
Bolehkah saya berteman dengan Putri lagi Om dan Tante?" tanya Abian memberanikan diri, meski Abian hanya mampu mengucapkan kalimat teman atas hubungan yang ingin ia bina bersama Putri, padahal sesungguhnya ia ingin lebih sekedar itu, sama seperti dulu.
"Tentu saja boleh. Kami sangat senang pas mengetahui dari cerita Putri jika Putri satu sekolahan sama kamu, bahkan satu kelas. Dengan itu Putri tidak akan merasa sendirian di Sekolah itu karena belum memiliki teman yang dikenalnya. Jadi Tante titip Putri ya Abian." kali ini Mamanya Putri yang berbicara.
"Iya Tante, Abian juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Putri lagi. Mungkin sudah takdir Tuhan jika ceritanya harus seperti ini," jawab Abian.
"Tolong bimbing dia untuk lebih mengenal agamanya yang sekarang. Om tidak bisa menghalangi keinginan Putri lagi, karena itu hak Putri untuk memilih yang terbaik untuk hidupnya. Putri berhak bahagia dengan semua yang diinginkannya asal itu baik untuknya," lanjut Pak Darmanto.
"Iya Om, Bian sebisa akan sama-sama belajar sama Putri, karena imanku pun masih hanya seujung kuku," jawab Abian tetap merendah.
"Kamu anak baik, Om percaya itu …."
__ADS_1
Abian melirik sekilas kepada Putri,untuk menanyakan apakah ia harus mengatakan hal itu kepada orang tua Putri untuk meminta izin membina hubungan seperti dulu bersamanya dengan memberi isyarat lewat mata dan pergerakan anggota tubuhnya. Putri pun memahaminya dan ia pun mengangguk sebagai jawaban jika ia memperbolehkan untuk Abian berbicara saat ini juga.
"Begini Om, mmm …," Abian terdiam sejenak karena bingung dan ragu untuk mengatakannya.
"Begini Om, apa … apa saya boleh menjalin hubungan lagi bersama Putri seperti dulu. Saya sungguh-sungguh mencintai Putri Om. Bahkan sejak aku berpisah dengan Putri, aku sama sekali tidak bisa melupakan Putri. Apa … apa Om akan memperbolehkan?" tanya Abian dengan terbata, ia merasa sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya agar kalimat kalimat tersebut berhasil meluncur dari bibirnya.
Pak Darmanto menatap Abian dengan seksama, kemudian beralih menatap istrinya dan juga Putri yang terlihat sesekali menunduk karena tak mampu beradu dengan tatapan orang tuanya.
"Om izinkan kamu untuk kembali menjalin hubungan dengan Putri, asal kamu jaga Putri baik-baik dan jangan sakiti perasaannya. Ingat batasan-batasan yang perlu kalian tepati. Jangan pernah melanggar norma agama, dan ingat juga jika kalian sedang sekolah, jangan sampai terjadi hal yang tak diinginkan!"
Saat itu tiba-tiba Putri terdengar mengaduh, ia memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing. Melihat itu tentu saja kedua orang tuanya menjadi panik, terutama Mamanya yang langsung mendekat dengan cemas.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kepala kamu pusing?" tanya Bu Mira dengan nada yang khawatir.
"Iya Mah, sedikit," lirih Putri sambil memijat pelipisnya.
"Sebaiknya kamu segera istirahat, minum obatnya." Pak Darmanto terlihat begitu khawatir.
Abian pun mendadak cemas dalam balutan rasa kebahagiaan yang dirasakannya itu, ia pun mendekat dan menghampiri Putri untuk menanyakan apa yang dirasakan olehnya kini.
"Put kamu kenapa?" tanya Abian khawatir apalagi melihat wajah Putri yang terlihat semakin memucat.
"Gak apa-apa Bian, aku cuma pusing sedikit saja," jawab Putri sambil memejamkan mata untuk mengurangi rasa sakitnya.
__ADS_1
Tiba-tiba hidup Putri mendadak mengeluarkan darah, Abian pun memekik dan memberi tahu jika hidung Putri kini mimisan dan mengeluarkan darah. Bu Mira langsung berteriak memanggil Asisten Rumah Tangganya untuk segera mengambilkan tisu.
Suasana yang tadinya membahagiakan mendadak menjadi kacau. Abian tak mengerti kenapa Putri yang tadi baik-baik saja mendadak jadi seperti ini.