan ayank? Ayank apa dan siapa maksudnya?" tanya Ruby penasaran meski sesungguhnya otaknya juga tidak terlalu bodoh untuk sekedar menangkap isi pembicaraan Mawar, dirinya juga tahu jika sebutan Ayank itu adalah sebutan panggilan untuk orang yang tersayang, tapi bisa saja kan yang dimaksud ayank oleh Mawar adalah plesetan teman pria lain yang juga dekat dengan Abian.
"Ya ampun, gue lupa By gak ngasih tahu lo saking sibuknya gue. Gue belum sempat cerita sama lo. Sorry sorry gue lupa!" jawab Mawar lagi.
"Iya, cerita apa maksud lo?!" tanya Ruby penasaran meski hatinya mendadak merasa tidak enak dengan apa yang akan didengarnya sebentar lagi.
"Abian kan udah punya pacar By! Dia udah jadian sama Putri!" ucap Mawar menjelaskan. Mendengar hal itu tentu saja hati Ruby mendadak terasa perih seperti teriris sebuah sembilu. Sakit, nyeri, panas, rasanya campur aduk menjadi satu. Yang pasti Ruby merasa hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Pu—putri siapa maksud lo? Gue gak ngerti dengan apa yang sedang lo bicarakan?" tanya Ruby dengan terbata, ia mencoba untuk bersikap biasa saja meski tubuhnya mendadak merasa lemas dan tak bertenaga. Rasa sakitnya pun juga sudah tidak tergambarkan seperti apa rasanya.
"Iya jadi kelas kita tuh kedatangan murid baru dan namanya itu Putri, dan tau gak ternyata Putri itu mantan kekasih Abian yang pertama yang sempat putus dulu sebelum kita kenal dia. Dan akhirnya mereka jadian lagi karena mereka dua duanya masih saling mencintai."
Mendengar hal itu tentu saja dada Ruby merasa mendidih dan bergejolak, hatinya rasanya seperti remuk dan hancur berkeping tak tersisa. Padahal Ruby sudah bertekad untuk mengutarakan isi hatinya hari ini kepada Abian, jika dirinya selama ini telah diam-diam jatuh cinta kepadanya. Ruby ingin mengakui semuanya asal hatinya merasa lega, dan Ruby pun sudah siap dengan apapun itu jawaban Abian nantinya, mau diterima atau ditolak yang penting dia sudah mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.
Tapi kenyataannya kini semuanya tak sesuai dengan harapan, belum juga ia bicara semuanya sudah hancur berantakan dengan apa yang didengarnya saat ini. Jika Abian sudah memiliki kekasih hati.
__ADS_1