CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Doa Mamak


__ADS_3

"Mak ... Mak!" Aku memanggil-manggil Mamak, mencarinya setelah sampai di rumah.


"Ya, di sini." Mamak menyahutku.


Ku temui sosoknya di dapur, sedang memasukkan beberapa bahan sembako ke dalam kantong plastik. Nampak Mamak berpakaian agak rapi.


"Mau kemanakah, Mak? Dan untuk apa sembako itu?" tanyaku.


"Mamak mau ke rumah Mak Jenab bantu-bantu, anaknya si Murni mau kawinan. Sembako ini mau Mamak bawa ke sana. Sudah jadi kebiasaan di kampung kita kalau ada yang hajatan warga akan saling bergotong royong."


"Oh iya, Murni adik Mono kan Mak? Tadi Fadil ketemu sama Mono di warung kopi, dan Mono mengundang Fadil ke rumahnya ntar malam, katanya ada rapat panitia begitu ....


Hmm ... tapi Mak, kalo acara nikahan bukannya pihak lelaki yang menyiapkan biaya pernikahannya? Lalu kenapa warga mesti gotong royong membawa sembako lagi?" lanjutku.


"Memang lah, biaya pernikahan disediakan oleh pihak lelaki. Tapi yang namanya membuat sebuah acara hajatan pasti ada kebutuhan-kebutuhan kecil yang bisa membebani. Misalnya untuk rapat panitia, mesti akan ada suguhan seperti teh, kopi, dan kue-kue. Nah, dari gotong royong warga seperti Mamak yang datang membawa gula, tepung, dan minyak goreng inilah dibuat suguhan-suguhan itu. Setidaknya gotong royong warga bisa membantu meringankan." Mamak menjelaskan.


"Wah, kalau begitu menikah di kampung asik juga ya, Mak."


"Mau kau menikah di kampung, Dil? Sudah tak ingin menikah di gedung lagi?" Mamak menggodaku.

__ADS_1


"Ahh ... Mamak, jangan mengejek Fadil lagi. Fadil ingin menikah di kampung, tapi ... dengan siapakah?"


"Ya carilah jodohmu."


"Yang bagaimanakah Mamak inginkan menjadi menantu Mamak?"


Mamak terdiam sejenak. Nampak keraguan untuk menjawab. Mamak selalu begitu saat membahas tentang jodoh anak-anaknya. Ia selalu kuatir memberi jawaban yang menyakiti. Mamak tahu, jodoh itu soal hati, soal suka atau tidak suka. Dan ia tak pernah memaksakan untuk menyukai sesuai kehendaknya.


"Seperti apapun yang kau sukai, Mamak pasti dukung."


"Fadil ingin jawaban yang pasti, Mak. Yang seperti apakah wanita yang Mamak inginkan menjadi jodoh Fadil? Jujurlah, Mak ... Naura bukan keinginan Mamak kan?"


"Mamak tak pernah meminta Fadil membawanya ke sini."


"Bukannya Mamak tak pernah meminta, tapi ...." Mamak tak melanjutkan kata-katanya.


Aku pun tak mau menanyakan lagi. Mungkin pertanyaanku agak menekan perasaannya.


Namun, ia lalu menatapku dan kembali berbicara, "Mamak hanya selalu meminta kepada Allah untuk memberimu wanita yang baik, yang bisa mengurusmu. Dia harus peduli pada suami dan anak-anaknya, pada orang-orang di sekitarnya. Hatinya lembut dan penuh kasih sayang. Wanita yang menjadi jodohmu haruslah sabar dan tangguh. Menghadapimu yang kadang masih kekanak-kanakan bukanlah hal yang mudah. Menerima kelebihan dan kekuranganmu, dan juga kekurangan orang tuamu. Wanita yang cantik luarnya banyak, tapi yang cantik hatinya itu langka."

__ADS_1


Mamak menepuk ringan bahuku, lalu ia melangkah pergi membawa kantong plastik berisi sembako tadi.


Terdengar riuh suara beberapa orang ibu-ibu memanggil-manggil Mamak dari luar. Sepertinya mereka sudah berjanjian untuk berangkat bersama ke rumah Mak Jenab.


Aku hanya menarik nafas panjang mengiringi kepergian Mamak, meresapi petuah yang ditinggalkannya sesaat tadi. Dan, entah mengapa aku seketika menghubungkannya dengan Cindai. Bukankah Mamak mengagumi Cindai? Apakah memang Cindai lah yang sesuai dengan kriteria yang disebutkannya tadi?


Mamak bilang, dia selalu meminta kepada Allah? Itu artinya Mamak memohon jodohku sesuai keinginannya di dalam doanya. Dan ... Naura tak menjadi perwujudan doa Mamak?


Sedahsyat itukah doa seorang ibu? Hubungan dengan Naura yang sebelumnya sudah ku yakini akan berlabuh ke pelaminan seketika kandas. Apakah karena Naura tak sesuai keinginan yang disebut Mamak dalam doanya?


Mungkin ... aku tak menampiknya. Naura memang cantik, bahkan sangat cantik. Tapi dia tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Setiap kali ku tanyakan, dia selalu berkilah 'semua sudah dikerjakan oleh pembantu'. Bahkan mungkin menggoreng telur pun dia tak bisa.


Naura juga tak begitu peduli, pada apapun. Dia hanya peduli pada dirinya sendiri. Pernah suatu hari keponakannya, anak kakaknya sendiri yang masih balita sakit. Semalaman anak itu terus saja menangis. Bukannya ikut membantu menenangkan, Naura malah meneleponku meminta menjemputnya dan mengantarkannya untuk menginap di hotel dengan alasan tak dapat tidur nyenyak mendengar tangisan ponakannya itu.


Hati yang lembut dan penuh kasih sayang? Naura memang lembut saat bermanja-manja padaku. Tapi dia bisa menjadi sangat kasar pada orang-orang yang dianggap stratanya lebih rendah. Misal pada pembantu rumahnya. Salah meletakkan barang miliknya saja, pembantu itu bisa diomelinya seharian.


Sabar dan tangguh? Terlambat ku jemput saja, dia bisa ngambek berjam-jam. Dalam perjalanan hubungan kami, aku lah yang lebih sering mengalah.


Sedahsyat itukah doa seorang ibu? Hingga memberikan energi padaku untuk bertindak, mengambil keputusan meninggalkan Naura, gadis pujaan hatiku yang saat itu sungguh membuatku tergila-gila. Hanya karena, Naura bukanlah gadis yang diinginkan Mamak dalam doanya. Sedahsyat itukah doa seorang ibu untuk kebahagiaan anaknya ....

__ADS_1


***


__ADS_2