
Abian berlari mengejar Ruby yang sudah keluar dari ruangan kelas itu setelah berpamitan dulu kepada Putri. Melihat hal itu Putri merasa tak enak hati apalagi melihat kemarahan Ruby barusan, meski Putri tidak tahu ada masalah apa, tapi dari perkataan yang diucapkan oleh Ruby tadi, Putri bisa menebak jika kemarahannya pada Abian itu sepertinya penyebabnya adalah dirinya.
"Mawar apa Ruby marah kepadaku? aku merasa tak enak kepada Ruby meski aku tidak tahu ada masalah apa antara Ruby dengan Abian," tanya Putri kepada Mawar dan mendadak merasa tak enak hati.
"Tidak Put, sepertinya Ruby cuma salah paham. Mereka berdua memang sudah ada masalah jauh sebelum kamu datang kok. Jadi jangan merasa seperti itu, semuanya pasti akan kembali membaik. Abian pasti bisa menyelesaikan masalah ini," jawab Mawar.
Sementara itu Ruby saat merasa Abian mengejar di belakangnya, Ruby semakin mempercepat langkah kakinya meski rasanya kakinya yang baru sembuh itu terasa ngilu dipaksa berjalan seperti itu. Tapi Ruby tak peduli, rasa sakit di hatinya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit yang Ruby rasakan di hatinya saat ini.
"Ruby tunggu Ruby!" teriak Abian di belakangnya.
Ruby semakin mempercepat langkah kakinya hingga ia sampai juga di pintu gerbang Sekolahan, beberapa pasang mata memperhatikan Abian dan Ruby yang terlihat saling kejar-kejaran tapi mereka berdua tak peduli akan hal itu. Apalagi Ruby, ia hanya ingin segera pergi dari sekolah itu dan tidak mau melihat wajah Abian lagi yang membuat hati dan jiwanya terasa hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Seperti inikah rasanya patah hati, dan rasanya sakit sekali.
Tiba-tiba kaki Ruby terasa kram dan kaku hingga ia tak bisa melanjutkan langkahnya lagi, Ruby meringis menahan rasa ngilu di lutut dan juga kakinya, hingga akhirnya tangan Abian berhasil juga menggapai tangannya.
"Bi lo dengerin gue dulu, jangan main kabur dan lari seperti ini dong!" sungut Abian. Tapi melihat wajah Ruby yang seperti sedang kesakitan, Abian tak melanjutkan perkataannya.
"By lo baik-baik aja kan?" tanya Abian jadi khawatir.
"Gue minta maaf By, gue tau gue salah, tapi bukan karena Putri gue menghindari lo. Ini semua gak ada hubungannya sama dia!" jelas Abian.
"Gak ada hubungannya lo bilang, lo jauhin gue, lo cuekin gue, lo gak peduli sama gue lagi seperti biasanya setelah kedatangan perempuan itu kan. Mentang-mentang lo udah jadian sama itu cewek terus lo seenaknya gitu aja lupa sama gue sahabat lo sendiri. Sampe telepon gue gak pernah lo angkat sama sekali. Lo pikir gue gak sakit hati lo gituin?!" maki Ruby semakin emosi.
__ADS_1
"Iya tapi itu semua bukan karena Putri. Gue emang udah jadian sama Putri tapi bukan berarti gue gak butuh kalian lagi. Lo tetep sahabat gue. Tapi lo juga harus ngerti keadaannya By, gue terpaksa ngelakuin ini sama lo demi kebaikan lo juga!" Abian mencoba memberikan penjelasan.
"Alah, gak usah banyak alasan! Lo kalo gak mau nganggep gue sahabat lo lagi, oke gue jabanin! Anggap aja kita gak pernah kenal. Mulai sekarang kita urus kehidupan kita masing-masing dan gue gak akan merepotkan lo lagi dalam segala hal. Lagian lo udah punya cewek, kan? Jadi sudah pasti lo sudah gak butuh gue lagi!" sinis Ruby kemudian menghempaskan tangan Abian dan mulai melangkahkan kakinya kembali ketika merasa kakinya sudah tidak kram lagi dan bisa dibawa untuk berjalan.
"By, lo dengerin dulu penjelasan gue!" Abian menahan kepergian Ruby. Tapi Ruby tidak mendengarkan panggilan Abian, ia keluar dari gerbang sekolah dan mencari taxi atau ojek
"Gue lakuin ini terpaksa By. Karena Kakak lo Romy ngancam gue. Justru gue gak mau kehilangan lo, By!" ucap Abian membuat langkah Ruby yang di depannya kini terhenti.
"Kak Romy ngancam gue By, jika gue masih deket sama lo, lo akan dipaksa pindah sekolah sama Kakak lo untuk tinggal di rumah Papa Lo. Gue gak mau jauh dari lo By, makanya gue terpaksa lakuin ini!"
Mendengar hal itu hati Ruby merasa sedikit bahagia, namun tetap saja Abian saat ini telah memilih wanita lain dan cintanya tetap bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1