
******
Ruby tentu merasa sangat kecewa karena sikap Abian yang masih selalu terus mengacuhkannya. Ruby memiringkan tubuhnya kemudian mulai terisak dalam tangis yang berusaha disembunyikannya.
Ruby benar-benar merasa sangat sakit hati. Rasa rindu yang menggebu dalam hatinya lagi-lagi terbalaskan oleh sikap diamnya Abian yang tentu menyakitkan nya. Oma Rahma keluar dari toilet yang masih berada di dalam ruangan itu.
Sambil berjalan ia melihat ke arah cucunya yang posisi tubuhnya memunggunginya. Terlihat punggungnya terguncang, Bu Rahma bisa menebak jika sepertinya cucunya itu sedang menangis. Ia pun segera menghampirinya, menyeret kursi agar ia bisa duduk tepat di dekatnya, mengusap pelan rambutnya dan bertanya dengan lembut untuk sekedar menenangkan hatinya.
"Kenapa kamu nangis, Ruby? Katakan sama Oma, apa yang membuat kamu bersedih seperti ini?" tanya Bu Rahma dengan lembut.
"Nggak Oma, Ruby cuma sedih karena rindu ingin sekolah," jawab Ruby berbohong dan masih tetap dalam posisinya sekarang, tidak mau berbalik untuk sekedar menatap wajah Oma nya. Ruby masih ingin menikmati rasa sedihnya.
"Sabar Ruby … sebentar lagi kata Dokter kamu sudah bisa segera pulang. Sementara kamu bisa menggunakan kursi roda dulu di rumah agar bisa kesana kemari sampai kaki kamu itu bisa tidak merasa sakit lagi saat berdiri dan dibawa berjalan," jawab Bu Rahma lagi.
"Ruby kangen ingin sekolah, Oma."
"Kamu kangen ingin sekolah, apa kangen sama Abian?" tanya Oma nya mencoba menanyakan isi hati cucunya yang sesungguhnya.
"Apa sih Oma? Ruby cuma kesal karena Abian terus saja menghindar, dia tidak mau mengangkat telepon dari Ruby. Bahkan chat Ruby pun sama sekali tak mau Abian balas. Sebenarnya apa yang terjadi pada Abian dan juga kak Romy, kenapa Abian jadi menghindari aku seperti ini, Oma?!" kali ini Ruby merubah posisinya, ia berbalik dan berusaha untuk duduk menghadap Oma nya saat ini dan tentu saja sedikit dibantu oleh Oma nya, agar Ruby bisa duduk dan bersandar di kepala ranjangnya.
"Pasti kak Romy mengancam Abian dan—" kalimat Ruby terpotong karena tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan muncul Romy kakaknya dengan tatapan yang sedikit tajam dan seolah sedang menghakiminya. Romy sepertinya mendengar atas apa yang sedang diucapkan olehnya saat ini.
"Apa, kamu sedang membicarakan aku?!" ketus Romy menatap tajam ke arah Ruby.
"Iya, memangnya kenapa?! Gara-gara kakak Abian jadi menghindar dari aku, jangankan menjenguk aku kemari, bahkan dia sama sekali tidak mau mengangkat telepon dariku. Sebenarnya apa yang Kak Romy katakan sama Abian sampe Abian bersikap seperti itu kepada Ruby?!" tanya Ruby dengan nada emosi.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau dia menjauh dari kamu? Apa dijauhi dia terus kamu akan mati? Kamu gak hidup dari dia, dia itu cuma sekedar teman dan bukan siapa-siapa kamu! Kamu gak hidup makan dari dia tapi dari kami, keluarga kamu!" jawab Romy sama-sama emosi.
"Ini bukan masalah Abian bukan siapa-siapa aku, tapi apa alasan Kak Romy menjauhkan Abian dari aku? Meski Kak Romy adalah Kakakku tapi bukan berarti Kakak melarang aku untuk dekat dengan siapapun!" balas Ruby tak mau kalah.
"Cukup kenapa kalian malah bertengkar?!" lerai Bu Rahma pada kedua cucunya saat ini.
"Aku tidak suka Kak Romy bersikap seperti ini sama aku, Oma!" Ruby mulai terisak dalam emosi.
"Aku cuma ingin melindungi kamu Ruby, agar kamu tak sakit hati sama seperti aku!" bentak Romy.
"Memangnya apa yang Abian lakukan, Abian tidak pernah menyakiti aku ataupun Kakak! lalu apa alasannya? jangan-jangan perubahan sikap Kakak ada hubungannya dengan pertemuan Kak Romy dan kak Mona saudaranya Abian, apa benar dugaanku?!" tanya Ruby mengintimidasi.
"Jangan sebut nama dia di hadapanku! Aku tidak kenal sama sekali dengan orang yang namanya Mona!" kecam Romy dengan mata yang berkilat menahan rasa amarah.
"Kamu—" Abian terlihat emosi mendengar jawaban Ruby yang terkesan berani itu, Romy menunjuk ke arah wajah Ruby diiringi kilatan api kemarahan dari kedua sorot matanya. Bahkan sebelah tangannya sudah terangkat seolah akan menampar Ruby.
"Apa, Kak Romy mau nampar Ruby?! Tampar saja kalau berani!" tantang Ruby makin emosi. Mendengar itu tentu saja Romy tambah geram dan hampir siap melayangkan tamparannya, namun teriakan Oma nya menghentikan niatnya untuk memberi pelajaran pada adiknya Ruby yang menurutnya sangat kurang ajar itu.
"Romy hentikan! Sudah, cukup! Kenapa kalian malah bertengkar?! Kalian mau membuat Oma mati mendadak?! Itu yang kalian inginkan?! Bagaimana Oma bisa pergi dengan tenang jika meninggalkan kalian yang masih sering bertengkar seperti ini? Apa jadinya kalian nanti jika tanpa Oma?!" bentak Bu Rahma dalam isaknya.
Ucapan Bu Rahma tentu saja mengalihkan emosi Ruby dan Romy hingga tersadar jika pertengkaran mereka berdua itu pasti membuat hati Oma mereka itu jadi terluka hingga kini menangis terisak sambil mengurut-ngurut dada nya.
"Oma, maafin Ruby Oma. Ruby tidak bermaksud bertengkar dengan Kak Romy, Ruby hanya tidak suka dengan sikap Kak Romy seperti ini!" lirih Ruby memohon, mencoba meminta maaf dan menenangkan hati Oma nya yang sepertinya jadi terguncang.
"Oma tidak suka melihat kalian seperti ini?" isak nya tertahan. Romy hanya terdiam dengan tatapan bersalah pada Oma nya.
__ADS_1
"Maafin Romy Oma … Romy khilaf. Romy melakukan semua ini hanya demi kebaikan Ruby juga. Romy cuma tidak mau Ruby terlalu dekat dengan seorang pria yang pada akhirnya pasti akan mengecewakannya," ucap Romy memberikan sebuah alasan.
"Kenapa Kak Romy berpikir jika Abian akan mengecewakan aku?! Justru sikapnya sekarang berubah itu karena ulah Kak Romy yang membuat dia menjauhi aku, dan hal ini terus terang menyakitiku, dan semua itu gara-gara Kak Romy!" kesal Ruby.
"Sudah cukup! Hentikan pertengkaran kalian! Sudah cukup!" pinta Bu Rahma balik memohon.
"Kalian tau, beberapa hari ini Oma selalu mimpi buruk. Oma takut jika Oma harus menghadap Allah dalam waktu dekat, dan yang Oma khawatirkan adalah bagaimana kalian nanti jika Oma meninggalkan kalian untuk selamanya?" ucap Bu Rahma menatap kedua cucunya secara bergantian.
"Oma jangan bilang begitu! Mimpi itu hanya bunga tidur, Oma akan selalu sehat dan jangan pernah mengatakan akan meninggalkan kami, Oma!" Romy bersuara.
"Romy, tolong jaga adikmu sebaik mungkin. Tapi … Oma akan lebih tenang jika melihat Ruby sudah menikah dan benar-benar ada yang menyayangi serta menjaganya. Kamu laki-laki Romy, Oma mungkin lebih tenang untuk melepasmu … tapi Ruby …?" ucapnya khawatir sambil menatap cemas ke arah Ruby.
"Oma jangan bicara seperti itu, jangan nakut-nakutin Ruby terus, Ruby tidak suka!" Ruby pura-pura kesal.
"Oma dengarkan Romy, semua akan baik-baik saja. Lagi pula Ruby masih sekolah Oma, Ruby masih terlalu muda untuk menikah, masa depannya masih panjang jika harus menikah terlalu dini," sahut Romy.
"Tapi … tapi Oma—" Romy segera memotong kembali ucapan Bu Rahma. "Oma mungkin kurang istirahat, makanya Oma banyak memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang, Oma pulang dulu ke rumah ya! Sudah lama Oma tidak pulang ke rumah biar Oma istirahat di rumah biar lebih tenang. Biar Romy yang jaga Ruby disini mumpung Romy tidak sedang ada pekerjaan!" usul Romy memberi saran.
"Oma akan pulang, tapi Oma mohon agar kalian jangan bertengkar lagi sepulang Oma!" pinta Bu Rahma memberi syarat.
"Iya, tidak akan Oma! Ya sudah Romy pesankan taxi online dulu untuk Oma," ucap Romy kemudian mengambil ponsel dari saku jaket yang sekarang digunakannya.
Tapi belum sempat Romy memesan taxi untuk Oma nya itu, pintu kamar itu mendadak terbuka dari luar. Muncul Dewa yang tersenyum manis kepada mereka semua yang berada di dalam ruangan itu.
"Assalamualaikum …," ucap Dewa mengucap salam kemudian berjalan menghampiri ketiganya. Serentak semuanya menjawab salam dari Dewa dalam waktu bersamaan.
__ADS_1