Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA
Kebesaran Hati Dewa


__ADS_3

*****


"By, gue ke Rumah Sakit dulu. Putri keadaannya kritis, nanti kita bicara lagi!" ujar Abian dengan wajah yang berubah terlihat panik. Ruby tidak menjawab dan membiarkan Abian pergi begitu saja.


"Gue sayang lo, By!" ucap Abian sebelum ia menghidupkan motornya hingga akhirnya Abian pergi berlalu meninggalkan Ruby yeng berdiri dalam kebimbangan.


Ruby terdiam, semua yang dikatakan oleh Abian tadi membuat hatinya bimbang. Benarkah Abian mencintainya? Lalu Putri dan bagaimana dengan rencana pernikahannya yang tinggal dua hari lagi?


"Kok Abian sudah pulang?" suara Dewa tentu saja mengejutkan Ruby yang saat ini sedang termenung.


"Dia katanya mau ke Rumah Sakit," jawab Ruby berusaha bersikap seperti biasanya dan menutupi kegelisahan dalam hatinya yang sesungguhnya.


"Kenapa, kalian berdua sepertinya ada masalah?" tanya Dewa menatap serius ke arah Ruby. Ruby menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Bang Dewa malah ngebiarin Ruby ngobrol sama Abian, memangnya Abang gak cemburu melihat calon istrinya dekat sama cowok lain?" Ruby malah balik bertanya.

__ADS_1


"Kenapa harus cemburu? kan Abang sudah tau kalian itu bersahabat sudah lama, bahkan dia lebih dekat sama kamu dari pada Abang sendiri," jawab Dewa santai.


"Kok abang gitu, mentang-mentang mau nikahi Ruby tanpa ada perasaan cinta, jadi Abang masih ngebiarin aja Ruby deket sama cowok lain?!" cerus Ruby.


"Bukan gitu maksud Abang By … Bang Dewa justru memberi kamu kebebasan untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk Ruby sendiri, sebelum kamu benar-benar memutuskan menikah sama Bang Dewa, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya …," ucap Dewa dengan serius.


"Maksud Bang Dewa?" tanya Ruby tak mengerti.


"By … dengarkan Abang! Mari kita bicarakan hal ini sebentar sebelum Bang Dewa pulang agar kamu masih bisa kembali memikirkan, memilih kemudian memutuskan yang terbaik untuk dirimu!" ajak Dewa meraih tangan Ruby dan mengajaknya untuk duduk di kursi teras depan yang tak jauh dari tempat mereka duduk saat ini.


"Dua hari lagi kita akan menikah, kamu masih punya waktu untuk memikirkannya lagi dan membatalkannya jika memang kamu belum yakin atas keputusan itu," ucap Dewa.


"Bukan begitu, By … Abang tahu jika kamu cinta kan sama Abian? Begitu juga Abian sama kamu, apa benar begitu?" Ruby tentu saja kebingungan saat mendengar pertanyaan yang menyudutkannya saat ini.


"Tidak Bang Dewa, bagaimana Abang bisa menilai seperti itu?!" bantah Ruby.

__ADS_1


"Abang juga tidak bodoh Ruby! Abang juga bisa melihat dan menilainya dari sikap kalian berdua itu!" 


"Ruby sama Abian cuma sahabatan kok, gak lebih! Sudahlah kok Abang jadi nyudutin Ruby sih?! jika Bang Dewa memang tidak mau menikahi Ruby, ya sudah!" gerutu Ruby terlihat kesal. Dewa terkekeh melihat sikap Ruby saat ini yang cemberut dan membuang muka ke arah lain.


"By, lihat Abang!" titah Dewa sambil menangkup wajah Ruby agar mau menatapnya. Sesaat tatapan mereka kini terkunci, ada desiran halus yang dirasakan oleh Ruby ketika tatapan pria dewasa itu menatap dalam pada dirinya. Ruby salah tingkah lalu menundukan kepalanya, tak kuasa lama-lama beradu pandang dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.


"Aku mencintai kamu Ruby …," ucap Dewa terdengar sungguh-sungguh. Mendengar itu Ruby langsung mengangkat wajahnya dan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Meski Dewa memang mau menikahinya, tapi Ruby tahu jika pria itu sesungguhnya tidaklah mencintainya.


"Bang Dewa jangan bercanda, ini gak lucu!" sahut Ruby.


"Abang serius, By … Abang memang mencintaimu dari dulu meski entah sejak kapan perasaan itu tiba-tiba hadir begitu saja tapi Abang selalu coba berusaha menepisnya karena Bang Dewa tahu perbedaan diantara kita berdua dan Dewi pun tahu akan hal itu, mungkin itu sebabnya Dewi menyuruhmu untuk mau menjadi bagian dari hidup Abang karena dia memang tahu jika Abang memiliki perasaan terhadapmu …."


Ruby merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Abang bahagia saat mendengar kamu, Oma meminta Abang menikah denganmu, karena itu memanglah harapan Abang selama ini. Tapi Abang juga tidak boleh egois, jika kamu memang tidak mencintai Abang dan lebih mencintai orang lain, Abang rela melepasmu asalkan kamu bisa bahagia. Karena bukti cinta yang sesungguhnya adalah, ketika kita rela berkorban demi melihat orang yang kita cintai itu bisa hidup bahagia, meski kita harus merasakan terluka karena harus melepasnya …."

__ADS_1


"Kita batalkan pernikahan ini, dan kamu berbahagialah dengan orang yang benar-benar kamu cintai. Abang rela, asalkan kamu bisa hidup bahagia …."


Rasa haru membuat Ruby meneteskan air matanya ketika mendengar semua yang diucapkan oleh Dewa, tapi ada rasa tidak rela ketika Dewa seolah ingin melepasnya. Ruby berdiri kemudian mendekat dan memeluk pria itu setelah memintanya untuk berdiri.


__ADS_2