CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Apakah Aku Telah Jatuh Hati?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Aku memutuskan untuk pergi menjemput Zagi dan Nadira ke sekolah. Dan, mungkin juga untuk menuntaskan ambisiku mencari tahu tentang hubungan Cindai dan Rahmat.


Sesaat setelah menunggu di depan gerbang sekolah, nampak Zagi sudah keluar.


"Zagi!" panggilku.


"Bang Fadil?" Bocah lelaki itu berlari menghampiriku.


"Sini, kita nungguin Nadira lagi," kataku sambil menunjuk ke arah gerbang sekolah Nadira yang berhadapan dengan gerbang sekolah Zagi.


"Wah, asik nih dijemput Bang Fadil," ucap Zagi sumringah.


Kami berdua pun duduk jongkok di samping motor yang terparkir. Mataku melirik ke sana kemari, seolah mencoba mencari seseorang yang akan keluar dari gerbang sekolah dasar itu. Namun yang ku cari tak jua muncul, sampai Nadira keluar dari gerbang sekolahnya dan Zagi berteriak memanggilnya.


"Wah, Bang Fadil jemput ya?" ucap Nadira.


"Iya, ayuk kita pulang."


Aku menghidupkan motor, tak lama setelah itu Zagi dan Nadira sudah bertumpuk di boncenganku.


Saat hendak melajukan motor, tiba-tiba pandanganku teralih ke sebuah motor yang baru keluar dari gerbang sekolah dasar. Sepasang manusia saling berboncengan, dan tentu saja mereka adalah sosok yang ku nantikan sejak tadi. Cindai dan Rahmat.


Ya, benar saja. Pagi menjemput dan siang mengantar pulang. Apalah lagi bila bukan karena mereka menjalin hubungan spesial.


Entah mengapa ada perasaan gusar di dalam dada. Terasa panas. Aku tak suka melihat ini.


Gas motor segera ku tancapkan. Melaju mengiringi motor yang dikendarai Rahmat. Hingga saat motorku memepeti mereka, Nadira dan Zagi serempak teriak, "Kak Cindai...."


Nama yang disebut pun menoleh, sebuah senyum tipis tersimpul di bibir mungilnya. Tapi bukan padaku.


Bila berdoa untuk keburukan seseorang adalah sebuah dosa, maka saat ini aku telah berdosa. Aku berharap sesuatu dapat menghentikan laju motor Rahmat. Rasanya tak rela Cindai terus berada di sisinya.


Ternyata Tuhan menyayangiku. Keberuntungan berpihak padaku.


Bleduk! Suara ban motor pecah.


Rahmat menghentikan laju motornya. Mereka turun dari motor, dan Rahmat mulai berjongkok memeriksa ban motornya.


Aku pun berhenti. Seringai licik bagaikan seorang penjahat tergurat di wajahku. Ya, aku mungkin sedang menjadi seorang penjahat yang hendak merebut seorang gadis. Akankah berhasil?


"Ban motornya pecah ya?" tanyaku pada mereka.


Rahmat yang tadi menunduk pun menoleh, menatapku sejenak dan berkata, "Iya nih. Hmm ... kamu?" Pria itu mengernyitkan dahinya.


"Saya Fadil. Ingat ndak? Kamu Rahmat anak Kampung Durian kan?"


"Oh iya, ingat. Saya ingat. Ahh ... sudah terlalu lama kita tak jumpa. Maaf, tadi saya agak lupa. Gimana kabarmu?" Rahmat mengulurkan tangannya.


"Iya, sangat lama sekali, sejak kanak-kanak. Dan sekarang kita sudah dewasa." Aku membalas jabatan tangannya.

__ADS_1


Sementara itu Nadira dan Zagi sudah berada di sisi Cindai. Sekilas ku lirik ke arahnya. Nampak bahwa Cindai memperhatikan obrolanku dengan Rahmat.


"Hai, Cindai. Gimana kabar ibumu? Tolong sampaikan maafku karena kemarin sore tak bisa berlama-lama mengobrol dengannya di rumahmu, hehehe ...." Aku berkata pada Cindai.


Sebenarnya ucapan basa basiku ini bermaksud memperlihatkan pada Rahmat soal kedekatanku dengan Cindai. Dan terbukti, Rahmat terperangah menatapku lalu menatap Cindai penuh tanya.


"Oh, ibu biasa saja kok. Em ... iya nanti saya sampaikan." Cindai nampak gugup.


"Kalian sudah ... hmm Fadil habis ke rumah Cindai? Untuk apa? Memangnya kamu pulang kampung untuk apa dan sudah berapa lama?"


Pertanyaan Rahmat yang berentetan seperti penyidik itu membuatku kembali menyeringai jahat.


"Oh, kami kan datang barengan dari kota. Saya kebetulan lagi cuti. Terus kemarin juga sudah sempat jalan-jalan bareng. Cindai pun sudah ke rumahku mengantar kolak buatannya yang lezat. Lalu gantian dong, saya yang main ke rumahnya." Aku memaparkan dengan riang gembira sembari melirik wajah Cindai.


Ya Tuhan, wajah Cindai berubah menjadi merah. Apakah dia marah karena takut pada Rahmat? Tapi aku tak peduli, misteri hubungan mereka harus ku bongkar sekarang.


"Cindai, kau tak cerita padaku?" Rahmat berucap pelan pada Cindai.


"Maksud Bang Rahmat?" balas Cindai padanya.


"Ya, kau tak cerita tentang kedekatanmu dengan Fadil?" lanjut Rahmat.


"Haruskah? Abang kan bukan siapa-siapa Cindai." Nampak raut kesal di wajah Cindai.


Sedangkan aku yang sambil berpura-pura melihat-lihat motor Rahmat yang mogok, diam-diam menyimak dengan seksama obrolan mereka.


Cindai tak ada hubungan dengan Rahmat. Cihuy ....


Rupanya benar kata Mono, Rahmat lah yang ngebet pada Cindai. Sekilas ku lirik wajah Rahmat nampak memelas, mungkin malu pada jawaban Cindai.


Aku kembali menyeringai jahat. Rencanaku berhasil. Sekarang otakku berpikir bagaimana cara untuk membawa Cindai pergi dari sini, meninggalkan Rahmat bersama motor mogoknya itu. Tak mungkin membonceng Cindai dengan meninggalkan dua adikku itu.


Ahh ... semoga ada keajaiban.


Pip...pip...pip....


Terdengar klakson motor. Kami semua menengok ke arah motor itu.


"Kak Safira!" Nadira dan Zagi teriak bersamaan.


Motor itu berhenti. Rupanya Damar dan Safira. Astaga, Tuhan sungguh menyayangiku. Mengirim mereka di waktu yang tepat. Sungguh keajaiban bagiku.


"Safira, ajaklah Nadira dan Zagi pulang bersama. Damar boleh kan?" Aku langsung menghampiri mereka.


"Iya, tentu Bang," jawab Damar.


"Terus Bang Fadil?" tanya Safira.


"Abang akan mengantar Cindai."

__ADS_1


Sesaat kemudian Nadira dan Zagi sudah naik ke motor sekuter Damar setelah mereka berpamitan pada Cindai dan Rahmat. Zagi jongkok di depan, sedang Nadira dan Safira bertumpuk di boncengan Damar.


Sebenarnya kasihan juga aku melihat posisi mereka yang bergerombol di motor itu, tapi demi misi kemanusiaan yang akan ku jalankan, biarkanlah dulu adik-adikku mengalah.


"Cindai, sebaiknya kuantar pulang. Ban motor Rahmat kan pecah, setidaknya harus mencari bengkel dulu untuk memperbaikinya. Bila menunggu akan lama, jangan sampai ibumu kuatir bila kamu belum sampai di rumah sesiang ini." Aku berkata pada Cindai sesaat setelah kepergian adik-adikku.


Sesaat Cindai berpaling pada Rahmat lalu berkata, "Bang Rahmat, saya ikut Bang Fadil saja ya? Bang Fadil benar, jangan sampai ibu kuatir bila aku terlalu lama sampai rumah."


Terlihat jelas wajah Rahmat yang manyun bercampur kesal. Sebagai sesama pria, kami seolah sudah saling menangkap sinyal pertarungan. Rahmat bisa membaca maksudku. Sekilas dia menatapku, ada sorot tak suka di situ. Aku hanya membalasnya dengan senyuman ringan.


"Iya, hati-hatilah. Telepon aku bila sudah sampai rumah," jawab Rahmat pada Cindai.


Alamak, kaget juga aku mendengar perkataan Rahmat. Meminta Cindai meneleponnya setelah sampai. Padahal sudah jelas yang Cindai katakan tadi, tak ada hubungan antara mereka yang mewajibkan Cindai memberi laporan kegiatan padanya.


Cindai tak menjawab ucapan Rahmat. Dia langsung berjalan menghampiriku, duduk di jok belakangku. Dan aku pun sudah menyalakan motorku dan siap menancap gas.


"Kami duluan ya, Mat," ucapku pada Rahmat yang hanya dijawab anggukan lemah.


Bye ... bye ... Sebenarnya itulah yang ku ucapkan dalam hati untuk Rahmat yang sedang meratapi nasibnya.


Dulu dia selalu menang dariku saat pertandingan sepakbola, tapi kali ini aku harus memenangkan pertandingan hati ini.


Glek! Pertandingan hati? Apakah aku benar-benar sudah jatuh hati? Entah ... aku masih belum tahu pasti.


Yang ku tahu ...


Ada rasa senang di dalam sini.


Saat dia berada di dekatku, terlebih di sisiku.


Kelabu yang kemarin menutupi kalbu,


saat hati ini retak,


perlahan menerang.


Mungkin ... ada rasa yang lebih dalam lagi.


Sebuah hasrat untuk memiliki.


Jiwa kelaki-lakianku menggelora ....


Meronta dari keterkungkungan.


Nyatanya kehadirannya bak Sang Dewi, yang membebaskanku dari patah hati.


Apakah aku telah jatuh hati?


***

__ADS_1


__ADS_2