CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Sebuah pilihan: Maju atau Mundur?


__ADS_3

[Bang, Papa minta kamu ke rumah malam ini. Papa bilang ingin membicarakan keseriusan abang untuk hubungan kita.]


Pesan yang dikirimkan Naura membuat hatiku berbunga. Lampu hijau sudah diberikan oleh Papa Naura untukku.


[Iya Sayang, jam 7 nanti abang ke rumahmu.]


Aku bergegas mandi. Kupilih pakaian terbaik yang akan kupakai. Ini memang bukan kali pertama aku ke rumah Naura, namun malam ini berbeda. Bukan hanya sekadar mengantar Naura pulang atau mengapelinya di malam minggu. Papanya akan bertemu denganku untuk membahas masa depan hubunganku dengan Naura.


Pernikahan, ya itulah impianku sejak pertama mengenal Naura. Gadis yang sudah kupacari setahun ini adalah gadis yang kuimpikan menjadi isteriku. Naura gadis berhijab yang cantik. Ia pula berpendidikan dan memiliki pekerjaan yang bagus. Naura adalah seorang pegawai bank syariah. Tahu sendiri kan bagaimana persyaratan untuk menjadi pegawai bank? Tentu harus berpenampilan menarik. Mendapatkan Naura sebagai isteri adalah impian banyak pria.


Kubuka laci kecil di dalam lemari pakaian. Sebuah buku tabungan berwarna biru nampak di sana. Aku meraih dan membukanya. Buku ini baru beberapa hari yang lalu ku-print out dari bank. Kutatap saldo terakhir yang tertera di sana. Lima puluh juta rupiah, itulah jumlah yang telah kusisihkan dari penghasilan selama tiga tahun menjadi pegawai negeri sipil.


Ya, sejak bekerja aku mulai menabung untuk masa depan, setidaknya untuk membiayai pernikahan. Aku tak mau membebani orang tua untuk hal itu. Kurasa saldo tabungan ini cukup untuk membiayai acara pernikahanku dengan Naura. Jumlah ini pasti cukup untuk memberikan sebuah pesta pernikahan yang layak walau tak terlalu mewah namun tak juga terlalu sederhana.


Setelah yakin penampilanku paripurna, segera kukendarai motor menuju ke rumah Naura. Sesampai di depan rumahnya, kulihat Naura sudah siap menyambutku. Ia pun berdandan cantik malam ini. Kutahu bahwa Naura pun sudah lama menginginkan aku melamarnya.


"Ayo Bang, masuklah. Papa dan Mama sudah menunggu."


Naura bergelayut manja di lenganku. Oh, Tuhan aku bahagia sekali saat ini. Sebentar lagi Naura tak hanya bergelayut di lenganku tapi di dalam pelukanku.


Kami memasuki ruang tamu rumah itu. Papa dan Mama Naura sudah berada di sana, menyambutku ramah. Setelah mempersilahkan aku duduk, obrolan-obrolan ringan pun terjadi. Naura sudah membawakan minuman untuk kami. Dia pun ikut serta duduk bersama kami kini.


"Nak Fadil, sekarang waktunya kita membahas soal hubungan Nak Fadil dengan Naura puteri kami." Papa Naura berkata dengan senyum ramahnya.


"Iya, Om," jawabku singkat.


"Kalian kan sudah saling mengenal setahun ini. Kami pun sudah cukup mengenal Nak Fadil. Menurut kami Nak Fadil pria yang baik, apalagi Nak Fadil seorang PNS. Kami merasa lega bila akhirnya akan melepas Naura untuk Nak Fadil karena masa depannya sudah pasti terjamin."


Kutanggapi setiap perkataan Papa Naura dengan anggukan dan senyuman ringanku. Sejujurnya aku merasa bangga dengan pengakuan beliau tentangku.


"Nah, sekarang waktunya kami mendengarkan pernyataan dari Nak Fadil. Sejauh manakah keseriusan Nak Fadil terhadap Naura?" Papa Naura melanjutkan perkataannya.


"Tentu saja saya sangat serius Om. Saya memang sudah berencana meminang Naura menjadi isteri saya," jawabku mantap.


Papa dan Mama Naura tertawa kecil menanggapi ucapanku.


"Keseriusan saja belum cukup, apakah Nak Fadil sudah benar-benar siap?" Papa Naura kembali bertanya.


"Siap Om, saya sudah siap lahir dan batin. Sejak mulai bekerja Fadil sudah menabung untuk bisa mewujudkan impian saya menikah dengan biaya sendiri, Om. Apalagi setelah bertemu Naura, saya jadi semakin giat menabung demi memperisterinya."


Aku berkata sembari melirik ke arah Naura yang dibalas dengan senyum simpul malu-malunya yang menggemaskan.

__ADS_1


"Wah...luar biasa. Tidak salah kami sudah memilih Nak Fadil untuk menjadi pendamping hidup Naura. Om, tak menyangka di usia semuda ini Nak Fadil sudah bisa mengumpulkan uang dua ratus juta rupiah."


Seketika mataku terbelalak, mulutku membuka lebar. Dua ratus juta rupiah? Aku tak mengerti mengapa Papa Naura menyebut nominal itu.


"Bang... Bang Fadil...." Suara lembut Naura menyentakkanku. Aku kembali tersadar.


"Ma.. Maaf Om, saya kurang paham dengan dua ratus juta itu," kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.


"Loh, kok Nak Fadil malah kayak bingung begini? Dua ratus juta itu ya untuk biaya pernikahan Nak Fadil dengan Naura kan. He..he..he..."


Oh my God! Kutelan air liur yang menyangkut di tenggorokanku yang kering itu. Kutarik nafas perlahan dan mencoba kembali ke topik pembicaraan.


"Maaf Om, tapi uang yang sudah saya kumpulkan bukan dua ratus juta tapi lima puluh juta."


"Wah Nak Fadil ini jangan bercanda begitu, Nak Fadil kan sudah sering ikut Naura ke pesta-pesta pernikahan keluarga besar Om dan Tante. Nak Fadil bisa kira-kira sendiri lah berapa budget untuk mengadakan pesta pernikahan seperti itu." Papa Naura mengira aku sedang bercanda. Ya, ampun!


"Nak Fadil datang kan di pesta pernikahan sepupu Naura yang kemarin di hotel Grand Clarita? Nah rencananya nanti pesta pernikahan Nak Fadil dan Naura juga akan kita adakan di situ. Itu hotel bintang lima yang lagi ngetrend sekarang. Untuk catering per kepala seratus ribu rupiah, berarti untuk seribu undangan paling tidak sudah seratus juta rupiah. Itu baru untuk catering hotel loh. Belum untuk salon, dekorasi, catering acara akad di rumah, acara pembentukan dan pembubaran panitia, souvernir, cetak undangan, dan seragam keluarga besar. Dua ratus juta itu nge-press loh Nak Fadil," Mama Naura menambahkan dengan berapi-api.


"Maaf Om, Tante, tidak bisakah acara pernikahan ini disesuaikan dengan budget saya yang lima puluh juta?" Aku mencoba memberi penawaran, berharap mereka setuju.


"Ya tidak bisalah. Kami ini keluarga besar. Apa kata saudara-saudara Om dan Tante kalau pesta pernikahan Naura tidak diadakan dengan pantas?" Mama Naura sepertinya sedikit emosi dengan kata-kataku.


"Saya rasa uang segitu bisa mengadakan pesta yang pantas kok Tante. Kita masih hisa menyewa gedung serbaguna, tidak perlu di hotel."


Kupalingkan wajah pada Naura, berharap ia bisa bersuara. Setidaknya membantu memberi pengertian pada kedua orang tuanya. Namun saat pandangan kami saling beradu, Naura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Aku mencoba menangkap makna di balik anggukan itu. Ya, kutahu Naura memintaku untuk mengiyakan perkataan orang tuanya.


Tidak, bagaimana aku bisa mengiyakannya. Kenyataannya aku tak punya yang mereka inginkan. Tak mungkin kuminta pada orang tuaku di kampung yang hanya petani. Mereka mungkin saja akan menjualkan aku sawah mereka, tapi aku tak sejahat itu. Masih ada tiga orang adikku yang butuh biaya, sawah ayahku satu-satunya sumber penghasilan mereka.


Mungkin ada jalan lain, berhutang di bank. Sebagai PNS mungkin akan mudah mendapatkan pinjaman dengan menggadai SK, tapi itu takkan kulakukan. Bila separuh gaji sudah kugadai belasan tahun, apakah separuhnya akan cukup untuk menafkahi isteri dan anakku kelak? Tidak, aku tak akan meminjam uang di bank.


Kembali ku arahkan tatapanku pada Papa dan Mama Naura. Aku akan mencoba sekali lagi meyakinkan, aku bersungguh-sungguh ingin menikahi puteri mereka tapi hanya dengan uang yang kupunya.


"Baiklah Om dan Tante, Fadil tahu bahwa Om dan Tante ingin memberikan yang terbaik untuk Naura. Saya benar-benar tulus berniat memperisteri Naura, tetapi saya juga tidak bisa memaksakan diri saya untuk melebihi batas kemampuan saya. Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, dana yang saya punya lima puluh juta rupiah. Sekarang keputusan saya serahkan kepada Om dan Tante, akan saya terima apapun itu." Aku menundukkan kepalaku setelah mengucapkan isi hatiku seperti tak ingin mendengar jawaban dari mereka. Seolah aku sudah bisa membaca jawaban apa yang akan ku terima.


"Dengar Nak Fadil, pria yang menginginkan Naura menjadi isterinya banyak. Puteri kami ini cantik, berpendidikan dan berkarir. Seharusnya Nak Fadil bisa berupaya memberikan pesta pernikahan yang terbaik untuk Naura, juga untuk menjaga nama baik keluarga kami. Tapi kalau Nak Fadil tak mampu, mau bagaimana lagi, Nak Fadil tak bisa menjadi menantu kami."


Ucapan Papa Naura pun sesuai prediksiku. Sejujurnya hatiku perih, lututku pun lemas. Namun mau bagaimana lagi, permintaan mereka tak bisa kupenuhi. Cintaku kandas karena biaya pernikahan.


"Baiklah Om, saya terima keputusan ini. Kalau begitu saya permisi. Terima kasih untuk perlakuan baik Om dan Tante selama ini terhadap saya."


Papa dan Mama Naura hanya mengangguk tanpa sepatah katapun. Kupalingkan pandanganku pada Naura, nampak wajahnya sendu seolah memohon aku tetap tinggal untuk memperjuangkannya. Tidak, orang tuamu tak menerima keterbatasanku Naura, aku harus pergi.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ku ucapkan kata itu lalu membalikkan tubuhku menuju pintu keluar dan berlalu pergi.


Saat hendak menaiki motor, ku dengar suara Naura memanggilku.


"Bang... Bang Fadil."


"Ada apa lagi Naura? Masuklah nanti orang tuamu marah."


"Kenapa Bang Fadil tidak memperjuangkanku? Apa selama ini Bang Fadil tidak sungguh-sungguh mencintaiku?"


"Aku tak pernah mempermainkan cinta Naura, kau tahu itu."


"Lalu kenapa Bang Fadil pergi?"


"Kau kan sudah lihat sendiri, orang tuamu menolakku."


"Orang tuaku tak menolak, tapi Bang Fadil lah yang tak mau berjuang."


"Apa maksudmu Naura?"


"Abang sebenarnya bisa mendapatkan dua ratus juta itu."


"Dari mana? Kau kan tahu orang tuaku hanya petani di kampung."


"Tapi abang kan PNS."


"Maksudmu...."


"Ya, abang bisa mengambil kredit pegawai."


"Naura, kalau aku mengambil kredit, lalu setelah kita menikah bagaimana aku bisa menghidupimu dengan layak sementara gajiku tinggal separuh atau bahkan tinggal seperempatnya. Belum lagi bila kita punya anak nanti. Kredit itu akan ku angsur hingga belasan tahun."


"Aku kan bekerja Bang, kita bisa saling membantu nanti. Yang terpenting sekarang kita menikah dulu."


"Kamu ini tetaplah akan menjadi isteri Naura, besok-besok saat kamu hamil, terus kita punya anak, bisa saja kamu akan berhenti bekerja. Tanggung jawab tetaplah berada di tanganku. Aku tak mau setelah menikah hidupmu malah menjadi menderita gara-gara gajiku habis hanya untuk membayar cicilan kredit untuk pernikahan kita. Jika kamu memang benar-benar ingin menikah denganku seharusnya kamu bisa memberi penjelasan pada orang tuamu tadi. Bukanlah soal kemewahan dalam sebuah acara pernikahan, tetapi soal niat kita setelah berumah tangga. Bukankah yang terpenting pernikahan itu sah? Lagipula dengan dana yang ku miliki tidak juga hanya memberikanmu pesta sederhana, tetapi masih cukup layak. Tetapi tadi kau hanya diam saja Naura, aku pun hanya merasa seperti seorang diri, jadi ku anggap kau pun tak memperjuangkan aku."


"Bang... Apa yang dikatakan orang tuaku itu benar. Harga diri keluarga kami dinilai saat menggelar pesta pernikahan. Seharusnya Abang mengerti, aku pun menginginkan pesta pernikahan seperti yang dikehendaki orang tuaku. Ini sekali seumur hidup Bang." Naura merengek mencoba mengubah keputusanku.


"Jika itu yang kau inginkan, aku tak bisa memberikannya Naura. Mungkin kita memang tak berjodoh. Masuklah, aku harus pergi." Ku lingkarkan kaki kananku menaiki sepeda motorku. Ku kenakan helm, lalu menyalakan starter. Ku putar pedal gas di tangan kananku menandakan bahwa aku benar-benar hendak pergi.


"Bang... Bang Fadil, Naura tak sangka Abang selemah ini. Abang tak benar-benar mencintaiku. Abang tak sungguh-sungguh ingin menikahiku. Aku benci kamu Bang. Lihatlah Bang, aku akan membuat Abang menyesal sudah meninggalkan aku."

__ADS_1


Kudengar suara Naura di sela-sela isak tangisnya. Suaranya masih terdengar jelas walau berkali-kali suara deru gas motorku meraung. Kali ini kutekan persneling dengan kaki kiriku, gas yang kuputar kini tak hanya meraung tapi melajukan motorku, berlalu meninggalkan Naura dan impian pernikahanku bersamanya.


Bersambung


__ADS_2