
Meski Ruby sudah menebak jika jawabannya akan sama seperti dengan dugaannya tapi tetap saja Ruby merasa tetap terkejut mendengar ternyata isi mimpi mereka itu ternyata sama, bahkan Oma nya pun memimpikan hal yang sama juga. Apa ini hanya sebuah kebetulan, ataukah memang itu benar-benar permintaan Dewi agar segera dilaksanakan.
"Mungkin itu hanya bunga mimpi, Bang, karena Bang Dewa teringat terus kepada Dewi!" balas Ruby meski jujur hatinya pun merasa heran.
"Tapi ini bukan hanya sekedar mimpi, By … Dewi … Dewi sempat mengutarakan hal itu juga sebelum dia berangkat ke puncak bersama kalian saat itu sampai akhirnya dia meninggal karena kecelakaan," jelas Dewa. Mendengar hal itu tentu saja Ruby terkejut, karena ternyata selain kepadanya, Dewi juga ternyata mengatakan hal itu kepada Dewa.
"A—apa memangnya yang sempat Dewi katakan pada Bang Dewa?" tanya Ruby dengan terbata, merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Dewi meminta agar Abang menikahi kamu. Agar kamulah yang menjadi pendamping hidup Abang selamanya …," ucap Dewa dengan jujur.
"Bahkan, kamu ingat kan sekitar seminggu yang lalu saat Abang ulang tahun dan kita makan bersama di rumah Abang, sepeninggal kamu Dewi pun tiba-tiba mengatakan hal itu untuk pertama kalinya. Dewi mengatakan jika dia menyayangi kamu dengan tulus sudah seperti pada saudara, dia akan merasa bahagia jika kamu menjadi saudaranya yang sesungguhnya jika kamu menikah sama Abang. Dewi bilang, dia pasti bahagia jika melihat kamu ada yang menjaga dan menyayangimu seperti Abang menjaga dan menyayanginya," ucap Dewa panjang lebar.
Ruby memalingkan muka ke arah jendela, ia merasa kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
"Jujur saja Bang Dewa, Dewi pun mengatakan hal yang sama ketika kami berada di puncak sebelum perjalanan pulang, sampai akhirnya kami berdua mengalami kecelakaan. Aku merasa heran dan aneh dengan semua perkataannya saat itu, aku anggap semua itu lelucon saja, dan aku tidak pernah menyangka jika itu akan menjadi amanat juga pesan terakhirnya," ucap Ruby menjelaskan.
Mendengar itu Dewa pun tentu terkejut karena ternyata selain kepadanya, Dewi pun ternyata mengatakan itu kepada Ruby juga.
"Dan Ruby juga mengalami mimpi yang sama seperti Bang Dewa selama beberapa malam ini. Ruby tidak mengerti sebenarnya apa maksud dari semua ini," lanjut Ruby terlihat seperti sangat kebingungan.
"Jadi Dewi pun mengatakan semua itu pada kamu juga? Apa hal itu benar-benar menjadi harapan terbesar dalam dirinya," ucap Dewa merasa tak mengerti dengan semua kejadian ini.
"Ruby juga tidak tahu Bang, apa maksud semua ini? Tapi sudahlah jangan terlalu dipikirkan, mungkin Dewi mengatakan itu kepada kita saking sayangnya Dewi kepada Ruby dan juga Abang, jadi ingin sekali melihat kita selalu berbahagia. Abang juga pasti sudah memiliki seseorang, dialah yang harus Abang nikahi. Jangan pikirkan ucapan Dewi, dengan siapapun Abang menikah, asal Abang bahagia Dewi pun pasti akan ikut berbahagia," jawab Ruby sambil tersenyum berusaha mencairkan suasana ketegangan yang sempat ada.
"Iya Bang, Ruby juga kan adik Abang," balas Ruby. Ruby pun teringat Oma nya yang ternyata belum juga kembali padahal obrolannya bersama Dewa rasanya sudah sangat cukup lama.
"Oma kemana ya, kok belum kembali?" ucap Ruby dengan cemas.
__ADS_1
"Mungkin Oma melaksanakan wirid dan mengaji dulu, pastinya butuh waktu lama," jawab Dewa.
"Ya sudah ayo makan dulu, kata Oma kamu belum makan dari kemarin. Ingat kamu harus sehat, harus cepat sembuh biar cepat pulang dan kembali sekolah. Ingat, manfaatkanlah waktu hidup kita yang tersisa sebaik mungkin sebelum akhirnya kita dipanggil oleh Yang Maha Kuasa!" titah Dewa menasehati.
"Iya, Ruby sekarang akan makan," jawab Ruby sambil berusaha mengambil jatah makan yang tadi sudah diberikan oleh petugas Rumah Sakit untuk makan siangnya, yang belum Ruby sentuh sama sekali. Rasa kecewa dan rindunya terhadap Abian membuat dirinya sangat tidak berselera untuk makan.
Dewa membantu mengambilkan makanan itu yang dikemas di dalam wadah.
"Biar Bang Dewa yang suapin!" ucap Dewa sambil mengambil satu sendok bubur dan sayuran serta ayam yang menjadi teman lauknya untuk segera diberikan kepada Ruby.
"Tidak usah Bang, Ruby bisa sendiri!" tolak Ruby berniat mengambil wadah makannya itu dari tangan Dewa.
"Sudah, kamu duduk manis saja. Biar Abang yang suapin. Jika kamu sendiri yang makan, nanti malah gak habis. Ingat ya, kamu harus sehat dan segera pulang dari sini!" cegah Dewa dan tetap bersikeras ingin menyuapi Ruby agar mau menghabiskan makannya itu.
__ADS_1
Ruby pun dengan terpaksa mau disuapi oleh Dewa hingga sedikit demi sedikit makanan itu perlahan habis tak tersisa.
Pintu terbuka dari luar, dan muncul Bu Rahma dengan wajah yang terlihat memiliki aura yang berbeda dari sebelumnya. Bu Rahma tentu saja merasa sangat senang dan bahagia melihat pemandangan saat ini di depannya. Ketika Dewa sedang telaten menyuapi Ruby cucunya.