CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Gantung


__ADS_3

Langit senja telah teduh. Tak ada lagi hujan, angin dan petir.


Hanya hatiku yang masih berkabut sebab cinta belum bersambut.


Entah berapa banyak waktu yang akan terbunuh, menanti jawaban itu datang.


Tapi biarlah masa terus berlalu, aku akan tetap menunggu sembari memastikannya tetap ada di sini ... di hatiku.


Roda motor bergulir membawa perjalanan pulang kami. Sebelum mengantar Cindai ke rumahnya kami singgah sebentar ke rumah Mono untuk mengembalikan keranjang tempat undangan tadi serta memberitahukan laporan pelaksanaan tugas kami.


Namun sebelum kami beranjak pergi, Mono tiba-tiba teringat sesuatu hingga menghentikan kami.


"Dil, tunggu! Aku hampir lupa bilang, mulai Kamis sore kita latihan bola lagi, kamu ikut ya? Hari Minggu sore kita bertanding," ucap Mono.


"Bertanding? Dalam rangka apa?" tanyaku.


"Kampung Durian menawarkan pertandingan persahabatan dalam rangka uji coba sebelum turnamen antarkampung. Rahmat bilang mumpung kamu masih di sini supaya bisa ikut bermain. Dia ingin menjajal kemampuanmu yang sekarang, karena dia main di tim Kampung Durian," jelas Mono.


Rahmat? Apakah ide pertandingan persahabatan ini berasal darinya? Sebuah prasangka berputar dibenakku. Mungkinkah ada niat terselubung yang hendak disampaikan lewat pertandingan ini?


Jangan-jangan ... dia berniat mempencundangiku. Bukankah dahulu dia dan tim-nya selalu memenangkan pertandingan sepakbola itu? Ahh ... mungkinkah ini karena rasa cemburunya?


Dan Cindai ... akan berpihak ke tim yang manakah dia? Siapakah yang akan didukungnya?


"Oke, No. Aku ikut," ujarku mantap.


***


Sekarang kami sudah sampai di depan rumah Cindai. Dia turun dan menyerahkan helm.


"Makasih, Bang," ujarnya.


"Sama-sama. Dan ... tentang yang tadi, aku akan menunggu."


"Aku ... belum bisa memastikan berapa lama."


"Tak mengapa."


"Kapan Abang kembali ke kota?"


"Delapan hari lagi."


Kami saling terdiam sesaat sampai sebuah suara membuat kami berpaling.


"Cindai!" panggil suara itu.

__ADS_1


Seorang pria keluar dari dalam rumah.


"Bang Rahmat?" desis Cindai.


Untuk kesekian kalinya pria itu muncul di tengah momen kebersamaan kami.


Pria itu berjalan ke arah kami.


"Kamu kehujanan tadi?" tanya Rahmat pada Cindai sesampainya di tempat kami berada. Matanya nampak memperhatikan jaket yang dikenakan Cindai.


"Tak mungkin kami membiarkan diri kehujanan, sudah pastilah akan berteduh," jawab Cindai.


"Itulah sudah kubilang agar segera pulang. Lihatlah hari sudah sesore ini, sebentar lagi maghrib," ucap Rahmat lagi.


"Lho, bukankah Abang sudah tahu tadi kalau hujan turun?" gumam Cindai.


"Ya, maksud Abang sebelum langit mulai mendung kenapa tak segera pulang."


"Bagaimana mungkin kami pulang bila tugas belum tuntas. Lagipula apa kami tahu kalau langit akan mendung?"


"Sudahlah, Mat. Yang terpenting kan Cindai sudah pulang dengan selamat," selaku.


Rahmat menoleh padaku. "Oke. Terima kasih," ujarnya.


"Lho, tak perlu berterima kasih. Itu memang sudah tugasku," kilahku.


"Iya, dia sudah bilang tadi," jawabku.


"Kamu ikut kan?" tanyanya lagi.


"Pastilah," jawabku mantap.


"Baguslah. Aku rindu melihat ekspresimu setiap kali pertandingan sepakbola kita berakhir," ucapnya disertai senyum sindiran.


Ya, dia sepertinya memang sedang menyindirku. Dahulu aku dan timku memang selalu kalah, dan usai pertandingan aku memang selalu menangis. Tak hanya menangis di lapangan, tapi sampai di rumah dan lanjut menangis di pangkuan Mamak.


Tapi itu dulu, ketika masih kanak-kanak, SD hingga SMP.


Sungguh sindirannya itu tepat mengenai hatiku. Sebuah tekad untuk menang pun seketika menggebu-gebu.


Rupanya dugaanku benar, Rahmat berniat mempencundangiku. Tapi ini bukan sekadar pertandingan sepakbola tapi juga pertandingan hati. Dia pasti hanya ingin membuatku terpuruk di hadapan Cindai.


Mungkin dia tengah berharap, kemenangannya atas pertandingan sepakbola kali ini dapat menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dariku.


"Tenang saja, Mat. Ekspresi itu kali ini akan berbeda. Apalagi ... bila Cindai bersedia menonton pertandingan itu," kataku seraya melirikkan mata pada Cindai.

__ADS_1


"Aku ... memang sejak dulu selalu menonton pertandingan sepakbola antarkampung," gumam Cindai.


"Dan dia selalu menjadi supporter tim Kampung Durian," sela Rahmat.


"Ooo ...?" tanyaku.


"Kan sejak SMP aku pindah ke sana," jawab Cindai.


"Lantas tak mendukung tanah air?" lanjutku.


"Kampung Durian juga tanah leluhurnya. Tapi yang jelas tak mungkinlah dia mendukung tim yang dikapteni orang yang dibencinya." Rahmat yang menjawab.


Setelah mendengar jawaban Rahmat aku kembali menoleh pada Cindai.


"Tak tahukah ... jarak antara benci dan cinta bahkan lebih dekat dari sehelai benang," ucapku.


Cindai nampak gugup. "Itu ... hanya kebencian masa kanak-kanak," ucapnya kemudian.


"Ha-ha-ha ...." Aku tertawa. Lalu kupalingkan wajah pada Rahmat, "Kau dengar kan? Dia hanya membenciku di masa kanak-kanak, tapi sekarang tak benci lagi."


Wajah Rahmat kembali mengecut.


"Sudahlah, kita lihat saja nanti. Tim siapa yang akan menang." Rahmat menatapku penuh perlawanan.


"Baiklah," balasku.


"Cindai, ayo masuklah istirahat," ucap Rahmat pada Cindai kemudian.


Cindai mengangguk, lalu berkata padaku, "Cindai masuk dulu, Bang."


Aku menjawab dengan anggukan disertai mata yang mengatup. Namun karena teringat sesuatu, aku kembali memanggilnya. "Cindai, tunggu!"


Dia menoleh, begitupun Rahmat. Aku mengeluarkan telepon genggam, lalu menyerahkan pada Cindai.


Dia seolah mengerti maksudku dan mulai mengetikkan beberapa angka di menu panggilan telepon, setelahnya ia kembali menyerahkan gawai itu padaku.


Aku menekan tombol panggilan, seketika hape yang ada di tas Cindai berdering.


"Itu nomorku. Oke, aku pulang dulu."


Cindai hanya mengangguk, sedangkan Rahmat nampak tak suka dengan adegan yang barusan terjadi. Namun ia tak berdaya menghentikannya. Hatinya mungkin semakin gusar, aku dan Cindai sudah saling bertukar nomor telepon.


Cindai berjalan menuju rumahnya masih dengan mengenakan jaketku. Mungkin dia lupa menyadarinya, dan aku pun tak mengingatkan.


Biarkanlah jaket itu terus dikenakan untuk menghangatkan tubuhnya sembari menanti waktunya tiba dimana cintaku menghangatkan hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2