
Tujuan pertama dari perjalanan ini adalah warung makan. Aku tentu sudah makan siang sebelum berangkat tadi, tapi Cindai pastilah belum.
"Ayo mampir makan siang dulu," kataku pada Cindai setelah menghentikan motor tepat di sebuah warteg.
Gadis itu menurut dengan turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam warteg. Dia berhenti di hadapan ibu penjaga warteg itu, menunjuk beberapa menu. Sedangkan aku terus berlalu masuk dan duduk di sebuah bangku meja makan.
"Abang tak pesan makanan?" tanyanya setelah ikut duduk di hadapanku.
"Tadi sudah makan sebelum berangkat. Lagipula rasanya aku sudah kenyang hanya dengan memandangmu saja."
"Apaan?" gerutunya.
"Memang kenapa?"
"Pembual!"
Aku tertawa, sedangkan dia ... tentu saja merona.
Pemilik warteg pun datang menyuguhkan makanan pesanan Cindai.
"Bu, es teh dua ya," kataku padanya yang dijawab dengan anggukan sebelum ia berlalu ke dapurnya.
"Jadi saya makan sendiri?" tanya Cindai.
"Apa? Kau mau makan sepiring berdua denganku?" tanyaku menggodanya.
"Saya tak berkata begitu," gumamnya kesal.
Aku tertawa lalu berkata, "Makanlah, Sayang."
Dia melotot. "Apa?" geramnya.
"Aduh ... kalau kamu marah-marah terus, makannya tak habis-habislah."
"Makanya berhentilah mengganggu!"
"Oke ... oke," kataku sembari mengangkat dua jari.
Ia pun mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
Dan aku ... duduk menatapnya. Tentu saja sosok yang ku tatap menjadi salah tingkah.
"Janganlah menatapku begitu," keluhnya lagi.
__ADS_1
"Adakah undang-undang yang melarang?"
"Tak adakah hal lain yang bisa kau lakukan?"
"Baiklah." Aku mengambil telepon genggam dari saku celana dan mulai memainkannya.
Cindai melanjutkan makan siangnya.
Namun, ketika tengah asik membuka-buka berbagai aplikasi di hape, sebuah pesan whatsapp muncul.
Nama pengirim pesan itu tertera, aku membukanya.
"Naura," lirihku.
Cindai yang mendengar aku melirihkan nama itu pun sontak mengangkat kepalanya, memandangku penuh tanya.
Sebuah gambar undangan terpampang di pesan wa dari Naura.
Undangan berwarna merah dengan tulisan tinta emas. Ku baca dengan seksama. Dua nama tertera di situ, Naura Salsabila dan Reyhan Aldiano. Mereka akan menggelar acara pelamaran sekaligus pertunangan.
Luar biasa, ini baru acara pertunangan tetapi undangannya sudah semegah itu. Inilah yang Naura dan keluarganya inginkan. Kemegahan.
Dan tentang nama pria yang akan bersanding dengan Naura, tentu saja aku mengenalnya. Dia sekantor dengan Naura, menjabat Account Officer di bank syariah itu.
Ah ... sudahlah! Untuk apa aku memikirkannya.
[Selamat ya. Semoga berbahagia selamanya.]
Aku membalas pesannya. Setidaknya agar dia tahu, aku mendukung keputusannya. Walaupun mungkin niatnya mengirimkan undangan itu adalah untuk membuatku cemburu.
Tidak, rasa cemburu itu sama sekali tak terlintas dalam hatiku. Aku pun tak mengerti. Secepat itukah rasa cinta yang dulu menggebu-gebu pada Naura sirna?
Justru sebaliknya, yang ku rasakan adalah bahagia. Aku bahagia bila akhirnya Naura bersanding dengan pria yang mendapatkan persetujuan orang tuanya.
Dua centang biru sudah menandai obrolan wa kami. Artinya dia sudah membaca pesanku. Dan tak ada balasan lagi.
"Ehem ... yg lagi chatting sama kekasih."
Aku mengangkat kepala, gadis di hadapanku masih makan, namun sedikit melirik padaku. Berarti sejak tadi diam-diam dia memperhatikanku.
Dasar wanita, tadi menyuruhku mencari kegiatan lain. Setelah tak mengganggunya malah dia yang penasaran.
"Bukan kekasih, tapi mantan," balasku.
__ADS_1
"Mantan kan masih bisa balikan," ujarnya lagi.
Lalu aku mengangkat hape dan mengarahkan padanya. Menunjukkan gambar undangan itu.
Dia melihatnya dengan serius, lalu mengernyitkan dahinya.
"Hah? Mantan kekasih Abang akan bertunangan dengan pria lain? Secepat itukah? Dan ... lihatlah undangannya sangatlah bagus. Pasti harganya mahal. Tapi ... untuk apakah undangan mewah dan mahal begini? Sebab bila acara sudah usai hanya akan dijadikan pengangkat kotoran ayam yang masuk ke dalam rumah," ungkapnya kemudian.
"Adakah aturan waktu untuk move on? Heh, di kota tak ada ayam yang masuk ke dalam rumah, undangan tak akan jadi pengangkat kotoran ayam. Tapi ... tetap akan dibuang."
"Ya sama saja kan?"
Aku berpikir sejenak, "Iya juga sih, untuk apa membuat undangan mahal bila maksudnya hanya untuk menyampaikan informasi acara. Setelahnya hanya akan menjadi sampah."
"Tapi ... apa Abang cemburu?"
"What?"
"Ya, kalian kan belum lama putusnya. Pasti sisa-sisa rasa masih ada."
"Bagaimana mungkin sisa rasa yang lalu masih ada bila hatiku tengah bergelora dengan rasa yang ada saat ini?"
"Maksud Abang?"
Aku memajukan wajah ke arahnya, sedangkan dia terpaku tak berkutik.
"Aku sudah jatuh hati pada wanita lain," bisikku.
"Secepat itu?" lirihnya.
"Adakah aturan waktu untuk jatuh hati?" desahku.
Tatapan kami berpaut semakin lekat.
"Maaf ya Neng, Bang, es tehnya agak lama soalnya tadi es batunya habis, jadi saya suruh anak saya dulu beli ke warung." Sebuah suara dengan dialeg Jawa membuat kami membubarkan adegan tadi.
Pemilik warteg datang menghidangkan dua gelas es teh.
"Oh, tak apa Mbak. Justru es tehnya datang di saat yang tepat," ucap Cindai sembari dengan cepat menyambar es teh itu dan menyeruputnya.
Aku cuma menyeringai, mengamati aksi gugupnya.
***
__ADS_1