
Pagi, hari ketiga aku di kampung. Hari ini Senin, ketiga adikku sudah ke sekolah. Seusai menyantap sarapan pagi buatan Mamak, aku ke depan rumah sekadar merenggangkan otot-ototku yang agak kaku sekaligus menghirup udara pagi yang begitu menyejukkan.
Motor sekuter ayah terparkir di situ. Selama aku masih di kampung, ayah mengijinkan memakainya. Sedangkan ayah menumpang pada Paman Udi saat berangkat ke sawah.
Melihat motor itu, serta merta teringat misi hari ini. Menjadi detektif lagi. Tentu aku harus bergerak sepagi ini bila tak ingin kehilangan momen penting.
Momen Si Rahmat menjemput Cindai!
Mbrembembem... brembembem ....
Motor sudah berbunyi, namun sesaat sebelum gas ku putar, terdengar suara Mamak memanggilku.
"Fadil ... mau kemana kau pagi-pagi begini?"
"Jalan-jalan sebentar, Mak. Putar-putar saja. Fadil pergi ya, Mak."
Belum juga sempat Mamak berbicara lagi, gas sudah ku tancapkan. Motorku melaju.
Ku susuri jalan di lorong rumah Cindai, namun belum sampai di rumahnya aku sudah berhenti. Tepatnya di sebuah warung kopi. Nampak beberapa orang sedang duduk di bawah tenda warung kopi itu.
Sesaat aku bergabung dan duduk di salah satu bangku. Beberapa pria yang ada di situ sejenak menatapku, hingga seorang pria menyapa.
"Fadil?!" tanyanya.
"Iya. Eh ... tunggu, kamu Mono?"
"Ya, ampun, Dil. Kemana aja kamu? Lama kali tak jumpa." Mono menghampiriku, kami berpelukan.
"Saya kerja di kota, No. Ini lagi cuti mudik ke kampung. Lha kamu?"
"Saya sempat merantau ke luar kota, tapi sudah setahun ini balik ke kampung mengurus sawah bapakku. Eh, ini teman-teman kita yang lain, masih ingat ndak? Ini Pardi dan Ucup." Mono menunjuk ke arah dua pria lain yang ada di situ.
"Ya, ampun. Pardi yang kiper kan? Dan Ucup back handal kita?"
Tebakanku benar, mereka berdua tersenyum dan juga menghampiriku. Kembali pelukan terjadi.
__ADS_1
Mono, Pardi dan Ucup adalah beberapa teman masa kecilku. Dulu kami sering bermain bola bersama. Aku selalu menjadi kapten tim. Tergabung dalam tim sepakbola junior kampung, kami sering berhadapan dengan tim sepakbola junior kampung lain dalam setiap perhelatan turnamen olahraga antarkampung. Dan musuh bebuyutan kami yang sudah pasti akan selalu bertemu di babak final adalah tim dari Kampung Durian yang dikapteni oleh Rahmat.
Ya, ampun ... Rahmat! Mungkinkah Rahmat yang sama dengan Rahmat yang sedang ingin ku cari tahu saat ini?
Rahmat, kapten tim sepakbola junior Kampung Durian, tim yang selalu mengalahkan tim sepakbola junior Kampung Manggis yang aku kapteni di final. Apakah sekarang aku kembali harus bertarung dengannya?
Bertarung untuk seorang gadis ....
Pip ... pip ...
Bunyi klakson sebuah motor yang lewat sesaat membuat kami yang sedang duduk di situ menoleh ke arahnya. Nampak sepasang manusia berseragam sedang berboncengan. Sekilas aku melihat wajah-wajah mereka. Yang berada di depan seorang pria berwajah lumayan, dan di belakangnya seorang wanita berwajah manis.
Walau sekilas, wanita itu sempat menoleh padaku. Saat pandangan kami saling beradu, aku menatapnya tajam. Seolah menuntut sebuah jawaban, mengapa dia membonceng di situ.
Dan dia? Tentu saja wajah polosnya seketika terperangah, tak menyangka aku berada di situ.
Namun, aku menangkap sebuah arti dari pandangan sayunya. Seolah hendak menjelaskan sesuatu. Namun dalam sekejap raut wajahnya berubah. Bibirnya yang mangap kembali mengatup, dan dia memalingkan wajahnya dari pandanganku.
Sadis!
"Itu si Rahmat. Biasa ... habis jemput Cindai ke sekolah bareng." Ku dengar Mono berseloroh yang disambut tawa Pardi dan Ucup.
"Iya, itu Si Rahmat belagu itu tuh. Sudah jadi guru dia. Lagi deket sama si Cindai, sama-sama guru mereka." Mono menerangkan.
"Alamak ... sudah tak adakah pemuda di kampung ini, sampai-sampai kembang kampung kita dipetik pemuda dari kampung lain?" Pardi tiba-tiba menyahut.
"Kan memang iya. Kita semua sudah pada kawin. Memang sudah tak ada bujang lagi. Kecuali kalau kau mau kawin kedua kali? Hahaha ...." Ucup pun ikut berseloroh.
"Kawin kedua kali sama saja menggali lubang kubur sendiri. Isteriku pasti tidak akan membiarkan aku menikmati malam pertama." Pardi kembali menyahut manyun.
Kali ini semua tertawa mendengar perkataan Pardi, termasuk diriku.
"Eh ... tunggu dulu. Dil, kamu belum nikah kan? Kamu sudah ada calon ndak?" tanya Mono tiba-tiba padaku.
"Saya? Hmm ... belum," jawabku sembari menggeleng.
__ADS_1
"Ya, udah. Gimana kalau kamu saja yang deketin Cindai? Kita semua lebih ikhlas kalau kembang kampung ini jatuh ke tanganmu daripada ke tangan Rahmat belagu itu." Mono berkata sambil menepuk pundakku.
"Eh ... kok saya sih? Hmm ... lagian kan siapa tahu saja Cindai dan Rahmat itu sudah saling menyukai dan mereka sudah menjalin hubungan serius." Aku nampak keki.
"Yang ngebet itu si Rahmat. Kalau menurutku sih mereka belum ada hubungan. Lagian nih ya, selama janur kuning belum melengkung, masih ada harapan." Mono kembali berkata padaku dengan penuh keyakinan.
"Kalaupun janur kuning sudah melengkung masih bisa disetrika kok biar lurus kembali, Dil. Hahaha ...." Ucup menimpali.
Sontak semua yang ada di situ kembali tertawa.
Pikiranku kembali tertuju pada Rahmat dan Cindai. Sejauh apakah hubungan mereka kini? Saat ini yang tahu hanya mereka berdua sebab ibu Cindai pun tak tahu, dan kawan-kawanku ini hanya menerka-nerka.
Namun ... bukankah kemarin Cindai bilang bahwa dia sudah memiliki jodoh? Apa mungkin dia dan Rahmat memang sudah menjalin hubungan tanpa diketahui orang?
Apa aku harus mencari tahu? Tapi, bagaimana caranya?
Dan ... kenapa aku harus tahu?
"Dil, kamu masih lama ndak di sini?" Suara tanya Mono seketika mengagetkanku.
"Hah? Oh ... iya masih lumayan lama. Sepuluh hari lagi," jawabku.
"Wah ... kebetulan. Sebentar malam lepas maghrib kamu ke rumahku ya. Ada rapat panitia untuk acara pernikahan adikku Murni. Kamu mau kan bantu-bantu?" tanya Mono.
"Iya, bolehlah, No. Emang acara nikahannya kapan?" balasku.
"Besok lusa."
"Lho, nikahnya besok lusa, kok rapat panitianya baru ntar malam?"
"Di sini mah emang gitu, Dil. Melamar hari ini pun, besok sudah bisa nikah. Orang-orang di kampung tanpa diminta pun pasti bakal pada ngumpul gotong royong mempersiapkan acara. Kamu kelamaan di kota sih, jarang pulang jadi ndak pernah lihat acara pernikahan di kampung."
Aku hanya manggut-manggut menanggapi perkataan Mono. Dalam ingatanku, datang ke acara pernikahan di kampung hanya waktu masih kecil saja. Hanya sekadar ikut bergembira bersama kawan-kawan. Pada saat itu tentu aku belum paham tentang pernikahan dan serangkaian acara persiapannya.
Tapi, apakah memang benar bahwa acara pernikahan di kampung sesimpel itu? Yang ku tahu dari teman-temanku yang sudah menikah di kota, sebuah persiapan acara pernikahan bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Menguras energi, waktu dan biaya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, obrolan kami pun usai. Mono, Pardi dan Ucup telah pamit untuk berangkat bekerja ke sawah mereka masing-masing. Begitu pun aku yang sudah mengendarai motorku kembali ke rumah.
***