
Untuk ke sekian kali, motorku berhenti di depan rumah Cindai. Kali ini tak seperti biasanya, sikapnya sedikit manis.
"Makasih ya, Bang. Hmm ... mau mampirkah?" ucapnya setelah turun.
"Memangnya bolehkah?" tanyaku berbasa basi.
"Kalau tak mau ya sudahlah." Cindai berucap ketus sembari membalikkan badannya berjalan menuju rumahnya.
Ya, ampun dasar wanita! Cepat sekali sumbunya panas. Namun aku tetap turun dari motor, mengikutinya masuk ke dalam rumah.
"Oh, mau mampir juga rupanya," seringainya.
"Begitukah bersikap pada tamu?" balasku.
"Makanya jangan belagu," celetuknya.
"Siapa yang belagu?" tanyaku.
"Ya Abang lah," jawabnya ketus.
"Belagu bagaimana?" tanyaku lagi.
"Abang suka bicara berlebihan. Kenapa bilang seperti itu pada Bang Rahmat tadi?"
"Bilang apa?"
"Ya tentang kedekatan kita, padahal kan kita belum sedekat itu."
"Oh ... belumkah? Kalau begini apa sudah dekat?" Aku maju beberapa langkah di depannya hingga kami hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Bahkan, aku pun dapat merasakan setiap hembusan nafasnya. Debaran jantungnya seperti sedang berdegup kencang saat aduan netra kami bertemu.
Aku merasakannya ....
"Kamu ...." desahnya.
"Ya?" desisku.
"Jangan macam-macam padaku!"
"Hahaha ...." Aku tertawa.
Lalu kembali mundur menjauh darinya.
"Malah tertawa seperti orang gila," gumamnya kesal.
"Habisnya kamu lucu. Memangnya kenapa kalau aku bilang kita memiliki hubungan yang akrab pada Rahmat? Apa dia itu pacarmu? Baru pacar kan, belum suami?"
"Bang Rahmat bukan pacarku. Hanya saja tak enak berkata yang tak sesuai fakta."
"Fakta apa? Bahwa kita belum sedekat itu? Kalau begitu aku nyatakan bahwa sekarang kita akan selalu dekat, dekat di sisi dan dekat di hati." Aku berkata sembari mengerlingkan mata padanya.
Wajah Cindai kembali memerah. Merekah seperti kelopak kembang sepatu.
__ADS_1
Dan aku menikmati pesona bunga itu.
"Kau ini sangat flamboyan. Pasti playboy."
"Playboy? Enak saja!"
"Nyatanya, kau mencoba merayuku. Pasti sudah biasa melakukannya pada wanita yang kau jumpai."
Dia sedang tak menyebutku dengan sapaan 'abang', panggilan yang lumrah terhadap lelaki di kampung ini. Dia sedang menyapaku dengan 'kau dan kamu', seolah ada sesuatu yang lain. Sebuah hubungan yang berbeda.
"Aku baru sekali memadu kasih, dan kamu sudah tahu dengan siapa. Aku bukanlah lelaki yang sembarangan merayu wanita, walaupun mungkin banyak yang naksir padaku." Aku membela diri.
"Ish, pede sekali," desisnya pelan.
"Itu faktanya, tapi aku hanya akan takluk pada yang istimewa saja. Yang menantang ...."
Aku berkata sembari menatapnya mesra. Rona merah di wajahnya kembali terukir.
"Berarti pacarmu yang kemarin itu wanita pertama yang istimewa dan menantang?"
"Dulu iya, tapi bila sudah menjadi masa lalu, sudah pasti tak istimewa lagi. Harapku ... wanita istimewa yang sekarang akan tetap istimewa hingga nanti. Selamanya ...."
Seiring dengan ucapanku, tubuh dan wajahku bergerak condong ke depan. Ke arah Cindai.
"Siapa?" Suaranya bergetar, nafasnya terdengar sedikit memburu mendapati wajahku yang mendekat.
Namun, belum juga sempat membalas tanyanya, sebuah suara tiba-tiba muncul di dekat kami.
Sontak aku dan Cindai salah tingkah. Namun aku segera mengikuti titah ibu Cindai, duduk di kursi tamu.
"Eh ... iya, Bu. Tadi saya habis mengantar Cindai pulang, terus ditawari mampir, tapi memang dari tadi belum ditawari duduk, hehehe ...," jawabku.
Kulirik wajah Cindai, merengut gemas padaku. Namun ia pun ikut duduk, tepat di depanku.
"Lho kok tumben Nak Fadil yang antar? Biasanya kan pulangnya barengan sama Rahmat?" tanya ibu Cindai yang kini malah mengambil tempat duduk di sampingku.
"Tadi memang Rahmat yang antar, tapi di jalan ban motornya pecah, dan kemudian saya lewat. Lalu jadilah saya yang mengantar Cindai, Bu," terangku.
"Wah, mungkin sudah jodoh ya, tiba-tiba gitu Nak Fadil yang lewat?" Ibu Cindai berkata dengan raut wajah sumringah.
"Ibu ...." Cindai mendesis pada ibunya.
"Maksud ibu jodoh bertemu di jalanan itu, lalu bisa membantumu mengantar pulang." Ibu Cindai berkata pada puterinya, lalu berpaling padaku, "Nak Fadil tak lagi buru-buru kan? Ibu lagi masak sayur asem, Nak Fadil cobain ya, sekalian makan siang di sini."
Aku yang mendapat tawaran itu tentu saja sangat senang. Tak mungkin ku tolak, dan dengan cepat menjawab, "Iya, Bu. Fadil lagi santai, tak buru-buru hanya ... sedang berburu."
Tentu saja aku berkata sembari melirik ke arah wanita yang duduk di hadapanku. Ahh .. ekspresinya kembali membuatku gemas. Ada rona malu bercampur murka di situ.
"Berburu apa?" tanya ibu Cindai heran.
"Berburu jodoh, Bu," jawabku setengah berbisik pada ibu Cindai.
Mendengar jawabanku ia tertawa dan menepuk pundakku.
__ADS_1
"Nak Fadil ini lucu ya, suka bercanda. Sekarang duduk dulu ya, ibu mau lanjut masak. Nanti kalau sudah selesai baru ibu panggil dan kita makan sama-sama."
"Siap, Bu."
Ibu Cindai pun berlalu masuk ke dalam. Setelah itu sesaat suasana hening, Cindai terus menunduk, enggan memandangku sampai aku memulai percakapan lagi.
"Sepertinya Rahmat suka padamu, apa selama ini dia belum pernah menyatakannya?" Aku memberanikan diri menanyakan hal yang masih menjadi teka-teki di benakku ini.
Cindai mengangkat kepalanya, sejenak menatapku nanar lalu berkata, "Itu bukanlah urusanmu."
"Aku hanya bertanya, tak bolehkah?"
"Untuk apa bertanya yang bukan urusanmu?"
"Bukankah sekarang kita sudah dekat? Jadi semua tentangmu sudah jadi urusanku."
"Dekat apa?"
"Ya dekat, kawan dekat."
"Aku tak berkawan dekat dengan pembully."
"Ahh ... itu kan masa kecil. Masihkah kau dendam padaku?"
"Tentu saja. Masa kecilku kelam karenamu."
"Maaf kalau begitu, tapi waktu kecil kau memang sangat lucu. Kau sangat lambat, dan rambutmu itu ...."
"Tuh kan! Masih saja membully."
"Aduh ... iya-iya. Maaf. Aku janji tak akan lagi mengungkit-ungkit tentangmu sewaktu kecil." Aku mengangkat tangan kanan membentuk huruf V.
"Bila melanggar?" tanyanya kemudian.
"Kau boleh menghukumku sesukamu."
"Oke."
"Berarti sekarang kita berkawan dekat kan?"
"Hmm ... baiklah."
"Kalau begitu jawablah pertanyaanku tadi."
"Yang mana?"
"Ahh ... tentang Rahmat."
Cindai terdiam lalu menggeleng. "Tidak," lirihnya.
Ya, Tuhan ada apa dengan gadis ini. Kenapa dia tak mau memberitahuku tentang perasaan Rahmat padanya. Ada rahasia apakah yang disembunyikannya?
***
__ADS_1