CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Menjemput


__ADS_3

Sinar matahari yang menembus langit biru bertabur awan putih jatuh menyapa bumi. Menghangatkan jiwa-jiwa dari kehampaannya.


Burung-burung bersorak sorai meriuhkan lagu-lagu pelipur lara. Menenangkan hati yang gulana.


Bunga-bunga bermekaran menaburkan aroma keharumannya. Menerapi imaji yang hilang arah.


Indah sekali hari ini.


Bilakah alam turut serta memvisualisasikan suasana hatiku yang bergelora, sungguh aku bersyukur.


Hari ini kami akan bertemu lagi. Dia yang beberapa hari ini mengusik alam pikiran, menyelami rasa di danau hati.


Secepat inikah cinta bisa hadir? Tidak, ini bukan soal waktu tapi bagaimana cara cinta itu timbul. Bukan pula sekadar kepuasan mata, tapi bagaimana keegoisan hati dapat ditaklukkan.


Kecantikan lahiriah dapat memudar, tapi pesona yang terpancar dari nurani akan abadi. Itulah mengapa, hasratku untuk memburunya begitu menggebu-gebu.


Memburu hatinya ....


Setelah yakin penampilanku rapi dan memadai sebagai pengantar undangan, aku pun berpamitan pada Mamak menuju rumah Mono. Sebuah jaket kulit andalan tak lupa ku kenakan untuk menghindari teriknya mentari menyentuh kulit. Sesampai di sana, undangan-undangan itu sudah ditata dalam sebuah keranjang rotan, tinggal ku bawa.

__ADS_1


Sekarang saatnya menjemput Cindai di sekolah. Adik-adikku tahu kegiatanku hari ini sehingga kehadiranku di sana tak membuat mereka kaget. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya yang dinanti muncul juga.


Rupanya diapun sudah berganti pakaian. Mungkin dia sengaja membawa pakaian ganti pikirku.


"Sudah lamakah menunggu, Bang? sapanya setelah menghampiriku.


"Lumayan lah. Hmm ... mungkin alangkah lebih baik bila kita saling bertukar nomor hape supaya komunikasi lebih lancar."


"Kita kan sudah bertemu. Jadwal mengantar undangan kan hanya hari ini."


"Apakah komunikasi kita hanya sebatas kegiatan hari ini saja? Apa setelah ini kita tak berkomunikasi lagi?"


"Ada ... banyak."


Jawabku membuatnya terdiam. Namun pandangan kami saling beradu. Tepat di saat itu sesosok pria menghampiri kami. Mengganggu momen sakral ini.


"Cindai," ucap pria itu.


Aku dan Cindai pun memalingkan muka padanya.

__ADS_1


"Bang Rahmat?" desis Cindai.


Ahh ... dia lagi! Sontak raut wajahku bersungut. Selalu saja dia datang di saat yang tak tepat.


"Usahakan undangannya tersebar sebelum sore, dan segeralah pulang," lanjut Rahmat pada Cindai.


"Cindai tak bisa memastikan, Bang. Tapi bila memang bisa selesai lebih cepat, tentu lebih baik," balas Cindai.


"Tak perlu kuatir, Mat. Aku akan mengantar Cindai pulang tanpa kurang apapun. Tentu itu tanggung jawabku pada orang tuanya karena Cindai masih milik mereka." Aku menyela di antara mereka.


Kontan wajah Rahmat mengecut. Mungkin tersinggung dengan ucapanku. Tapi aku tak peduli, setidaknya perkataanku bisa menyadarkan bahwa Cindai bukanlah miliknya.


"Selama ini Cindai selalu bersamaku, itu yang diketahui oleh orang tuanya. Jadi akulah yang lebih memiliki tanggung jawab pada orang tuanya." Rahmat membela diri.


"Sudah ... sudah! Tak perlulah berdebat. Menjaga diriku adalah tanggung jawabku sendiri. Ayolah kita berangkat sekarang." Cindai nampak kesal. Segera diraihnya helm yang terkait di motorku dan mengenakannya.


Aku pun kini mengambil posisi di kemudi motor, menghidupkannya dan bersiap melaju setelah Cindai berada di boncenganku.


Sejenak kutoleh ke arah Rahmat yang masih berpijak di situ. Ekspresi manyunnya tak berubah walau aku telah menyunggingkan senyum padanya. Dan senyumanku itu mengiringi deru gas yang melajukan motorku. Pergi bersama Cindai.

__ADS_1


***


__ADS_2