
*****
Ruby termenung memikirkan kata-kata Kakaknya Romy tersebut, rasa khawatir dalam hatinya semakin besar.
"Siapa juga yang mau menikah sama Abian, kami kan cuma sahabatan ?!" gerutu Ruby memasang wajah cemberut, pura-pura ngambek untuk menutupi kegelisahan hatinya yang sesungguhnya.
"Iya Kakak tau … lagi pula siapa yang mau nikah sama kamu, cewek manja begitu mana ada yang mau jadiin kamu sebagai istrinya," ledek Romy.
Ruby menunduk, sebetulnya bukan ledekan Kakaknya itu yang membuat hatinya menjadi resah, tapi ucapan Oma nya yang terus menerus disampaikan olehnya itu yang membuat hati Ruby semakin gelisah.
"Apa Kak Romy tidak merasa khawatir dengan ucapan berulang yang terus disampaikan oleh Oma kepada kita? jujur kenapa aku begitu gelisah memikirkannya," ucap Ruby pelan.
"Sedari tadi aku bilang, Kak Romy juga khawatir dan jelas memikirkan hal ini. Hal yang tidak biasa dilakukan oleh Oma, apalagi mengatakan untuk menyuruh kamu menikah, bukankah selama ini Oma selalu menyuruh kita dan terutama kamu untuk giat belajar agar bisa meraih cita-cita. Tapi kenapa sekarang—" Romy menggantung ucapannya, terlihat gurat kekhawatiran di wajahnya.
"Tapi sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Kamu tidurlah. Kakak semalaman tidak bisa tidur di rumah karena harus memeriksa laporan keuangan Cafe bulan ini. Kakak ngantuk, kamu juga tidurlah!" ucap Romy kemudian kembali membaringkan tubuhnya di sofa, memejamkan matanya dan tidak menghiraukan Ruby yang saat ini masih terus menatapnya.
Ruby menghela nafas berat, ia pun kembali merebahkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya meski pikirannya berkelana entah kemana.
*****
Sementara itu Bu Rahma dalam perjalanan menuju rumahnya bersama Dewa, obrolan santai terus terdengar menemani sepanjang perjalanan mereka menuju kediaman rumah Bu Rahma yang sebentar lagi hampir tiba.
"Nak Dewa, apa benar kamu belum memiliki seorang kekasih atau calon istri untuk Nak Dewa?" tanya Bu Rahma kali ini mengarah ke obrolan yang terdengar serius berbeda dengan obrolan sebelumnya.
"Belum Oma, Dewa malah selama beberapa tahun ini Dewa belum pernah dekat dengan perempuan manapun Oma," sahut Dewa menatap sekilas pada Bu Rahma kemudian kembali fokus ke depan menatap jalan raya di depan kemudinya.
"Bagaimana Ruby menurutmu?" tanya Bu Rahma kemudian.
"Ruby? Maksud Oma, memangnya kenapa dengan Ruby, Oma?" tanya Dewa tak memahami ucapan Bu Rahma.
"Maksud Oma, apa menurutmu Ruby itu gadis yang baik, apa kira-kira kamu tertarik sedikit saja kepada Ruby. Entah itu sikapnya atau wajahnya?" tanya Bu Rahma dengan polosnya.
Dewa tersenyum mendengar ucapan Bu Rahma, kemudian Dewa tertawa kecil.
__ADS_1
"Ruby gadis yang cantik dan manis Oma, sikapnya juga santun dan lembut di era zaman sekarang dimana banyak anak muda yang sudah tidak mengutamakan etika dan kesopanan, aku suka dengan sikapnya," jawab Dewa sedikit memberi pujian untuk menyenangkan hati Bu Rahma.
"Hanya sebatas itukah? Apa sedikitpun Nak Dewa tidak menyukai Ruby dalam artian sukanya seorang laki-laki terhadap seorang perempuan?" tanya Bu Rahma terlalu jujur mengungkapkan pertanyaan dalam isi hatinya.
"Ruby sudah kuanggap seperti adikku Oma, mana mungkin Dewa sempat berpikir seperti itu," sahut Dewa.
"Tapi jika Oma meminta kamu menikahi Ruby, apa kamu akan mau memenuhi permintaan Oma?" tanya Bu Rahma dengan tatapan penuh harap kepada Dewa.
Dewa sejenak menghentikan laju kendaraan yang sedang dikemudikannya, kebetulan sudah mulai memasuki jalan komplek menuju kediaman rumah Bu Rahma yang tinggal beberapa kilometer lagi segera tiba.
******
Ini adalah hari ketiga Putri sekolah di tempat yang sama dengan Abian. Abian tentu sangat bersemangat menjalani hari-harinya apalagi sekarang selalu bertemu dan bersama-sama dengan perempuan yang masih bertahta dalam hatinya itu.
Mawar pun membiarkan Abian dan Putri untuk lebih dekat, meski Mawar sahabat dekat Abian, ia tidak mau mencampuri urusan sahabatnya itu. Mawar akan membersamai keduanya jika diminta, namun Mawar juga tau diri dan memberi ruang jika Abian seperti ingin bicara empat mata saja bersama Putri.
Hari itu jam pulang sekolah pun tiba, Mawar sudah pulang lebih dulu dengan menggunakan motor matic yang dibawanya, sementara Abian masih menemani Putri menunggu jemputan dari sopir pribadinya yang entah kenapa belum tiba di sekolah sebelum jam pulang tiba.
"Ya sudah, aku minta izin sama mama dulu. Takutnya nanti beliau khawatir jika aku belum pulang," jawab Putri memberi secerca harapan pada Abian.
Putri pun mengambil ponselnya dan terdengar menghubungi Mamanya dan memberitahukannya jika Putri akan telat pulang dalam satu jam, dan Putri pun menitipkan pesan agar sopir pribadi Papanya itu tidak usah menjemputnya. Awalnya Mamanya Putri sepertinya tidak mengizinkan namun setelah diyakinkan oleh Putri bahwa dia akan baik-baik saja, akhirnya Putri pun mendapatkan izin sesudahnya.
Putri tersenyum dan menatap ke arah Abian dan memberikan jawaban dengan sebuah anggukan, pengganti kalimat jika dirinya telah mendapatkan izin dari mamanya.
Wajah Abian pun terlihat langsung sumringah, dia pun segera membawa Putri dengan motornya menuju tempat yang telah disebutkan tadi olehnya. Sebuah danau tempat wisata yang cocok untuk tempat ngobrol santai sambil disuguhi pemandangan air danau yang sejuk dan menenangkan.
Tak butuh berapa lama Abian dan Putri pun langsung tiba di sebuah danau yang disebutkan olehnya tadi. Putri merasa gembira setibanya di danau tersebut, mereka pun segera mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol setelah memarkirkan motor di tempat yang tersedia dan membayar tiket masuknya.
Danau itu tidak terlalu ramai pengunjung, hanya terlihat beberapa pasang remaja yang sedang duduk ngobrol di gazebo-gazebo yang tersedia di sekelilingnya. Abian pun mencari gazebo yang letaknya tak begitu jauh dari tepian danau. Setelah mendapatkan tempat yang diinginkan mereka pun segera duduk disana.
Abian menanyakan kepada Putri makanan apa yang ingin di pesannya, karena kebetulan di area itu terdapat sebuah cafe sederhana dimana makanannya boleh dipesan dan akan diantarkan menuju tempat mereka duduk saat ini.
Abian pun pergi sebentar meninggalkan Putri untuk memesan makanan yang diinginkan oleh mereka berdua, tak berselang lama Abian pun sudah kembali.
__ADS_1
"Putri, ada yang ingin aku bicarakan denganmu saat ini," ucap Abian menatap serius ke arah Putri.
"Apa Bian?" sahut Putri dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya tentu saja diiringi debaran halus dalam dadanya. Selama tiga hari di sekolah, Abian tidak pernah berbicara seserius ini, hanya obrolan santai dan canda-canda biasa.
"Apa saat ini kamu sudah memiliki seorang kekasih? Apa setelah kita berpisah, ada yang menggantikan posisi aku dalam hatimu?" tanya Abian menatap dalam manik mata Putri yang begitu terlihat sendu.
"Tidak Abian … sejak kita berpisah, aku tidak memikirkan sama sekali tentang hal itu. Yang ada dalam pikiranku hanya ingin belajar dan sekolah dan tentu saja belajar juga melupakanmu," jawab Putri dengan penuh kejujuran.
"Jadi kamu belum memiliki kekasih lagi? Belum ada orang lain setelahku yang mengisi hatimu untuk menggantikan posisiku?" tanya Abian sekali lagi. Putri menggelengkan kepala sebagai pengganti jawaban.
"Kita saat itu memang terlalu dini untuk mengenal cinta, Abian … kita masih terlalu muda. Aku memang mencintaimu saat itu dengan tulus, tapi setelah lama aku memang menyadari jika belum saatnya aku mengenal cinta yang pada akhirnya hanya membuat hatiku jadi terluka," jawab Putri kemudian.
"Apa kamu masih selalu mengingatku Putri? Seperti aku yang sampai saat ini pun begitu sulit melupakanmu. Tapi untungnya disini aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang baik hingga mereka bisa membuat aku bangkit dari rasa terpuruk aku setelah aku kehilanganmu. Aku mengenal Mawar, juga Ruby yang saat ini masih terbaring di Rumah Sakit karena baru mengalami kecelakaan bersama salah satu sahabat kami yang lainnya bernama Dewi, namun Dewi tidak tertolong dia meninggal dunia di tempat, " ucap Abian menjelaskan panjang lebar.
"Tentu saja Bian, aku masih mengingatmu … tapi keadaan harus membuatku berusaha melupakanmu. Sudahlah, tidak perlu membahas hal yang sudah kita lewati, itu hanya akan membuka luka lama untuk kita berdua nantinya," jawab Putri.
"Kamu bilang sahabat kamu Ruby dan Dewi itu mejanya yang aku tempati sekarang kah?" tanya Putri kemudian.
"Iya, itu tempat duduk Ruby dan Dewi tadinya. Jika nanti Ruby sudah sehat dan kembali sekolah, kamu jadi ada temannya nanti," jawab Abian. "Tenang saja Ruby sahabat yang asyik kok nanti kalian berdua juga pasti akan langsung cepat akrab," lanjutnya lagi.
"Put aku mau bilang sesuatu sama kamu … jika … jika kamu—" Abian memotong ucapannya, ia sedikit ragu untuk kembali melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Bian?" tanya Putri penasaran karena yang akan disampaikan oleh Abian sepertinya sangat penting.
"Itu Put … mmmm … jika kamu belum memiliki seseorang di hatimu, maukah kamu kembali menjalin hubungan bersamaku kembali seperti dulu?" tanya Abian mencoba memberanikan diri untuk mengatakannya meski hatinya merasa ragu.
Putri hanya terdiam dan belum menjawab apa yang baru saja dikatakan oleh Abian. Putri hanya terdengar menghela nafas panjang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah danau yang airnya terlihat begitu tenang.
"Aku tidak mau, jika kamu akan merasakan kehilangan lagi untuk kedua kalinya Bian … bukankah rasa kehilangan itu begitu sangat menyakitkan." Hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir Putri tanpa ada sebuah kepastian di dalamnya.
"Kita belum memulai kenapa kamu malah sudah mengatakan lagi tentang sebuah kehilangan," jawab Abian tak mengerti.
"Jujur, sampai saat ini aku masih menyayangi kamu Bian … tapi aku tidak yakin jika kita selamanya tetap akan bisa bersatu. Bagaimana jika nanti kita berpisah, bagaimana jika kamu akan kehilangan aku lagi? Bagaimana jika nanti aku akan pergi meninggalkan kamu, sudah siapkah kamu untuk kehilangan aku untuk kedua kalinya? " jawab Putri dengan manik mata yang kini sudah berkaca-kaca.
__ADS_1