
Hari kelima di kampung.
Pagi ini di dapur, aku duduk di meja makan menikmati pisang goreng dan teh hangat.
Adik-adik sudah ke sekolah. Mamak dan ayah telah siap dengan busana pantas mereka untuk menuju rumah Mak Jenab, dimana akan berlangsung akad pernikahan Murni, adik Mono.
Mereka memilih menghadiri akad nikah, sedangkan aku akan menghadiri acara resepsi malam nanti.
"Halo, bagaimana Mi? Apa? Ya ampun, habis makan apakah kau?" Dari arah ruang tengah mamak muncul ke dapur sambil memegang telepon genggam yang diarahkan di telinganya.
Mamak nampak sedang menyimak jawaban dari lawan bicaranya. Tak lama, ia kembali berucap membalasnya, "Tapi suamimu ke acara kan? Baguslah. Nanti ku sampaikan pada Jenab tentang keadaanmu. Kau istirahatlah. Oh iya, nanti kusuruh Fadil kesana membawakan daun jambu biji."
Mendengar namaku disebut tentu saja menggerakkan kepalaku menoleh pada Mamak. Sampai akhirnya obrolan telepon Mamak berakhir dan ia menghampiriku.
"Dil, bisakah kau petik sekantong daun jambu biji di belakang rumah itu, lalu bawalah ke rumah Mak Rahmi, ibu Cindai."
"Oh tadi yang telepon ibu Cindai ya, Mak? Memangnya ada apa dengan beliau?" tanyaku.
"Semalam dia makan rujak pedas, katanya sejak pagi dia terus buang air. Kasian dia sendiri di rumah, Cindai mengajar dan Pak Agus akan ke acara akad. Kau temanilah dia dulu sampai ada yang pulang."
Tentu saja aku tak akan menolak perintah Mamak ini. Kapan lagi ada kesempatan untuk cari muka di depan calon mertua. Memangnya hanya Rahmat yang bisa?
Lagipula ... ah aku teringat janji pada Cindai, mencari tahu tentang jodoh tak jelasnya. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
"Siap, Mak!" Aku bergegas mengambil kantong plastik dan menuju ke belakang rumah. Memetik helai-helai daun jambu biji muda.
Mamak dan ayah akan memakai motor, jadi aku akan berjalan kaki saja ke rumah Cindai.
Rumah bercat hijau itu nampak sepi. Aku telah berada di teras rumah Cindai.
"Assalamualaikum, Bu ... Ibu ...." sapaku sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam." Ibu Cindai membuka pintu. "Fadil, cepat sekali sudah di sini."
"Iya, Bu. Waktu Mamak bilang kalau Ibu sedang sakit, Fadil langsung bergegas memetik daun jambu dan ke sini. Ini Bu daun jambunya," ucapku seraya menyerahkan kantong plastik yang kubawa.
"Makasih ya Nak. Lalu apa kau akan langsung pulang?" tanya Ibu Cindai.
"Mamak memberi amanah pada Fadil untuk menemani Ibu sampai Cindai atau Bapak pulang," jawabku.
"Wah, Ama itu selalu begitu. Terlalu khawatir padaku. Baiklah, ayolah masuk. Kita langsung ke dapur saja, Ibu mau membuat minuman daun jambu ini."
Aku mengikuti langkah Ibu Cindai menuju dapur. Sesampai di sana, wanita paruh baya itu mulai memetiki daun jambu untuk dicuci.
"Biar Fadil yang kerjakan, Bu. Ibu duduklah di situ, wajah Ibu nampak pucat." Aku meraih lengannya dan menggiringnya duduk di kursi makan.
"Ah ... apa kau bisa?" tanyanya.
"Tentu. Resep ramuan penyembuh diare ini sudah pasti kuhapal. Mamak selalu memberi kami air rebusan daun jambu ini tiap kali diare."
Ibu Cindai tersenyum. Aku pun kembali ke meja dapur, menyalakan kompor dan memasak air di sebuah panci kecil. Daun-daun jambu biji itu kupetik per helai dan mencucinya.
Tak lama kemudian air rebusan dan jambu biji itu sudah jadi. Sengaja kutambahkan sedikit gula aren yang kutemukan di dapur agar rasanya sedikit manis.
"Bu, minumlah ini," ucapku sembari menyerahkan cangkir padanya.
Beliau menyambutnya dan segera meneguknya hingga tandas.
"Hmm ... lezat kali rasanya. Kenapa bisa berbeda saat kau yang membuatnya?" gumamnya.
"Itu karena Fadil membuatnya dengan penuh cinta," ujarku.
__ADS_1
"Hah? Kau cinta pada Ibu?"
"Iyalah, sama seperti Fadil cinta pada Mamak."
Mak Rahmi tersenyum simpul.
Kini, aku sudah mengambil tempat duduk di hadapannya. Sepertinya inilah kesempatan untuk mengulik lagi informasi tentang jodoh Cindai itu. Sebenarnya aku sudah tak peduli tentang sosok tak jelas itu, tapi karena ini keinginan Cindai, maka harus kulaksanakan.
"Bu ... ceritakanlah pada Fadil tentang masa remaja Ibu dahulu, tentang kawan-kawan Ibu. Siapakah kawan Ibu yang paling dekat?" Aku memulai ulikan.
"Hah? Kenapa kau ingin tahu tentang itu?"
"Fadil sangat suka mendengar cerita nostalgia," alibiku.
"Oh begitukah? Baiklah, Ibu akan bercerita."
Mak Rahmi berhenti sejenak, matanya nampak nanar, seperti sedang menerawang.
Sesaat ia kembali melanjutkan, "Sewaktu remaja ibu punya banyak kawan. Kami selalu bermain bersama, berlatih memasak bersama serta belajar pelajaran sekolah bersama. Tapi dari semuanya, ada satu orang yang sangat dekat dengan Ibu. Dialah sahabat sejati Ibu."
"Siapakah dia, Bu?" tanyaku perlahan.
"Dia seorang wanita yang baik hati, selalu membantu dan menemani Ibu dalam suka dan duka. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat karena nama kami pun sangatlah mirip."
Ibu Cindai tak menyebut secara langsung namanya, tapi dia hanya memberikan gambaran dan petunjuk. Aku harus berpikir, menemukan siapakah sahabatnya itu. Bukankah dia menjodohkan Cindai dengan putera sahabatnya. Tapi, apakah sahabatnya yang dimaksudnya kali ini adalah orang yang sama?
"Hmm ... rupanya karena bersahabat dekat seperti itu sampai-sampai Ibu saling menjodohkan anak?" gurauku.
"He-he-he, bisa jadi begitu."
Huffhhh .....
Ternyata orang yang sama!
Tunggu! Aku tiba-tiba teringat kata-kata Mamak tadi, 'bawalah ini ke rumah Mak Rahmi, ibu Cindai'. Berarti nama beliau adalah Rahmi.
Lalu sahabatnya memiliki nama yang mirip dengannya. Rahmi ... Rahmi ....
Ahh ... Rahma?
Apakah sahabatnya bernama Rahma? Oh tidak! Bukankah Rahma adalah ... nama mamak!
Otakku kembali berpikir. Bilakah benar sahabat yang dimaksud adalah Mamak, berarti anak lelaki yang dimaksud Ibu Cindai adalah ... aku. Glek!
Aku mencoba mengingat lagi untuk mengumpulkan lebih banyak asumsi. Dari cerita ibu Cindai sebelumnya, saat Cindai baru lahir, anak lelaki itu berusia tiga tahun.
Dan ... jarak usiaku dengan Cindai adalah tiga tahun.
Tapi ... apakah benar mamak dan ibu Cindai bersahabat sedekat itu? Yang kutahu mamak dekat dengan semua orang di kampung ini terlebih ibu-ibu.
"Nak, Ibu nampaknya ingin berbaring. Lanjut ceritanya nanti saja ya." Ucapan ibu Cindai membuyarkan lamunku.
"Oh iya, Bu. Mari Fadil tuntun ke kamar Ibu," ucapku.
Segera kupapah lengan beliau dan menuntunnya ke kamar. Memastikan beliau berbaring untuk beristirahat.
"Fadil akan menunggu di ruang tengah. Kalau Ibu butuh sesuatu panggil Fadil saja," kataku.
Beliau mengangguk dan kemudian mulai memejamkan matanya. Aku pun berlalu menuju ruang tengah.
Di ruang tengah itu banyak sekali foto, menarik netraku untuk mengamatinya satu per satu, mulai dari yang dipajang di bufet maupun digantung di dinding. Foto-foto masa kecil Cindai seketika membuatku tersenyum sendiri. Beruntung dia sedang tak ada, sehingga aku bebas tersenyum. Bila tidak, dia pasti akan marah dan menghukumku karena aku sudah berjanji untuk tak mengulik masa kecilnya lagi, masa saat dia masih culun.
__ADS_1
Pandanganku beralih ke foto masa remajanya. Ah, rupanya semenjak remaja dia sudah mulai nampak manis. Saat itu dia pasti sudah tak tinggal di kampung ini.
Dan foto dewasa Cindai kini membuatku terpaku. Sungguh, gadis ini sangat menarik. Bila saja dia tinggal di kota, mungkin akan banyak pria yang sudah mendekatinya.
Sekitar satu jam kuhabiskan untuk mengamati foto-foto Cindai tanpa ada rasa bosan. Sampai sebuah salam terdengar dari luar rumah disertai ketukan pintu.
Aku berjalan membuka pintu ruang tamu.
"Mamak? Sama siapakah ke sini?" tanyaku setelah membuka pintu.
"Mamak naik ojek tadi.Bagaimana keadaan Mak Rahmi, Dil?," ucap mamak sembari memasuki ruang tamu.
"Beliau sedang tidur, Mak."
Mamak pun berjalan menuju kamar ibu Cindai. Sebuah rantang susun tertenteng di tangannya.
Saat mamak masuk ke kamar, rupanya ibu Cindai sudah bangun. Aku mengikuti di belakang mamak.
"Bagaimana keadaanmu, Mi?" tanya mamak.
"Alhamdulillah, Ma, ini sudah mendingan. Air daun jambu buatan Fadil benar-benar mujarab," jawab ibu Cindai sembari melirikku.
"Syukurlah, Mi. Eh, ayolah makan dulu. Lihatlah ini kiriman dari Jenab. Tadi usai akad, saya langsung berpamitan untuk kesini, lalu Jenab menyuruh membawakanmu makanan pesta. Dul dan Agus masih di sana," ujar mamak seraya menyampaikan bahwa ayah dan bapak Cindai masih berada di tempat pesta.
"Wah, saya jadi lapar mencium aroma makanan itu. Ayolah ke dapur," ujar ibu Cindai.
Mereka berdua pun berjalan bergandengan ke dapur, dan aku kembali mengikuti sekaligus menyimak obrolan dan tingkah laku mereka.
"Duduklah, Mi. Biar kutatakan makanannya," ucap Mamak.
Aku pun bergegas mengambil beberapa mangkok dan piring, memberikannya pada mamak. Makanan-makanan dalam rantang pun telah berpindah tempat.
Sesaat kemudian mamak menyendokkan nasi, capcay dan tumis daging ke piring dan memberikannya pada ibu Cindai.
"Makasih, Ma. Kalian memang sahabat-sahabatku. Seharusnya hari ini saya turut berbahagia di acara pernikahan Murni, tapi malah sakit begini," ucap ibu Cindai sembari mulai menikmati makanannya.
"Tak apalah, Mi. Namanya juga sakit, siapa yang bisa sangka?" hibur mamak.
Aku masih mengamati kedua wanita paruh baya itu. Namun kini aku menemui kebingungan, Mak Jenab adalah sahabat baik ibu Cindai juga. Dia pun punya anak lelaki yaitu Mono.
Soal nama yang mirip, mungkin saja Mak Jenab punya nama panjang dimana kata lainnya mirip dengan nama Mak Rahmi.
Tapi ... Mono kan sudah menikah! Bilapun jodoh bayi Cindai adalah Mono, setidaknya sudah tak menjadi penghalang bagiku.
"Beruntung memiliki kamu sebagai sahabat sejatiku, Ma," ucap Mak Rahmi kemudian.
Dan, tentu saja aku terkejut!
Ya, Tuhan! Ternyata sahabat sejati ibu Cindai adalah mamak. Ibuku.
Berarti telah pasti, anak-anak yang dijodohkan sewaktu kecil itu adalah Cindai ... dan aku!
Apakah aku senang? Sejujurnya iya. Namun, apakah harus memberitahu Cindai tentang ini?
Tidak! Aku memutuskan untuk tidak memberi tahu padanya tentang hasil penyelidikanku.
Mengapa? Bukankah Cindai justru akan semakin mudah memberikan jawaban atas penyataan cintaku? Ya, itu memang benar, tapi bukan itu yang kuinginkan darinya.
Aku menginginkan cinta Cindai atas diriku yang sekarang, atas perjuangan cintaku saat ini. Yang kuinginkan adalah penerimaannya karena benar-benar mencintai diriku yang nyata.
Percuma saja bila dia menerima cintaku hanya karena ternyata akulah jodoh masa kecilnya, bukan karena benar-benar mencintai diriku yang sekarang. Aku tak menginginkan cinta semu seperti itu.
__ADS_1
***