
Pelan-pelan kedua mataku membuka, mengikuti perintah perutku yang bersenandung. Aroma masakan dari dapur tercium begitu menggoda. Aku lapar.
Tak lama terdengar dentengan jam di ruang tengah itu, dua belas kali.
"Sudah bangun kau Fadil?" Mamak muncul dari dapur.
"Iya, Mak. Masak apakah itu? Sepertinya sedap sekali. Fadil lapar, Mak."
"Gulai nangka dan ikan goreng saus. Makanlah, Nak."
Aku beringsut bangkit, berjalan ke arah dapur. Sesaat memutar keran air di tempat pencucian piring, mencuci tangan dan wajah.
"Adik-adik belum pulangkah?" tanyaku setelah itu.
"Sebentar lagi. Makanlah duluan."
"Mamak?"
"Iya, Mamak temani kau makan."
Aku membuka sebuah piring yang tertangkup di meja makan. Mamak yang sudah berada di situ segera menyendokkan nasi ke dalamnya. Tak lama gulai nangka dan ikan goreng saus sudah menemani nasiku.
"Enak sekali masakan ini, sudah lama Fadil tak makan masakan sedap begini," kataku sembari menyuapi mulutku dengan makanan di piringku.
Mamak hanya tersenyum sembari mengiringi makanku. Setiap bulir nasi yang masuk ke perutku terasa begitu nikmat. Entah karena aku benar-benar lapar atau terlalu rindu masakan Mamak.
Segelas air putih telah tuntas mengaliri tenggorokanku. Kenyang.
Mamak sedang mencuci piring bekas makan tadi, aku mengamatinya. Memperhatikan setiap guratan di wajahnya. Ada banyak makna dari setiap guratan itu, mungkin salah satunya adalah tentang diriku. Mamak pasti selalu memikirkan aku dan jodohku.
"Assalamualaikum ... assalamualaikum ...."
Lamunanku buyar. Adik-adikku pulang.
Safira, Nadira dan Zagi berjalan beriringan seperti bebek menuju dapur.
"Mamak ... Mamak ... we go home," teriak si bungsu Zagi.
Mereka seolah tahu di bagian mana Mamak berada sehingga tak melihatku yang juga berada di sisi lain dapur.
Satu per satu mereka menciumi tangan Mamak.
"Kalian pulang bersamaan ya?" tanya Mamak pada mereka.
"Iya, Mak. Tadi kita semua mampir ke rumah Kak Cindai. Pagi tadi dia sudah datang dari kota. Kak Cindai bagi-bagi alat tulis buat kita semua." Safira adik perempuan pertamaku menjawab. Ini kali pertama aku melihatnya dengan seragam putih abu-abu. Dia kini kelas satu SMA.
"Betul, Mak. Lihatlah ini, Zagi dapat buku tulis, buku gambar, pensil warna dan penggaris." Si bungsu dengan semangat memamerkan barang-barang yang disebutnya tadi kepada Mamak. Dalam bayanganku, Zagi masihlah sangat kecil. Namun logo huruf V di bahu seragamnya menunjukkan bahwa dia kini kelas lima SD.
"Punya Nadira lebih bagus, Mak. Kotak pena ini lengkap dengan cerminnya." Kali ini adik perempuan keduaku yang bersuara.
Nadira si ceriwis. Begitulah aku memanggilnya karena bibir kecilnya itu tak pernah kehabisan bahan untuk mengeluarkan suara. Berseragam putih biru, dia kini kelas dua.
"Memangnya apa bagusnya kalau pakai cermin?" Zagi menyela Nadira.
"Ya bisa dipakai buat bercermin lah." Nadira membalas.
"Ke sekolah mau belajar atau bergayakah?" Zagi menantang.
"Ya, suka-suka saya lah. Belajar sambil bergaya kan tak apa."
"Heh ... kalian berdua ini ribut terus. Berarti ramai tadi rumah Kak Cindai?" Mamak menengahi pertikaian dua bocah itu.
"Ramai, Mak. Anak-anak di lorong sebelah semua kebagian. Yang di lorong sini cuma kita bertiga yang disuruh datang. Mungkin kita bertiga ini spesial." Nadira menjelaskan.
Cindai? Sejak tadi nama itu disebut. Sepertinya ... belum lama ini aku mendengar nama itu.
Cindai ... otakku mencoba mengingat. Namun, suara Mamak membuyarkan.
"Sekarang tengoklah ke sana." Mamak menunjuk ke arahku.
Mereka bertiga menoleh serempak. Seketika mulut mereka terbuka, menganga.
"Hah?! Bang Fadil?"
Buk ... buk ... buk!!!
Mereka menerjangku dengan pelukan. Aku memeluk mereka bertiga bersamaan.
__ADS_1
"Bang ... Zagi rindu sekali sama Abang."
"Nadira juga."
"Safira apalagi, Bang."
"Abang juga rindu bocah-bocah bau keringat ini," kataku sembari menciumi kepala mereka satu per satu.
"Yang bau keringat cuma Nadira dan Zagi Bang, kalau Safira sudah wangi sekarang." Safira berkata sambil tertawa.
Kedua nama yang disebutnya sudah pasti tak terima. Keributan pun kembali terjadi. Begitulah ketiga bocah itu setiap kali saling beradu argumen dan mengejek.
Tapi ... aku rindu melihat itu.
Dan seperti biasa, Mamak yang akan menjadi wasit, menghentikan pertandingan.
***
Malam pertama di rumah.
Kami semua berada di ruang tengah usai menyantap makan malam bersama. Ayah sudah pulang sejak sore, ia kini sedang menikmati kopi hitam kesukaannya.
Sesaat tatapanku lekat ke arah ayah. Nampak raut wajah menua itu begitu tenang. Ya, ayah adalah tipe pria yang tak banyak bicara.
Terkadang ... saat ia sedang sakitpun kami tak tahu.
Ayah memiliki beberapa petak sawah dengan beberapa pekerja yang membantunya. Sistemnya bagi hasil. Hasil dari sawah ayahlah yang telah menghidupi keluarga kami dan mengantarkanku menjadi sarjana. Terkadang saat hasil panen tak bagus, mamak turun tangan, membantu ayah mencari nafkah dengan berjualan kue di pasar.
Pandanganku kini beralih ke sosok di samping ayah. Mamak sedang melipat beberapa helai pakaian. Mamak, wanita perkasa bagiku.
Aku menoleh pada tiga insan lainnya di ruangan ini.
Adik-adikku sedang sibuk dengan buku mereka masing-masing. Namun Safira sesekali memainkan gawainya.
"Kak Safira nih, belajar ataukah bermain hape?" Rupanya Nadira juga mengamati polah Safira.
"Emang napa? Sirik saja kamu Nadira." Safira membalasnya.
"Ahh ... bilang saja, Kakak lagi WA-an sama Bang Randy kan?" Nadira berceloteh.
Safira tak menjawab, hanya memberikan ekspresi gemas pada Nadira.
"Bang Randy tuh kakak kelasnya Kak Safira, kelas sebelas, ketua OSIS, paling ganteng dan kaya di sekolah." Nadira menerangkan dengan ekspresi berlebihan yang nampak lucu.
"Diamlah kamu Nadira!" Safira tak terima.
"Tau ndak Bang, beberapa kali Kak Safira dijemput sama Bang Randy, katanya mau belajar bersama, tapi Nadira tau ... mereka tuh pergi berpacaran." Nadira tetap melanjutkan seolah tak peduli pada larangan Safira.
Mendengar perkataan terakhir adiknya, Safira segera menerjang ke arah Nadira, dengan tangan kanannya membekap mulut Nadira.
Terlihat Nadira berusaha meronta-ronta.
"Yang Kak Nadira bilang itu betul, Bang." Kali ini Zagi yang berucap.
Safira segera menoleh ke arah Zagi.
"Kamu lagi, bocah ingusan nambah-nambahin pula." Safira berang.
Mendapat tatapan seram Safira, Zagi segera berlari ke arahku, duduk manis dan memegang erat lenganku.
Hal yang sama dilakukan oleh Nadira. Saat bekapan Safira lengah tadi, ia telah membebaskan dirinya dan meminta perlindungan di sisiku.
Dua bocah itu kini mengapit dudukku.
Mamak dan ayah hanya tersenyum dan menggeleng memandang kami. Sepertinya hal ini sudah lumrah terjadi.
Ternyata serangan Nadira dan Zagi terhadap Safira belum selesai.
"Tahu ndak Bang, padahal Bang Damar juga suka sama Kak Safira." Nadira melanjutkan.
"Damar? Siapa itu?" tanyaku.
"Teman sekelas Kak Safira, mereka itu sudah sekelas sejak SMP. Nadira tahu dari Wulan adiknya Bang Damar. Tapi heran kenapa Kak Safira malah memilih Bang Randy, padahal Bang Damar itu orangnya baik sekali. Sedangkan Bang Randy itu sombong. Kalau jemput Kak Safira saja tak pernah mau masuk ke dalam rumah. Mungkin karena dia itu orang kaya. Tapi kalau Bang Damar setiap main kemari pasti selalu ngobrol sama Mamak, kadang bantuin Mamak kalau Mamak sedang mengerjakan sesuatu."
Penjelasan Nadira pun tinggapi oleh Safira. "Ya iyalah. Yang namanya cewek itu realistis lah, sudah pasti pilih lelaki yang lebih kaya."
Entah mengapa perkataan Safira membuatku teringat pada Naura. Apakah Naura sudah melupakan aku? Apakah Naura sudah menjalani realistis hidupnya dan kini sudah bersama lelaki lain yang bisa memenuhi keinginannya dan keluarganya?
__ADS_1
"Bang ... Bang ... kenapa foto profil WA abang jadi pohon kering begini? Kemarin kan foto Abang dan Kak Naura yang cantik seperti artis itu." Suara Nadira di sampingku membuyarkan lamunanku.
Ku lirik ke arahnya yang sedang mengutak-atik gawainya.
"Iyakah?" Safira pun penasaran dan mengecek di gawainya.
"Abang sudah tak sama Kak Naura." jawabku.
"Hah?!" Safira dan Nadira kaget berjamaah.
"Kenapa bisa Bang? Padahal kita semua senang sekali melihat pacar Abang itu. Cantik seperti artis yang di tv." Nadira berkomentar.
"Abang kurang kaya," kataku.
"Maksudnya?" Safira bertanya.
"Abang tak mampu memenuhi permintaan orang tua Nadira menyediakan biaya pernikahan yang mereka inginkan," jawabku.
"Ya, ampun. Jahat sekali mereka itu. Tak tahukah mereka kalau Bang Fadil ini pria yang baik dan bertanggung jawab. Mereka pasti menyesal menolak Bang Fadil hanya gara-gara biaya pernikahan." Safira geram.
"Lha apa bedanya dengan Kak Safira? Lebih memilih Bang Randy yang kaya dari pada Bang Damar yang baik?" Nadira menyela.
Seketika semua yang ada di situ tertawa. Safira hanya mampu tersipu malu, menyadari telah terjebak oleh kata-katanya sendiri.
Hingga semua kembali diam saat Mamak berbicara.
"Mamak dan Ayah tak akan pernah ikut campur dengan jodoh yang akan kalian pilih. Tugas Mamak dan Ayah hanya mendidik kalian untuk menjadi jodoh yang pantas. Anak-anak laki-laki akan menjadi suami ... kepala rumah tangga ... harus bertanggung jawab, harus bisa memberi nafkah yang cukup, membimbing keluarganya dengan baik. Anak-anak perempuan akan menjadi isteri. Walaupun sekolah tinggi dan berkarir, tetap tak boleh lupa hakikat seorang isteri, merawat suami dan anak-anaknya. Sedari kecil Safira dan Nadira, Mamak ajarkan untuk pandai mengerjakan pekerjaan rumah tangga untuk menjadi bekal saat sudah berumah tangga kelak."
"Kalau Zagi sudah besar nanti, mau cari jodoh yang seperti Kak Cindai." Si bungsu tiba-tiba nyeletuk.
Aku menoleh padanya, "Kak Cindai? Siapa dia?"
"Kak Cindai itu guru di sekolah Zagi, jadi kalau di sekolah panggilnya Bu Guru Cindai, tapi kalo di luar panggilnya Kak Cindai. Kak Cindai itu orangnya sangat baik, selalu membantu kami belajar, terus selalu memberi kami hadiah alat tulis. Mamak saja kalau habis bertemu Kak Cindai suka senyum-senyum sendiri kayak orang yang jatuh cinta." Zagi menjelaskan.
Aku melirik ke arah Mamak, "Bagaimana bisa begitu, Mak?"
"Salahkah kalau Mamak kagum?" Mamak menjawab dengan tersipu.
"Tapi Cindai itu perempuan kan Mak?" tanyaku lagi.
"Mamak kagum pada Cindai karena dia itu perempuan yang baik. Tak ingatkah kau padanya Fadil? Teman masa kecilmu. Waktu kecil kalian sering bermain bersama."
Aku terdiam. Lalu ingatanku melayang ke beberapa tahun silam, masa kecilku. Bermain di kali dan sawah itulah yang sering kami lakukan.
Cindai ... aku mencoba mengingat sosoknya.
Hmm ... rasanya aku telah mengingatnya. Cindai ... si bocah buluk itu. Jenjang kelas kami terpaut tiga tahun. Karena dia lebih muda, dengan mudah aku mengejeknya.
Bagaimana tidak ... Cindai itu sangat lambat. Belum lagi secara fisik dia sangat menggelikan. Rambut mangkok lengkap dengan poni garis lurus, mirip pacar Boboho.
Mengingat hal itu seketika aku tertawa.
"Ha ... ha ... ha ...."
Mereka pun menoleh padaku penuh tanya akan arti tawaku.
"Fadil ingat, Mak. Si Cindai buluk rambut mangkok kan?"
"Itu kan waktu kecil, Fadil!" ucap Mamak geram.
"Tapi ... kenapa setiap pulang aku tak pernah melihatnya di kampung ini?"
"Waktu kau ke kota untuk lanjut SMA, Cindai pindah ke kampung neneknya, SMP sampai SMA di sana. Lalu setelah itu dia kuliah guru ke kota, kalau pulang dia tak ke kampung ini tapi ke kampung neneknya. Baru setelah selesai kuliah dia kembali ke sini, jadi guru kontrak di sekolah Zagi."
"Tahu ndak Bang, saking nge-fansnya Mamak ke Kak Cindai, tiap kali kita nunjukin foto Kak Naura yang cantik, Mamak malah bilang kalau Kak Cindai masih lebih cantik, padahal sudah jelas kalau Kak Naura itu mirip artis-artis di tv." Nadira menyela.
"Hussh!" Mamak geram pada Nadira.
"He ... he ... he .... Maaf, Mak. Rahasia kah?" Nadira meledek Mamak.
Mamak tak menjawab hanya memberikan simbol dengan telunjuk yang dilekatkan ke bibirnya.
Rasa penasaran akan sosok Cindai, menyeruak di benakku. Seperti apakah wujudnya kini hingga membuat Mamak kagum padanya. Bahkan ... menganggap dia lebih baik dari Naura.
Tunggu dulu ... gadis bermasker itu! Bukankah dia meyebut namanya saat itu? Ya, Cindai! Dan ... barang-barang yang dibawanya adalah alat tulis.
Berarti ... Cindai yang mereka maksud adalah gadis bermasker yang ku temui di perjalanan itu.
__ADS_1
Yang menurutku ... dia gadis yang konyol!
***