Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA
Permintaan Abian


__ADS_3

*****


Setelah merasa cukup berbicara dan selesai menyantap makanan yang sudah dipesan oleh Abian tadi, mereka berdua pun segera berniat pulang, apalagi waktu sudah menjelang sore.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, akhirnya Abian dan Putri pun sampai di depan sebuah rumah yang cukup mewah berlantai dua. Putri memang berasal dari keluarga yang cukup berada, beda dengan dirinya yang berasal dari keluarga yang sederhana, meski bisa dibilang cukup berada karena memiliki beberapa kios serta usaha tapi tidak sekaya keluarga Putri tentunya. 


Setelah turun dari motornya, Putri membawa Abian masuk ke dalam rumahnya. Putri menyuruh Abian duduk di sofa mewah yang berada di ruang tamu utama di rumah tersebut setelah seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah itu membukakan pintu untuk mereka berdua.


Putri pun pamit untuk masuk dan memberitahukan kedatangan Abian kepada kedua orang tuanya. Papanya Putri sepertinya sudah pulang karena mobilnya sudah terparkir di garasi, Abian pun mengiyakan sementara hatinya mulai berdebar tidak karuan, mencoba mulai mengumpulkan dan merangkai kata untuk disampaikan nanti kepada Papanya Putri jika ia bertemu nanti.


Apalagi jika mengingat pertemuan terakhir mereka berdua dulu yang mencaci makinya agar menjauhi Putri anaknya, membuat nyali Abian agak menciut. Tapi demi rasa sayangnya kepada Putri, Abian pun harus siap dan harus bisa menerima apapun resikonya nanti.

__ADS_1


Terdengkar suara langkah beberapa orang yang berjalan mendekati ruang tamu tempat berada dirinya saat ini. Jantung Abian berdetak lebih cepat dari biasanya seperti sedang lari marathon saja.


Muncul sosok Papa nya Putri dan Mamanya serta Putri sendiri yang berjalan di belakang mereka berdua. Dengan wajah yang mulai terasa memucat, Abian pun berdiri dan menyambut kedatangan mereka untuk langsung menyalami nya. Melihat wajah Papanya Putri yang memang berwajah sedikit sangar membuat Abian merasa ragu untuk menyapa dan menyalami nya, namun sebagai pria sejati dia pun harus berani melakukannya.


"Apa kabar Om?" sapa Abian dengan hormat mengulurkan tangan untuk menyalami pria paruh baya itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Abian terdiam karena uluran tangannya tidak juga tersambut hingga membuat debaran jantungnya kian berdetak cepat tak menentu, menduga jika dirinya tidak mendapat sambutan yang baik dari orang tua wanita yang dicintainya itu.


"Alhamdulilah baik, Om." jawab Abian tersenyum. Abian pun beralih menyalami mamanya Putri, wanita paruh baya itu langsung menyambut uluran tangannya dengan sambutan ramah membuat Abian semakin percaya diri karena kedua orang tua Putri setidaknya sudah bersikap baik terhadap dirinya, tidak seperti dulu. Mungkin benar apa yang Putri ucapkan jika kedua orang tuanya memang telah berubah dan mendukung segala keputusannya.


"Silahkan duduk Nak Abian, kamu mau minum apa? Biar nanti kami suruh bi Rasti untuk membuatkannya?" tanya Mamanya Putri sambil mendudukkan pantatnya di sofa empuk miliknya itu.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot Tante, saya hanya ingin berkunjung ke rumah Om dan Tante, tidak menyangka akhirnya kita bisa bertemu kembali," ucap Abian berbasa-basi.


"Iya Abian, mohon maaf atas segala sikap kami terdahulu, kami bersikap seperti itu hanya ingin yang terbaik untuk kami Putri, tapi sekarang kami sadari jika semua hal tidak bisa dipaksakan meski kepada anak kandung sendiri, dia berhak memilih jalan hidupnya sendiri," ucap Papa Putri panjang lebar memohon maaf atas kesalahannya di masa lalu.


"Tante juga minta maaf karena dulu selalu bersikap kasar sama kamu," ucap Mama Putri dengan sungguh sungguh.


"Iya Om, Tante … Abian yang seharusnya minta maaf … Om dan Tante tidak salah, saya yang salah," jawab Abian tetap merendah meski memang jika mengingat sikap mereka terhadapnya saat dulu cukup sangat menyakitkan.


"Maaf Om, Tante saya mengajak Putri dulu tadi untuk main ke danau sepulang sekolah tadi," Abian mencoba mengawali percakapan demi mengutarakan niatnya tersebut.


"Tidak apa-apa Abian, kami percaya kok sama kamu bisa menjaga Putri dengan baik," ucap Pak Darmanto sambil memberikan sebuah senyuman tulus. Abian merasa itu seperti sebuah mimpi karena jauh berbanding terbalik dengan sikapnya yang terdahulu, jangankan mengizinkan Putri untuk bersamanya, bahkan untuk memberi sebuah senyuman saja seperti sesuatu yang sangat mahal harganya, jika menatapnya seperti seekor hewan buas yang akan siap menerkam mangsanya.

__ADS_1


__ADS_2