CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Jodoh Sejak Bayi?


__ADS_3

Cindai berjalan gontai memasuki ruang tamu. Terlihat wajah manis itu memucat. Sisa-sisa ketegangan masih tergurat di situ.


Segera ku perbaiki posisi duduk, berharap ia tak curiga bila aku sudah menguping pembicaraannya dengan Rahmat tadi.


"Bang, maaf ... rasanya Cindai lelah. Bolehkah Cindai masuk untuk istirahat? Nanti Cindai bilang pada Ibu untuk menemani Abang," ucapnya padaku dengan suara lemah.


"Ohh ... sakitkah kamu? Hmm ... sepertinya iya, wajahmu pucat. Iya, masuklah beristirahat. Tadi Ibu memintaku menunggu, tak enak bila aku pergi," balasku sambil mengamati wajahnya yang pucat itu.


Cindai mengangguk lalu beranjak hendak masuk.


Namun aku kembali bertanya, "Lalu tadi Rahmat ...." Aku memberi kode dengan telunjukku yang mengarah ke luar rumah.


Cindai menoleh dan berkata, "Dia sudah pergi." Lalu ia kembali berbalik dan berjalan masuk ke ruang dalam.


Aku menunggu di ruang tamu sembari mengingat percakapan antara Cindai dan Rahmat tadi. Misteri hubungan mereka mulai terungkap. Ada persahabatan, ada penghianatan, dan ada cinta.


Namun yang pasti, Rahmat sudah menyatakan cintanya pada Cindai. Bahkan, sudah berniat menikahinya.


Sesungguhnya saat ini ada rasa tak karuan di dalam hatiku. Langkah Rahmat sudah sangat jauh di depan. Dia sudah berani melamar Cindai, sedangkan aku ... mengartikan perasaan pun belum pasti.


Tak lama kemudian Ibu Cindai keluar menghampiriku. Membuyarkan lamunku.


"Nak Fadil, maaf ya menunggu sendiri. Cindai lelah dan sepertinya dia kurang enak badan. Ibu sudah mengantarkan makanan di kamarnya, jadi sekarang kita makan berdua saja ya."


"Iya, Bu. Tak mengapa," jawabku.


Aku mengikuti langkah ibu Cindai menuju ruang makan, mengambil tempat duduk di meja makan. Tak lama kemudian ibu Cindai sudah menyendokkan nasi, sayur asem, tempe dan tahu goreng ke dalam piring yang ada di hadapanku.


"Ayo coba cicipi masakan Ibu," ucap beliau.


Aku pun mulai menyendokkan makanan itu ke dalam mulut. Sesaat mengunyahnya dan meresapi rasa nikmatnya.


"Hmm ... masakan ibu sangat lezat, tak ada beda dengan masakan Mamak."


Ibu Cindai tersenyum senang lalu berkata, "Cindai pun dapat memasak seperti ini."


"Pasti Ibu yang mengajarinya."


"Hmm ... tidak. Cindai belajar sendiri."


Aku memandang wajahnya dengan sedikit mengernyitkan dahi. Menandakan ada tanya heran di situ.

__ADS_1


Ibu Cindai memahami maksudku, lalu melanjutkan penjelasannya,


"Sejak masuk SMP dia pindah ke Kampung Durian, tempat neneknya, ibu dari bapak Cindai. Kala itu nenek sudah sakit-sakitan, tapi beliau tak mau ikut tinggal bersama kami. Enggan meninggalkan kampungnya. Lalu, Cindai memutuskan untuk pindah ke sana, merawat neneknya."


Ibu Cindai terdiam sejenak seperti sedang menerawang masa lalu, kemudian melanjutkan,


"Cindai adalah anak tunggal Ibu dan Bapak. Tentu saat Cindai memutuskan untuk pindah ke sana, ada rasa sedih ... tapi juga senang. Sedih karena Cindai tak lagi tinggal bersama kami, senang karena di usia semuda itu dia sudah memiliki rasa tanggung jawab dan peduli. Selama tinggal bersama neneknya Cindai melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Memasak, mencuci, dan pekerjaan rumah lainnya sudah menjadi hal biasa baginya. Bersekolah sambil merawat neneknya. Dia baru saja kembali tinggal bersama kami sejak menjadi guru di sekolah kampung ini beberapa bulan yang lalu."


Diam dan menyimak. Mengamati setiap mimik yang tercipta dari wajah wanita paruh baya yang sedang berkisah itu. Hanya itu yang ku lakukan.


Dan aku terpesona pada kisah itu.


"Jadi, Cindai tak ada adik, Bu?" tanyaku.


"Iya, makanya dia sangat menyayangi anak kecil. Sejak kecil dia sangat ingin memiliki adik, tapi Allah tak berkehendak memberikan anak lagi untuk Ibu dan Bapak."


Telah banyak hal tentang gadis yang menarik perhatianku itu ku ketahui kini.


Kemuliaan dalam balutan kekonyolan.


Kecantikan dalam selimut kesederhanaan.


Ketangguhan dalam bingkai kepolosan.


Namun, masih ada hal lain yang ingin ku ketahui. Hal yang selama ini masih bergentayangan menghantui ketenangan hati.


Tentang jodoh yang pernah dikatakan Cindai.


"Bu ... hmm anu ... Cindai pernah bilang bahwa dia sudah memiliki jodoh. Hmm ... benarkah begitu?" Akhirnya pertanyaan itu mendarat dengan lancar, walau dengan nafas yang tertahan.


"Jodoh?" Ibu Cindai tertawa kecil.


Sedangkan aku masih menunggu kelanjutan jawabannya dengan irama jantung yang tak beraturan. Bulir keringat perlahan mengucur dari pelipis. Gugup.


"Iya, Cindai memang sudah memiliki jodoh sejak bayi," lanjutnya dengan mata berbinar.


Glek! Air liur yang menyangkut di tenggorokan kini tertelan. Ku sapu bulir keringat yang sudah berhenti di pipi.


Rasanya tubuh ini lunglai mendengar jawaban Ibu Cindai. Seperti ingin segera pulang dan tidur di pangkuan Mamak sembari mencurahkan isi hati. Namun aku belum mengetahui lebih jauh tentang jodoh Cindai itu.


Jodoh sejak bayi? Bagaimana itu bisa terjadi? Siapakah pria yang sudah dijodohkan dengan Cindai bahkan semenjak bayi itu?

__ADS_1


"Ba ... bagaimana bisa begitu, Bu? Apa Cindai tahu siapa jodohnya itu? Dan ... apa mereka sekarang menjalin hubungan?" Aku kembali memberanikan diri bertanya.


"Jadi, waktu Ibu baru melahirkan Cindai, seorang sahabat Ibu datang untuk menjenguk. Dia membawa anak lelakinya yang berusia tiga tahun. Kala itu Ibu masih ingat, anak lelaki itu terlihat sangat menyayangi Cindai, dia terus menciuminya. Bahkan saat hendak dibawa pulang, bocah itu menangis, tak ingin berpisah dari Cindai."


Ibu Cindai berhenti sejenak. Tampak binar-binar di matanya semakin berkilau kala ia bercerita.


Tak lama kemudian ia kembali melanjutkan,


"Lalu Ibu dan Bapak bersama sahabat Ibu dan suaminya sepakat untuk menjodohkan anak-anak kami itu. Sejak Cindai berusia tujuh tahun, Ibu selalu menceritakan tentang jodohnya itu. Tapi Cindai tak pernah mengetahui siapakah dia. Tahu kah kau ... sewaktu kecil setiap Nak Fadil mengejeknya, Cindai selalu pulang dan bertanya pada Ibu tentang siapakah jodohnya itu. Katanya dia ingin agar jodohnya itu memukulmu Fadil. He-he-he ...."


"Ibu pun tahu bila waktu kecil Fadil suka mengejek Cindai? Ma ... maafkan Fadil, Bu." Aku berkata dengan tertunduk. Sungguh aku sangat malu pada ibu Cindai.


"Heh ... kenapa minta maaf? Itu kan hanya kenakalan anak-anak."


Wajahku kembali memandangnya sembari tersenyum. Hatiku sedikit lega. Ibu Cindai tahu aku sering menjahili puterinya sewaktu kecil, tapi ia memakluminya sebagai kenakalan masa kanak-kanak. Artinya ia tak menyimpan marah padaku, dan aku masih bisa bertanya lagi, melanjutkan penyelidikan.


"Terima kasih bila Ibu memakluminya sebagai kenakalan masa kanak-kanak. Sejujurnya Fadil takut Ibu marah. Lalu ... apa sekarang Cindai sudah tahu siapa jodohnya itu?"


"Tidak ... sampai sekarang pun dia tak tahu."


"Tapi kenapa Ibu tak memberi tahu?" tanyaku semakin penasaran.


"Karena Ibu dan sahabat Ibu sudah sepakat, kami menjodohkan mereka melalui doa kami. Karena kami sadar, tak baik memaksakan kehendak pada anak. Hmm ... seperti yang terjadi pada Ratna, menikah dengan pilihan orang tuanya padahal dia mencintai pria lain. Kasihan gadis itu."


"Ratna? Siapa dia, Bu?" tanyaku seolah belum pernah mendengar nama itu. Padahal jelas masih hangat dalam ingatanku tentang pembicaraan antara Cindai dan Rahmat tadi.


"Ratna adalah sahabat Cindai, warga kampung Durian. Mereka sudah berkawan sejak SMP. Bahkan selalu bersama hingga kuliah, dan sama-sama menjadi guru. Ratna dahulu adalah kekasih Rahmat, yang merupakan kakak kelas mereka di sekolah. Ratna dan Rahmat menjalin kasih sekian lama, hingga sebulan yang lalu orang tuanya memaksa untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka."


Ibu Cindai berhenti sejenak, nampak pancaran kesedihan dari kedua indera penglihatannya. Tak lama kemudian ia kembali melanjutkan,


"Gadis itu tak mampu meyakinkan orang tuanya untuk pilihannya sendiri. Ibunya jatuh sakit saat Ratna menyatakan menolak perjodohan itu. Akhirnya gadis malang itu tak punya pilihan lain, menikah dengan pria yang tak dicintainya. Rahmat yang ditinggal menikah pun memutuskan untuk pindah sekolah tempat mengajar ke kampung ini, di sekolah yang sama dengan Cindai."


Sekarang aku mengerti maksud pembicaraan Cindai dan Rahmat tadi. Penghianatan, persahabatan, cinta, dan pelarian adalah sekelumit hubungan di antara tiga insan itu.


Hubungan yang rumit antara Cindai dan Rahmat setidaknya masih menyimpan celah yang bisa disisipi. Dan tentang pria yang sudah dijodohkan dengan Cindai, ku rasa bukanlah suatu penghalang karena sosoknya yang tak ada kejelasan.


Aku harus memantapkan hati. Melangkah dengan pasti. Sebelum celah kecil yang ada semakin menutup.


Bagaimanapun kebersamaan Cindai dan Rahmat jauh lebih lama. Sahabat jadi cinta adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Kedekatan yang terus-menerus bisa saja membuat Cindai akhirnya luluh dan menerima pinangan Rahmat.


Aku harus meyakinkan diri, menelisik nurani. Memastikan ini adalah benar-benar cinta. Bukan sekadar rasa kagum sesaat.

__ADS_1


Ya Tuhan, beri hamba satu kesempatan lagi untuk lebih mengenalnya ... untuk lebih dekat dengannya.


---


__ADS_2