CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Tentang Rahmat


__ADS_3

"Assalamualaikum." Sebuah suara memecah keheningan antara aku dan Cindai.


"Waalaikumsalam." Kami membalas salam itu bersamaan dan kompak menoleh pada arah datangnya suara tadi.


"Bang Rahmat?" desis Cindai.


Astaga, kenapa pria itu sudah berada di sini? Aku menatapnya tak berkedip hingga dia melangkahkan kaki masuk dan duduk di kursi samping Cindai.


"Tadi aku menelepon Bang Yono yang punya bengkel motor langgananku itu. Dia datang membawa ban pengganti, jadi tak menunggu lama, motorku suda bisa dipakai lagi." Rahmat bercerita tanpa ada yang menanyakan.


"Lalu, Abang ada perlu apa ke sini?" tanya Cindai pada Rahmat.


"Mengapa tak meneleponku? Abang kuatir jadi mampir ke sini untuk memastikan kamu sudah sampai, " jawab Rahmat.


Sejujurnya aku merasa mual mendengar tutur kata Rahmat, namun mencoba menahannya walau jadinya tenggorokanku terasa gatal.


"Cindai bukan anak kecil, Bang," gumam Cindai.


"Bisakah kita bicara di teras sebentar saja?" tanya Rahmat pada Cindai lagi.


"Bicara apa, Bang? Kenapa tidak di sini saja?"


Rahmat terdiam sejenak, lalu berpaling menatapku seolah hendak menyampaikan pada Cindai bahwa obrolan mereka bisa terdengar olehku bila dilakukan di ruang tamu itu.


"Di luar saja." Rahmat berdiri sembari menarik tangan Cindai. Gadis itupun turut berdiri dan berjalan mengikuti Rahmat ke luar rumah.


Alamak ... rasanya tak terima melihatnya menarik tangan Cindai seperti itu. Namun aku tetap diam di situ.


Tubuhku diam, tapi radar pendengaranku mengencang. Sebisa mungkin harus bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mengapa dia ada disini?" desis Rahmat setelah mereka berada di teras.


"Aku menawarinya mampir. Memang kenapa?"


"Untuk apa menawari dia mampir?"


"Dia sudah berbaik hati mengantarku pulang."

__ADS_1


"Sudah sedekat apa kalian?"


"Kami sudah berteman sejak kecil."


"Bukannya Fadil sering mengejekmu waktu kecil. Kau dulu sering bercerita tentangnya padaku kan? Kamu hanya melewati masa kecil sampai tamat SD di kampung ini. Setelah itu kau tinggal di kampung Durian, dan akulah teman dekatmu sampai sekarang. Fadil itu hanya teman masa kecil yang tak penting bagimu."


Jantungku berdegup kencang mendengar perkataan Rahmat. Rupanya dia tahu cerita masa kecilku dan Cindai. Benarkah Cindai begitu dekat dengannya hingga menceritakan tentang masa kecilnya itu setelah ia pindah ke kampung Durian dan tinggal di sana bersama neneknya? Sekampung dengan Rahmat.


"Teman dekatku adalah Ratna. Bang Rahmat hanyalah kekasih teman dekatku," gumam Cindai.


"Jangan sebut nama itu lagi!" Rahmat tampak geram.


"Tak mungkin aku berhenti menyebutnya. Ratna adalah sahabatku sampai kapanpun."


Aku mulai bingung dengan obrolan mereka. Ratna? Sahabat Cindai? Kekasih Rahmat? Lalu mengapa Rahmat tak suka mendengar nama itu disebut oleh Cindai?


"Cindai, aku akan melamarmu." Rahmat berkata sambil memegang kedua bahu Cindai.


Seketika raut wajah Cindai menegang, begitu juga denganku. Rasanya ketegangan ini sangat menyiksa. Ketegangan menunggu jawaban yang akan diberikan Cindai pada Rahmat.


"Sudah berulang kali Cindai katakan, hubungan kita hanya sebatas kawan, sampai kapanpun. Bang Rahmat tidak mencintaiku. Di hati abang masih ada Ratna, mendekatiku hanya untuk mengobati luka hati abang." Cindai berucap sambil menepis kedua tangan Rahmat dari bahunya.


"Itu hanya perasaanmu Cindai. Aku bersungguh-sungguh ingin menikahimu." Rahmat mencoba meyakinkan Cindai.


"Bang Rahmat dan Ratna sudah berpacaran sejak SMP sampai sebulan yang lalu. Ratna adalah sahabatku, tentu semua hal tentang kalian aku tahu. Hubungan yang sangat lama membuat perasaan cinta kalian berdua sangat dalam. Kita menjadi kawan karena Ratna. Bang Rahmat hanya sedang patah hati, marah dan benci. Ingin menikahiku bukan karena cinta tapi pelampiasan, sebagai pelarian."


"Pelampiasan? Untuk apa?"


"Untuk membalas Ratna, membuat Ratna merasakan sakit seperti yang Abang rasakan. Menikahiku sebagai sahabatnya pastilah akan menyakitkan buatnya."


"Penghianat itu bahkan pantas untuk disakiti lebih dari itu, tapi aku tak mungkin menjadikan dirimu sebagai alat untuk membalasnya."


"Ratna bukan penghianat. Dia terpaksa, Abang tahu itu."


"Aku sudah tak peduli padanya. Sekarang aku hanya peduli padamu Cindai. Menikahlah denganku ...." Rahmat memelas.


"Tidak, Bang!"

__ADS_1


"Apa karena laki-laki itu?" Rahmat berkata sambil menunjuk ke arah dalam rumah.


Tentu saja yang dimaksudnya adalah diriku. Dan aku menunggu jawaban dari Cindai.


"Bang Fadil tak ada hubungannya dengan penolakanku."


"Sejak kau datang dari kota tempo hari, sikapmu memang agak berubah. Kamu bertemu dia lagi sejak saat itu kan?"


"Sudah ku katakan Bang Fadil tak ada hubungannya dengan ini!" seru Cindai lantang.


"Kamu menyembunyikan sesuatu. Jujurlah, apa kau mulai menyukainya?"


Cindai diam. Dia menatap tajam pada Rahmat, nafasnya tak beraturan. Aku dapat merasakan Cindai murka pada Rahmat. Rahmat terlalu mendesaknya, seolah Cindai ada di bawah kekuasaannya.


Atau lebih tepatnya, Rahmat sedang dilanda cemburu ... kepadaku.


"Tentang perasaanku, pada siapapun, itu bukan urusan Abang. Jangan mengekangku seolah aku ini milik Abang. Aku masih milik orang tuaku."


"Maafkan aku. Aku berniat baik padamu. Aku sungguh menyukaimu. Keinginan untuk menikahimu adalah dari hatiku. Bila tak memberi jawaban sekarang, aku akan menunggu. Tapi tolong, jangan marah padaku. Ku harap hubungan kita akan tetap seperti biasa. Aku akan tetap menjemputmu besok pagi, kita ke sekolah sama-sama seperti biasa."


Cindai hanya diam terpaku di pijakannya. Rahmat yang melihat kediaman Cindai pun tak berkata banyak lagi.


"Aku pulang dulu." Itulah kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum berlalu meninggalkan rumah Cindai.


Nampak wajah pria itu menjadi kusut, seolah tak memiliki gairah hidup.


Rupanya dia baru saja mengalami patah hati, sama seperti diriku. Dan Cindai menjadi pengobat hatinya ... juga sama seperti diriku.


Tapi ... Cindai tak ingin menjadi pengobat hati. Dia menganggap bahwa dirinya hanya dijadikan pelarian.


Ya, Tuhan ... aku jadi takut. Bagaimana jika perasaan ini tak dapat ku tahan lagi? Bagaimana jika aku mengungkapkannya, namun dia menolakku dengan alasan yang sama?


Dia tahu, aku baru saja patah hati. Aku takut Cindai menjauh. Aku takut kehilangan dia ....


Cindai bukanlah pelarian bagiku. Dia istimewa. Dia berbeda. Aku menginginkannya bukan sebagai pengganti Naura. Tapi aku benar-benar menginginkannya sebagai pengisi relung hatiku, sebagai belahan jiwaku.


Ya, Tuhan ... apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?

__ADS_1


***


__ADS_2