
****
"Lo kemana aja sih Bian, gue hubungin lo tapi nomor ponsel lo gak aktif-aktif! Gue bener-bener ada perlu penting sama lo! Tapi lo nya susah banget dihubungi!" bentak Mawar begitu melihat Abian berdiri di hadapannya. Sudah tiga hari Abian tidak masuk sekolah, namun Mawar tidak bisa menghubunginya sama sekali, padahal Mawar ingin sekali memberitahukan perihal Ruby kepada Abian tentang kepindahan sekolahnya, terutama tentang rencana pernikahan mendadaknya itu bersama Dewa.
Mawar sudah mencoba mendatangi rumah Abian tapi rumah itu kosong, bahkan Mona kakaknya Abian pun tidak berada di rumah karena sedang pergi ke luar kota, itu menurut penjelasan Bi Idah, wanita paruh baya yang bekerja di rumah Abian yang masih tinggal tak jauh dari rumah Abian. Sementara menurut Bi Idah, Abian sudah tidak pulang ke rumah selama dua hari ini.
"Putri kritis, War. Makanya gue gak sempet pulang," jawab Abian lesu dengan tatapan yang tidak bergairah sama sekali.
"Apa?" jawab Mawar tentu terkejut mendengar kabar tersebut. Niatnya yang ngebet ingin segera cerita masalah Putri jadi tertunda.
"Putri ternyata sakit kanker, War …," lanjutnya lagi dengan kepala yang tertunduk.
"Apa? Putri sakit kanker?" Mawar tak percaya dengan apa yang didengarnya. Abian menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Itulah kenapa orang tua Putri memperbolehkan Putri berpindah agama, mereka ingin mewujudkan semua keinginan Putri di sisa-sisa umurnya yang menurut Dokter tidak akan bertahan lama …," ucap Abian terdengar sedih.
__ADS_1
"Ya ampun, gue gak menyangka jika Putri mengidap penyakit yang mematikan, soalnya gue gak melihat dia seperti orang yang sedang sakit meski memang tubuhnya kurus dan wajahnya sedikit pucat. Terus bagaimana keadaannya sekarang? Tapi menurut Dokter pasti bisa disembuhkan kan?"
"Memang masih ada sedikit harapan, meski rasanya itu mustahil. Kanker di tubuhnya sudah menjalar ke anggota tubuh lainnya,"
"Gue kaget pas mendengar penjelasan itu dari kedua orang tuanya. Pantas saja sikap kedua orang tuanya berubah seratus delapan puluh derajat!" sambung Abian lagi.
"Tidak ada yang tidak mungkin Bian, kita doakan semoga Putri bisa segera sehat kembali," hibur Mawar turut bersedih sambil merangkul pundak sahabatnya itu.
"Gue tadinya gak mau sekolah dan ninggalin Putri, gue takut Putri kenapa-napa. Tapi Bokapnya maksa gue untuk sekolah, jika ada apa-apa nanti gue di kabarin secepatnya," lanjut Abian.
"Ruby sudah pindah sekolah Bian, hal penting itu yang sebenarnya pengen gue sampaikan sama lo kemaren-kemaren, tapi lo susah banget dihubungi!" jelas Mawar.
"Apa, jadi Ruby pindah Sekolah? lo serius?!" Abian membulatkan matanya, tentu saja terkejut dengan apa yang didengarnya saat ini.
"Iya, Bian! Ruby sudah pindah Sekolah, dia gak akan belajar disini lagi," sahut Mawar sedih.
__ADS_1
"Kenapa Ruby mesti pindah sih? Gue justru menghindari dia, ngejauhin dia biar dia gak harus pindah sekolah! Biar gue masih bisa melihat dia setiap hari meski kita gak lagi dekat! Tapi kenapa dia malah pindah sekolah!" ucap Abian dengan nada yang meninggi, dia begitu kecewa dengan langkah yang sudah diambil Ruby tanpa sepengetahuannya.
Abian sudah mencoba menghubungi Ruby tapi sepertinya nomor miliknya sudah diblokir oleh Ruby. Abian sempat mencoba menghubungi Ruby menggunakan nomor lain, tapi tidak pernah diangkat oleh Ruby sama sekali. Mungkin begitu juga perasaan Ruby saat dirinya menghindarinya selama ini, kesal kecewa, dan hal itu juga sempat dirasakan olehnya. Tapi Ruby tidak tahu, justru sikapnya berubah seperti itu karena dirinya tidak mau kehilangan Ruby.
"Dan ada satu hal lagi yang harus lo tahu … tiga hari lagi Ruby akan menikah!"
Mata Abian terbelalak lebar begitu mendengar berita yang disampaikan oleh Mawar saat ini, Abian beranjak bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
"Lo jangan bercanda Mawar!"
"Gue gak bercanda Bian, Ruby beneran akan menikah sama bang Dewa …," jawab Mawar sambil mengecilkan suaranya, karena takut jika perkataannya didengar oleh teman-teman lainnya, karena Mawar ingat kabar itu jelas harus dirahasiakannya.
"Apa, sama bang Dewa kakaknya Dewi? bagaimana bisa?" ucap Abian setengah berteriak hingga aksinya menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang ada disana.
"Gue gak tau Bian, tapi kali ini serius dan gue gak bercanda! Gue kemarin ke rumahnya Ruby, dan disana memang sudah ada persiapan untuk pelaksanaan akad nikah Ruby, meski acaranya akan diadakan secara tertutup," bisik Mawar karena takut ucapannya terdengar siswa yang berada tepat di belakangnya.
__ADS_1
"Gak mungkin, ini gak boleh terjadi! Ruby pasti dipaksa oleh Romy!" geram Abian. "Gue harus temui Ruby!" tekad Abian kemudian ia mengambil tas dan pergi berlalu dari ruangan kelasnya itu tanpa memperdulikan Mawar yang berteriak memanggilnya.