CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Perjalanan pulang kampung dimulai. Aku kini sedang duduk di sebuah kursi di dalam bus yang akan membawa penumpangnya ke kampung halamanku. Kurang lebih enam jam perjalanan yang akan ditempuh mulai dari terminal kota sampai di terminal kampung.


Pukul 2 dini hari waktu yang ku pilih untuk memulai perjalanan ini agar tak terlalu siang sampai di kampung.


Udara terasa dingin, semakin menambah rasa kantuk yang masih menerpa. Perlahan ku pejamkan mata menuruti kehendak untuk tidur sembari menunggu bus ini penuh dan melaju.


"Aww ... aduh ... maaf ... maaf ya Bang."


Suara samar seorang wanita disertai ambrukan beberapa barang yang dibawanya tepat di kakiku membuat mataku terbuka.


"Sekali lagi maaf Bang, saya tidak sengaja."


Seorang wanita muda berhijab tampak sedang berusaha memungut kembali beberapa barangnya yang jatuh tadi.


"Tak apa-apa, Dek." Aku langsung membantu memungut sebuah kantung di bawah kakiku.


"Terima kasih Bang." Setelah menyimpan barang-barangnya dengan rapi di kolong kursi, ia beringsut duduk di kursi sampingku.


Aku hanya mengangguk, mengamatinya sebentar namun tak terlihat jelas wajahnya. Dia memakai masker. Flu mungkin menjadi sebabnya, suara sengaunya menunjukkan itu.


"Mau ke kampung mana Dek?" tanyaku sekadarnya.


"Ke Kampung Manggis, Bang."


"Oh, sama."


Jawabanku membuatnya berpaling padaku. Sepertinya ia mencoba mengamatiku lebih seksama.


"Abang juga warga Kampung Manggis?"


"Iya," jawabku singkat.


Sesaat dia mengernyitkan dahi, entah apa maknanya. Mungkin karena dia merasa tak mengenaliku sebagai warga sekampungnya.


Terang saja, sejak SMA aku sudah merantau ke kota, hanya pulang saat libur panjang. Terlebih setelah bekerja, hanya pulang saat lebaran.


Setelah itu tak ada lagi percakapan antara kami. Gadis itu pun sepertinya merasa kantuk. Matanya sudah terpejam, aku pun demikian. Bus kini melaju.


Beberapa waktu kemudian aku tersentak. Kepala gadis itu kini ada di bahuku. Sepertinya kepala itu terurai di situ tanpa disadarinya. Dia masih tidur.


Aku membiarkannya tetap begitu, rasanya kasihan bila membangunkannya.


Pukul 8 pagi, bus berhenti di terminal. Terdengar gemuruh langkah dan suara penumpang yang turun.


Gadis yang terlelap di bahuku akhirnya terbangun. Sesaat dia mengucek matanya, lalu menoleh padaku.

__ADS_1


"Eh ... sejak kapan kepala saya ada di bahu Abang?" Mata gadis itu nampak sedikit melotot.


"Kenapa tanya padaku?" Aku sedikit geram dengan pertanyaannya. Sudah membuat bahuku pegal, malah melotot padaku.


"Oh ... ya ampun. Maaf Bang! Berarti waktu tertidur saya tak sengaja nyender di bahu Abang ya? Tapi ...."


"Tapi apa?"


"Tapi kenapa Abang tak memindahkan kepalaku? Nampaknya Abang mengambil kesempatan ya?"


"What? Enak saja!"


"Lalu?"


"Lalu tanya saja pada kepalamu itu. Minggir saya mau lewat."


Posisiku yang sudah berdiri membuatnya memiringkan kedua kakinya. Aku melewatinya lalu berjalan menuruni bus itu.


Hufffhhh.


Sekarang waktunya mencari angkutan umum yang akan mengantarkan ke rumah. Saat hendak menuju ke salah satu angkot, tiba-tiba suara dari belakang membuatku menoleh.


"Awww ... aduh!!!"


Seorang wanita tersungkur di tanah. Sebuah kardus dan dua kantung plastik besar yang isinya telah berserakan di sekitarnya sepertinya menjadi penyebab ia terjatuh. Barang bawaannya terlalu banyak, tak seimbang dengan kekuatannya.


"Terima kasih." Tanpa menatapku gadis itu berucap sembari ikut membereskan barang bawaannya itu.


"Sama-sama." Kepalaku mendongak padanya. "Kamu?"


Ternyata gadis bermasker itu lagi!


"Eh ... Abang?" Dia menundukkan kepalanya, mungkin menyesal dengan sikapnya sebelumnya.


"Sudahlah, mari biar ku bantu membawa kardus itu. Sepertinya berat." Aku bergegas meraih kardus di sampingnya. "Kamu mau naik angkot yang mana?"


"Angkot yang sama dengan Abang saja."


"Oke."


Aku berjalan menuju sebuah angkot. Dia mengikuti dari belakang.


"Ayo Bang, di sini sisa dua tempat lagi." Kondektur angkot berkata padaku.


Ku tengok ke dalam angkot, memastikan tempat yang kosong memang cukup untuk dua orang.

__ADS_1


"Naiklah duluan," kataku pada gadis itu.


Dia naik memasuki angkot. Aku menaikkan kardus dan dua kantung plastik miliknya, lalu menempatkan dudukku di sampingnya.


Angkot itu kini melaju, menyusuri jalan kampung Manggis. Satu per satu penumpang sudah turun. Sisa kami berdua.


"Kiri Bang."


Gadis itu meminta pada sopir agar menghentikan angkotnya di depan sebuah lorong kecil. Rupanya lorong tempat tinggalnya bersebelahan dengan lorong rumahku.


"Kamu turun di sini?" tanyaku padanya.


"Iya Bang."


"Bagaimana barang-barangmu ini? Mau kau gotong ke rumahmu sendiri? Rumahmu masih di dalam lorong itu kan?"


"Anak-anak itu akan membantuku." Jemarinya menunjuk ke arah segerombolan anak lelaki dan perempuan yang berlari dari dalam lorong itu.


"Kakak ... mana barang-barang Kakak? Yang inikah?" Seorang anak lelaki memunculkan kepalanya ke dalam pintu angkot.


"Iya kardus dan dua plastik itu," jawab gadis itu.


Anak-anak itu lalu beramai-ramai mengangkat barang-barang itu. Sembari tertawa dan bercanda, mereka menggotongnya memasuki lorong kecil itu.


"Bang, saya duluan ya. Hmm ... terima kasih atas bantuan Abang, dan ... hmm ... maaf soal yang tadi. Saya harap Abang ... tak marah."


"Oke. Tak apa."


Gadis itu turun, membayar ongkos angkotnya.


"Dua orang ya Bang," katanya pada sopir angkot itu.


"Ehh ... kamu tak perlu membayar sewa angkotku," sergapku saat mendengar perkataannya.


"Tak apa, sebagai rasa terima kasih saya untuk Abang ...?" Nada bicaranya seperti menanyakan namaku.


"Fadil. Namaku Fadil."


Dia tersenyum lalu berkata, "Saya duluan Bang Fadil."


Tubuhnya berbalik seiring dengan tuntasnya ia menyebut namaku. Berjalan maju.


"Hei! Dan kamu?" tanyaku setengah teriak.


Ia kembali menoleh. "Cindai," jawabnya.

__ADS_1


Lalu ia tersenyum, nampak walau wajahnya tertutup masker. Kemudian ia benar-benar berbalik dan berlalu, seiring berlalunya angkot yang membawaku ke lorong sebelah.


***


__ADS_2