
Suasana terminal bus malam ini lumayan ramai, sepertinya banyak yang hendak berangkat ke kota. Secarik tiket telah kuperoleh, dengan memilih tempat duduk di samping sopir.
Bus belum melaju karena masih menunggu penumpang memenuhi semua kursi.
Aku duduk sembari termenung, mengenang sembilan hari yang sudah kulalui di kampung. Terutama mengenang dirinya.
Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya sedemikian rupa. Bagaimana gadis itu berbeda dalam menjerat hatiku.
Oh tidak! Aku tak boleh memikirkannya lagi. Semua sudah selesai. Tak ada lagi harapan, tak boleh ada lagi perasaan.
Semua itu harus kulenyapkan.
Kupejamkan erat-erat kedua mata, berharap dapat membuang jauh-jauh kenangan sembilan hari itu.
Tap tap tap ....
Tap tap tap ....
Terdengar suara langkah kaki sesorang yang tampak terburu-buru di bus itu. Namun karena duduk di kursi depan sebelah sopir, aku tak dapat melihat apa yang terjadi di deretan kursi penumpang.
"Permisi, Pak. Permisi, Bu." Suara wanita samar-samar kudengar di antara tapakan langkahnya yang terburu-buru itu.
Sepertinya dia sedang mencari sesuatu yang berada di dalam bus.
Samar-samar kudengar suara dan langkah wanita itu mengelilingi area dalam bus. Selang beberapa saat kudengar lagi langkah kakinya menuruni bus melalui pintu yang berada tepat di belakang kursiku.
Mungkin dia hanya fokus mencari sesuatu di area penumpang sehingga tak memeriksa area sopir. Mungkin saja dia lupa kalau masih ada satu kursi penumpang di samping sopir, pikirku.
Tapi apakah sebenarnya yang sedang dicari oleh wanita tadi? Rasa penasaran menggiringku menoleh ke jendela, berusaha melihat sosok yang baru turun dari bus ini.
Seorang wanita yang sedang berjalan tampak dari belakang. Aku tak bisa melihat wajahnya.
Tapi ... tunggu ...! Dia memakai sebuah jaket kulit berwarna hitam.
Dan aku mengenal jaket itu.
Ingatanku melayang di hari ketika aku dan Cindai mengantar undangan pernikahan Murni. Saat itu hujan turun dan aku memberikan jaket itu untuk dipakai olehnya.
Entah kekuatan apa yang mendorong tubuhku untuk seketika berdiri dan bergegas turun dari bus.
"Cindai!"
Seruku membuat wanita itu berhenti berjalan. Dia bebalik menoleh padaku.
"Bang Fadil," serunya.
Seiring dengan itu, ia berlari ke arahku. Menghambur tubuhku dengan pelukannya.
Entah mengapa, aku pun menyambutnya. Memeluknya.
"Jangan pergi, Bang," sahutnya diiringi isak kecil tangisnya.
"Mengapa?" tanyaku.
"Karena saya mencintaimu," jawabnya lirih.
"Apa?"
Pelukan kami terbuka.
"Apa yang kau katakan tadi?" Aku mengulangi tanya.
"Saya mencintaimu Fadil Abian." Cindai menatap lekat kedua mataku.
"Bukankah kau dan Rahmat ...."
"Kau salah paham. Apa yang ada dalam pikiranmu tak seperti yang sesungguhnya terjadi."
__ADS_1
"Maksudmu ...."
"Bang Rahmat telah tahu perasaanku padamu. Saya telah menceritakan semuanya, bahwa saya telah jatuh cinta padamu. Bahwa kau adalah orang yang dijodohkan padaku sejak bayi."
"Kau ... sudah tahu?"
"Ya. Ibu sudah memberi tahu tadi sore. Sebenarnya, saya enggan menonton pertandingan sepakbola itu, tapi ibu menyuruhku untuk pergi. Ibu bilang bila Kampung Manggis menang, ia akan memberi tahu tentang jodoh masa kecilku. Makanya begitu pertandingan usai, saya segera pulang."
Cindai berhenti sejenak, menatapku sendu.
"Tahukah kau, betapa bahagianya mengetahui jodoh kecilku adalah dirimu, Fadil Abian, lelaki yang sudah membuatku jatuh cinta hanya dalam beberapa hari perjumpaan. Saya bahagia karena kedua sosok yang saya cintai ternyata adalah orang yang sama. Saya sudah mencintaimu bahkan tanpa pernah mengetahui siapa dirimu. Namun ternyata di dunia nyata, pun jatuh cinta padamu," lanjutnya.
Mataku menatapnya penuh cinta. Sungguh setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat gejolak di dadaku semakin bergelora. Kawah cintaku meluap-luap.
"Saat itu, saya ingin segera menemuimu. Namun, Bang Rahmat datang tepat saat saya hendak pergi. Dia memang datang untuk menanyakan jawaban atas lamarannya. Namun saat itu juga kukatakan padanya tentang perasaanku padamu," terangnya lagi.
"Apakah lantas dia marah padamu?" tanyaku.
Cindai menggeleng lalu berkata,
"Tidak, dia memahaminya. Bang Rahmat mengerti bahwa cinta itu hal yang suci, tak bisa dipaksakan."
"Lalu ... yang kulihat itu ...?"
"Saat itu ada yang meneleponku. Ibu Ratna, sahabatku, mengabarkan bahwa Ratna sedang berada di rumah sakit. Ia memintaku datang bersama Bang Rahmat. Ratna adalah-"
"Mantan kekasih Rahmat?" Aku menyela.
"Kau tahu?"
Aku mengangguk. "Lalu?" lanjut tanyaku.
"Ratna mengalami KDRT. Suaminya kini ditahan di Kantor Polisi. Ibu Ratna bilang bahwa Ratna meminta bertemu dengan Bang Rahmat. Awalnya Bang Rahmat menolak untuk ke sana, saya memohon padanya hingga dia setuju. Mungkin ... kejadian itulah yang kau lihat."
Aku terdiam. Benar kata mamak, apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya terjadi. Rasa cemburu kala itu tak hanya membakar hati, tapi juga pikiranku.
Kuraih kedua telapak tangan Cindai. Menggenggamnya.
"Maafkan saya juga. Membuatmu harus merasakan kerisauan ini. Kami berada di rumah sakit hingga malam. Mempertemukan kembali Bang Rahmat dengan Ratna adalah keinginanku yang terpendam. Saya kira itu tak mungkin terjadi. Namun takdir telah tertulis. Bagaimanapun saya tahu, mereka berdua masih sangat saling mencintai. Setelah ini, Ratna akan menggugat cerai suaminya. Bila Allah menghendaki, saya berharap Bang Rahmat dan Ratna bisa bersatu kembali."
"Sama seperti takdir kita?" Genggamanku semakin erat.
Cindai mengangguk dan tersipu.
"Lalu bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyaku lagi.
"Sesampai di rumah, saya berusaha menghubungimu tapi teleponmu tak aktif. Saya lalu memakai jaket ini dan berlari ke rumahmu, mencarimu. Tapi Mamak bilang kau sudah ke terminal, hendak kembali ke kota. Saat kutanyakan pada Mamak kebenaran tentang kita adalah jodoh masa kecil, Mamak membenarkan. Dia pun bilang bahwa kau sudah mengetahuinya serta memberi tahu alasanmu tak mengatakannya padaku. Saat itu saya tak dapat berkata lagi. Lantas pergi dan berlari. Beruntung ada Bang Mono yang sedang naik motor lewat, saya meminta tolong padanya mengantar ke sini. Tadi, saya telah memeriksa semua penumpang di dalam bus, mencarimu. Tapi tak menemukanmu. Tahukah kau ... tadi saya sangat takut, bila kamu telah pergi maka kamu akan melupakan saya. Saya takut ... kamu tak akan mencintai saya lagi. Takut kamu tak-"
Kuhentikan ucapan Cindai dengan menaruh telapak tangan kananku di mulutnya. Walaupun keinginanku sebenarnya adalah menutup mulutnya menggunakan kecupan.
Tapi tidak ... aku belum memilikinya seutuhnya.
"Tak ada yang akan kehilangan karena kita akan bersama selamanya," ucapku mesra.
Sejurus kemudian aku berlutut di hadapannya sambil menggenggam kedua tangannya.
"Duhai Cindai Alina, nama indah yang berarti kain sutera dari surga, aku Fadil Abian dengan ini meminta dirimu untuk menjadi bagian dari hidupku. Maukah kau menemani masa depanku, mengisinya dengan cinta dan kebahagiaan? Maukah kau mendampingiku, menjadi satu-satunya wanita yang bertahta di hatiku? Sehidup semati sebagai suami dan isteri?"
Aku melamar Cindai.
Dia tersenyum bahagia, namun ada haru di sana. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Cindai mengangguk.
"Iya. Saya mau," jawabnya lirih.
Sesaat setelah Cindai berucap terdengar riuh tepuk tangan. Aku dan Cindai menoleh, rupanya sudah banyak orang yang mengelilingi kami.
__ADS_1
Tentu saja kami tak menyadari kehadiran para penonton itu. Namun sekilas kuamati wajah-wajah mereka. Ada yang tersenyum sumringah, ada pula yang sedang mengusap-usap matanya.
Aku dan Cindai saling berpandangan, tawa pun tak terelakkan. Bagaimanapun rasanya malu juga menjadi tontonan seperti itu.
Segera kuambil kembali ranselku di bus, kemudian meraih dan menggenggam erat tangan Cindai, dan mengajaknya berlari.
Pergi meninggalkan terminal itu. Mengajaknya pulang untuk mengabarkan berita bahagia ini kepada keluarga kami.
Atau bahkan ke seluruh dunia.
Kekasihku, matahariku .....
Ketika hati ini seperti bunga yg sudah layu.
Terasa kering, tak ada semangat lagi untuk tumbuh.
Seperti serpihan pasir di pantai.
Benar-benar kering….
Namun ketika itu, tanpa pernah tersadari,
bahwa matahari masih ada.
Bahwa langit tak selamanya gelap.
Ada unsur hara yang menumbuhkan kembali,
semangat hidup dalam cinta dan kasih….
Cinta dan kasih….
Dari tatap mata penuh arti.
Dari harapan indahnya impian.
Dari kesetiaan dan kejujuran.
Seorang kekasih….
Kekasihku… pujaan hatiku....
Tetaplah di sampingku,
agar bunga cinta ini terus berkembang.
Memberikan warna indah dunia kita.
Menebarkan aroma kebahagiaan.
Dan takkan pernah terpisahkan.
Engkau datang seperti matahari.
Memberi cahaya dan kehangatan.
Jangan pernah berhenti menyinari,
hati yang tercipta untukmu.
Dan senantiasa berkata ... aku mencintaimu ....
###
Perjalanan cinta Fadil dan Cindai belum berakhir di sini. Masih ada tiga hari sebelum dua belas hari. Masih banyak hal yang terjadi dalam tiga hari itu.
Penasaran?
__ADS_1
Yuk kekepin novelnya sudah ready.
Chat messanger FB DARRELLOFA SANTOSO