
Sore ini di rumah.
Aku dan Zagi tengah membantu ayah merapikan beberapa tanaman di halaman depan. Mamak berjibaku di dapur. Nadira di halaman belakang sedang memilih-milih pisang raja jemur yang sudah kering dan siap digoreng menjadi pisang dompoh. Sedang Safira, sore tadi kawannya menjemputnya untuk belajar bersama.
Entahlah apa benar mereka belajar, atau seperti kata Nadira mereka berpacaran. Tapi ... sepertinya yang menjemputnya bukanlah Randy, karena lelaki itu tadi masuk hingga ke dapur dan menyalami Mamak.
Hmm ... mungkinkah Safira sudah merubah pilihannya setelah percakapan semalam?
Bagaimanapun Safira adik perempuan pertama, dia sudah beranjak remaja. Masa pubertas mungkin sedang dialaminya kini. Tentu masih dengan kelabilan perilakunya.
Dan aku sebagai abangnya, sudah pasti menjadi bagian dari tugasku untuk menjaganya.
"Assalamualaikum ...." Suara lembut seorang wanita tiba-tiba terdengar dari depan halaman rumah.
Kami bertiga sontak menoleh padanya.
"Waalaikumsalam ...." jawab kami serempak.
"Kak Cindai?" Zagi segera menghampirinya, menyalaminya dan mencium tangannya.
Ternyata Cindai yang datang. Sebuah rantang susun tertenteng di tangan kirinya.
Dia berjalan menghampiri ayah, menyalami dan mencium tangan ayah.
"Dari manakah kamu, Nak?" tanya ayah padanya.
"Dari rumah, Paman. Ibu memintaku mengantar kolak pisang ke sini," jawab Cindai.
"Oh ... jalan kaki kah?" tanya ayah lagi.
"Iya, kan dekat saja. Sekalian olahraga sore. Mak Ama adakah?" Cindai menanyakan Mamak. Mak Ama adalah nama panggilan Mamak di kampung ini. Nama lengkapnya Rahma.
"Ada di dapur, masuklah."
Zagi nampak berlonjak kegirangan mengetahui Cindai datang membawa kolak pisang. "Ayo Kak ku antar ke dalam," serunya.
Ya, ampun ... dia tak menyapaku. Saat dia hendak berjalan memasuki rumah, ide jahatku kembali muncul. Membuatnya kesal!
"Kolak pisang itu dibikin dari pisang yang menimpa kakiku tadi kah?" ucapku tanpa memandangnya. Sengaja berpura-pura memegangi tanaman yang ada di hadapanku.
Seperti dugaan, rencanaku berhasil. Cindai menoleh dengan tampang kesal.
"Iya, tapi tenang saja kolak ini rasanya tetap manis, tak asam seperti rasa kaki Abang," katanya ketus.
Belum juga aku membalasnya, dia sudah berlalu masuk ke dalam rumah.
Hmm ... dia memang bukan Cindai yang dulu. Cindai yang lugu, yang hanya bisa merengek saat ku bully.
Sekarang dia sudah bisa melawanku. Sadis ....
***
Sudah beberapa puluh menit dia di dalam rumah, tapi tak jua keluar. Rasanya ingin menyusul masuk ke dalam, tapi ku urungkan.
Ayah sudah masuk ke dalam, dan mungkin sudah turut serta menikmati kolak pisang itu. Tapi aku tak mungkin terus di luar, rasanya tanganku sudah gerah ingin segera dicuci.
Aku memilih memutar melalui jalan samping menuju ke halaman belakang. Ada keran air di sana. Namun, langkahku terhenti tepat di sisi terakhir rumah. Segera ku rapatkan tubuhku pada dinding rumah, memajukan wajahku seperti sedang menguping.
Tepatnya bukan hanya seperti, tapi aku benar-benar sedang menguping. Cindai dan Nadira ada di situ, sambil memilih-milih pisang yang kering mereka sedang berbincang. Bukan ... bukan hanya sekadar berbincang tapi mereka berghibah.
Mengghibahi aku tepatnya.
"Abangmu datang dalam rangka apakah Nadira?"
"Tadinya kami pun tak tahu karena tak biasanya Abang pulang, apalagi bukan hari libur seperti ini. Tapi akhirnya kami tahu, Abang baru saja putus cinta."
"Putus cinta?"
"Iya, Bang Fadil punya pacar di kota. Naura namanya, sangat cantik seperti artis. Lihatlah ini, Nadira punya fotonya. Ini Nadira ambil dari foto profil WA Bang Fadil." Nadira berkata sembari menunjukkan foto yang ada di hapenya.
"Benar, cantik sekali pacar abangmu itu. Tapi ... kenapa bisa putus? Abangmu pasti sedih sekali kehilangan wanita secantik itu." Nampak raut prihatin di wajah Cindai. Entah apa dia benar-benar prihatin ataukah sedang menertawaiku di dalam hatinya.
"Kata Abang, orang tuanya punya permintaan yang tidak bisa dipenuhi oleh abang. Hmm ... untuk biaya pernikahan."
"Kenapa abangmu tak memenuhinya? Bila benar-benar cinta mestinya dia berjuang."
"Abang tak mau memaksakan diri bila tak mampu. Lagi pula mungkin sudah tak jodoh."
"Berarti abangmu bukan lelaki yang bersungguh-sungguh?"
"Tidak, bukan begitu. Bang Fadil itu orang yang baik, penyayang dan sangat bertanggung jawab."
"Penyayang? Pembully iya."
"Apa, pembully?"
"Abangmu itu ...."
Niatku untuk semakin memanjangkan telinga malah membuatku menyenggol tong sampah yang ada di situ.
Teng klentong ....
__ADS_1
Belum juga Cindai menyelesaikan ucapannya, bunyi tong yang jatuh itu malah membuat mereka kaget dan berpaling.
"Siapa di situ?" tanya mereka serempak.
Aku yang panik berusaha tenang. Ya, anggap saja yang menjatuhkan tong itu adalah kucing. Ide yang bagus.
"Kuuuccciiiiiiinnnggg ...." gumamku menirukan gaya suara kucing.
"Ohh ... kucing." Cindai dan Nadira berkata bersamaan sembari bernapas lega.
Tapi ... sesaat setelahnya Cindai tersadar. Ia segera berlari menuju arah jatuhnya tong sampah itu.
"Kak Cindai mau kemana?" teriak Nadira.
Dan tentu saja, sesaat sebelum Cindai tiba di situ aku sudah lebih dulu bersembunyi di balik rimbunnya pohon pisang di samping rumah sembari berharap agar Cindai tak menemukanku di sini.
Sesampai di area tong sampah itu Cindai menengok ke sana kemari, namun karena tak ditemukannya apa-apa, Cindai hanya membetulkan posisi tong itu lalu kembali ke tempat Nadira.
"Tadi Kakak mau melihat ada siapa di sana," ucap Cindai sekembalinya.
"Lha, kan sudah jelas tadi itu kucing, Kak."
"Tak sadarkah kau Nadira, mana ada kucing yang mengucing? Kucing itu hanya bisa mengeong."
"Astaga ... Iya betul-betul-betul. Tapi tak ada siapa-siapa kan Kak?"
"Iya, anehnya tak ada siapapun di situ."
"Jangan-jangan itu hantu, Kak."
"Hantu? Mana ada hantu sore begini? Tapi ... Kakak kok jadi merinding juga ya."
"Ayo, kita masuk saja, Kak."
Tak lama kemudian kedua perempuan itu sudah berlalu memasuki dapur belakang.
Aku segera keluar dari tempat persembunyianku. Lumayan menyiksa juga di rerimbunan pohon pisang itu, gigitan nyamuk dan semut membuat kaki dan tanganku bentol-bentol.
Tak pakai lama, segera ku langkahkan kakiku memasuki rumah, tentu dengan melewati pintu depan supaya mereka tak curiga.
Di meja makan nampak mereka semua sedang duduk menikmati kolak pisang sembari bersenda gurau. Kehadiran diriku pun membuat mereka berpaling.
"Fadil, dari mana saja kau ini? Kolak pisang buatan Cindai sudah hampir habis tuh." Mamak berkata sembari menunjuk ke arah rantang berisi kolak pisang.
"Anu ... Mak. Itu ... anu ...." jawabku terbata-bata.
"Itu anu, itu anu apa sih?"
"Ya, ampun. Zagi ambilkan abangmu minyak tawon di kamar Mamak."
Zagi yang diperintah segera berlari ke kamar Mamak dan kembali dengan membawa minyak tawon. Sementara aku, kini ikut duduk di meja makan. Mengambil tempat di hadapan Cindai.
Diam-diam Cindai melirikku yang sedang membalur minyak tawon itu ke tangan dan kaki.
Tapi ... tak hanya sekadar melirik, ia kini berkomentar.
"Rupanya Abang begitu menghayati merawat tanaman-tanaman itu sampai digigit semut dan nyamuk sebanyak itu pun tak terasa."
Aku menatapnya. Tatapan kepuasan terpancar dari binar matanya. Sepertinya ... dia bermaksud meledekku. Mungkinkah Cindai sedang mencurigaiku?
"Bang ... tau ndak? Di belakang rumah kita ada hantunya." Nadira tiba-tiba berceloteh.
"Hantu? Bagaimana bisa?" tanyaku berpura-pura.
"Masa ada kucing bisa bicara."
"Bicara? Seperti apa?"
Aku masih saja berpura-pura tak tahu di saat Mamak sudah mengantarkan semangkuk kolak pisang di hadapanku.
Kolak pisang itu memang terlihat begitu menggoda, aromanya pun menggairahkan.
Tapi sebenarnya, aku tak benar-benar bisa menikmatinya, karena setiap suapan yang ku tandaskan hanya untuk menutupi salah tingkahku.
Apalagi ... setelah Cindai mengambil alih obrolan.
"Tentu kucing tak bisa bicara, dan pastinya hantu itu tak ada. Yang ada hanyalah orang yang iseng dan kurang kerjaan," gumamnya sembari melirikku.
"Kurang kerjaan mana dengan orang yang berghibah?" Aku menatapnya tajam.
Mendapat tatapan seperti itu Cindai tak serta merta tumbang. Mungkin maju tak gentar sudah menjadi prinsipnya. Walaupun sebenarnya aku tahu, dia kini merasa malu karena aku mengetahui jika diam-diam dia telah membicarakan diriku.
"Lebih baik, dari pada menguping, lalu berpura-pura menjadi kucing," tantangnya.
Alamak! Gadis ini sudah tahu aku menguping. Kepalang basah, kami berdua sudah saling membongkar aib.
Menyadari suasana hening, aku dan Cindai sama-sama menoleh ke sisi lain, tempat ayah, mamak, Nadira dan Zagi duduk di meja makan itu.
Ya Tuhan, apa yang terjadi pada mereka? Diam membisu dengan mulut menganga.
Menatap aku dan Cindai yang berseteru.
__ADS_1
***
Episode perseteruan di meja makan telah berakhir. Saat ini Cindai sudah menenteng rantangnya dan hendak pulang. Tak lupa ia berpamitan pada ayah dan mamak.
"Fadil, tolong antarkan Cindai pulang," kata Mamak sesaat setelah Cindai mencium tangannya.
"Apa? Tadi dia kemari sendiri. Kenapa sekarang harus diantar?" gerutuku.
"Ayolah Fadil, kasian Cindai kalau jalan kaki lagi. Dia kan sudah membawakan kita kolak yang lezat. Kamu pun menghabiskan banyak tadi." Mamak berucap lagi, setengah memaksaku.
Ya, aku memang menghabiskan banyak kolak pisang itu tadi. Memang lezat, tapi aku tak begitu menikmatinya.
Karena dalam bayanganku, mengunyah kolak pisang itu seperti mengunyah bibir Cindai yang lancang itu.
Bibir yang manis tapi mengiris.
"Fadil!" Kali ini nada suara Mamak bukan hanya memaksa tapi memerintah.
Huffhhh....
"Iya, Mak. Iya." Aku beringsut bangkit dari dudukku.
"Tak perlulah Mak. Biar Cindai berjalan kaki saja." Cindai berkata.
"Tidak, Nak. Biar Fadil mengantarmu."
Cindai pun tak bisa menolak Mamak. Kami berdua lantas berlalu keluar rumah.
Memakai motor ayah, ini kedua kali aku memboncengnya di hari yang sama.
Motorku sudah berhenti di depan rumahnya. Cindai turun, sejenak menatapku, lalu berucap, "Makasih."
"Kau tak menawariku mampir?"
"Untuk apa?"
"Untuk melanjutkan dialog kita."
"Dialog ataukah percekcokan? Kucing?"
"Tapi rupanya diam-diam kau mencari tahu tentangku kan?"
"Bukan begitu ... aku hanya ...."
Belum usai Cindai berucap, seorang wanita paruh baya yang adalah ibu Cindai dan seorang pria keluar dari dalam rumahnya. Agak tergopoh mereka menghampiri kami.
"Cindai ... Cindai ...," sahut ibu Cindai.
Serempak kami berdua menoleh.
"Ibu ... ada apakah?" tanya Cindai pada ibunya.
"Ini ada Pak Bagas. Dia datang mencarimu. Anaknya, Dita sedang sakit, meminta bertemu denganmu."
"Dita? Sakit apakah dia, Pak?"
"Badannya panas, tapi dia ngotot ingin menemui Bu Guru Cindai. Jadi saya memutuskan ke sini untuk menjemput Ibu ke rumah kami." Pria yang bernama Pak Bagas itu menjelaskan.
"Baiklah, Pak. Ayo kita ke rumah Bapak."
Sejujurnya aku bingung, Cindai ini guru bukan dokter. Tapi mengapa Cindai harus dijemput oleh bapak yang anaknya sakit itu?
Rasa penasaran memberanikan diriku menarik lengan Cindai saat ia hendak beranjak menuju motor Pak Bagas.
"Naik saja si sini. Aku akan mengantarmu."
Cindai menatapku penuh tanya, hanya ku jawab dengan anggukan kepala.
"Pak, jalanlah duluan. Nanti saya mengikuti." teriakku pada Pak Bagas.
Cindai seolah tak dapat mengelak. Ia mengikuti pintaku. Kini ia telah berada dalam boncenganku ... lagi.
"Hei ... kamu siapa?" Ibu Cindai menunjuk ke arahku yang membawa puterinya.
"Fadil, Bu. Anak Mak Ama," jawabku sembari menancapkan gas yang membawa motorku melaju.
Sekilas ku dengar ibu Cindai sempat mengulang namaku, sesaat mengkerutkan dahinya lalu tersenyum sembari berteriak "Hati-hati!"
Gas motor terus ku putar mengikuti arah perjalanan yang dipandu oleh Pak Bagas. Perjalanan untuk mencari tahu misteri terselubung tentang gadis yang sedang membonceng di belakangku.
Tentu saja, niatku untuk mencari tahu mengapa Mamak mengaguminya belum tuntas.
Okelah, pertama dia pandai memasak. Terbukti dari kolak pisang buatannya yang lezat. Tapi ... itu masih belum cukup membuktikan dia layak untuk dikagumi.
Dia sering membagikan hadiah untuk anak-anak? Semua orang bisa saja melakukan itu. Bukan sesuatu yang sulit.
Lalu, mengapa anak yang sakit itu meminta bertemu dengannya? Apakah Cindai memiliki keahlian yang lain? Mengobati orang yang sakit?
Oh ... tidak! Apakah Cindai semacam dukun kampung???
***
__ADS_1