
Dengan segenap energi yang timbul dari rasa keingintahuan tentang Si Buluk yang kini tak buluk lagi itu, gas motor terus ku putar. Tentu karena mengikuti deru motor Pak Bagas yang juga laju.
Hingga beberapa kali Cindai nyaris merasa hendak terjengkang.
“Berpeganglah padaku, daripada kau jatuh. Bila aku tak cepat kita bisa tertinggal,” seruku.
Awalnya tentu dia sungkan. Biasalah wanita, mula-mula malu-malu. Hingga saat ia kembali hampir terjengkang, tangan kanannya pun terlingkar di perutku.
“Iya begitu dong,” desahku setelah itu.
“Kau jangan mengambil kesempatan ya. Aku begini karena terpaksa,” celetuknya.
“Kesempatan? Kesempitan iya. Hahaha ....”
“Seketika tangan kirinya mencubit bahuku.
“Aww ... sakit tau!” gerutuku.
“Makanya diamlah!” perintahnya.
Senyumku pun mengembang sembari terus melajukan motor.
Entah mengapa, saat ini ada rasa senang di dalam sini.
Hatiku ....
Akhirnya tujuan kami telah sampai, rumah Pak Bagas. Cindai segera turun mengikuti Pak Bagas, masuk ke dalam rumah. Aku menyusul setelah memarkirkan motor.
“Dita ... lihatlah siapa yang datang, Nak!” seru Pak Bagas terdengar.
“Ibu Guru Cindai?” gumam gadis kecil itu sembari berlari menuju pada Cindai.
Cindai yang dituju segera berjongkok dan membuka lebar tangannya membiarkan gadis kecil itu masuk ke dalam pelukannya.
Aku mengamatinya ....
“Sakit apa kamu Sayang?” tanya Cindai lembut.
“Dita demam Ibu Guru ... Dita rindu pada Bu Cindai. Hari Jumat, Dita masih ke sekolah, Dita sudah mengerjakan PR tapi Ibu Cindai tak masuk,” keluh gadis kecil itu.
“Maafkan Ibu, Sayang. Hari Jumat Ibu ke kota membeli alat tulis. Punya Dita pun ada. Besok Senin akan Ibu bawa ke sekolah. Makanya Dita harus mau makan, minum obat dan istirahat supaya besok bisa masuk sekolah.” Cindai berkata lembut.
“Tapi ... lihatlah dulu PR yang Dita kerjakan,” rengek Dita.
“Baiklah ....”
__ADS_1
Ibu Dita memberikan sebuah buku gambar kepada Cindai.
“Wah ... bagus sekali gambar yang Dita buat. Baiklah, Ibu akan langsung menilainya.”
Cindai menorehkan huruf A di buku gambar itu lalu menyerahkannya pada gadis kecil itu yang kemudian disambutnya dengan senyuman keceriaan.
“Nah sekarang, apa sudah waktunya minum obat?” Cindai kembali bertanya.
“Dia belum mau makan Bu,” sahut Ibu Dita.
“Manakah makanan itu? Alamak, Ibu Guru sangat takut bila nasi dan lauk pauk itu tak dimakan, maka mereka akan menangis dan mendatangkan hujan yang tak henti. Maukah begitu, Nak? Nanti ... sudah tak bisa kita bermain di lapangan saat jam isitirahat sekolah lagi.” Cindai berucap dengan ekspresi bak seorang pendongeng, dengan mimik wajah terkejut dan gusar.
Pandangan Ibu Dita dan Cindai saling beradu disertai kedipan mata, Ibu Dita seakan paham. Ia segera berlalu dan kembali dengan sepiring nasi dan lauknya, menyerahkannya pada Cindai.
“Nah ... sekarang nasi, sayur dan telur ini mau masuk ke dalam gua. Mereka hendak bermain di sana. Bukalah pintu guanya.” Cindai berkata sembari mengangkat sesendok makanan di depan mulut Dita.
Dita dengan ekspresi riang membuka katup bibirnya, melahap setiap makanan yang disendokkan oleh Cindai.
Dan aku ... masih di situ mengamati.
Cindai memang bukan seorang dokter, apalagi dukun. Tapi dia memiliki energi untuk bisa memberikan kesembuhan. Energi untuk memberikan kebahagiaan.
Karena dia punya ... kasih sayang. Itu yang sedang ku amati ....
Bila hanya karena dia seorang guru, tentu tanggung jawabnya hanya sebatas di sekolah. Tapi dia guru yang berbeda. Murid-muridnya begitu mencintainya. Bahkan adikku Zagi pun begitu memujanya.
Ya, hanya dengan hati lah seorang manusia dewasa bisa mengaitkan dirinya dengan jiwa-jiwa polos yang bernama anak. Cindai memiliki hati yang lembut dan tulus. Itu yang ku rasakan kini.
“Horeee ... habis deh sepiring.”
Ucapan Cindai sontak membuat Pak Bagas dan isterinya bertepuk tangan yang sekaligus membuyarkan hayalku ... tentang Cindai.
“Nah, sekarang waktunya minum obat.”
Cindai kembali menerima sebuah botol obat sirup dari Ibu Dita. Kini ia telah menuangkannya di sendok lalu memberikannya pada Dita. ‘Tuntas sudah pekerjaan Cindai,’ pikirku.
Ternyata ... salah!
Cindai mengantarkan gadis itu ke pembaringannya, lalu mengukur suhu tubuhnya. “38,” katanya seraya menengok pada Ibu Dita.
Setelah itu dia melirik padaku dan berkata, “Bang, pulanglah duluan. Cindai masih akan menunggu Dita sebentar.”
Aku menggeleng, “Tidak, aku akan menunggu.”
“Nanti Abang bosan.” Cindai berkata lagi, meyakinkanku untuk pergi.
__ADS_1
“Kita datang bersama, kembali pun akan bersama” jawabku lebih yakin.
Mendengar ucapanku wajah Cindai seketika memerah, serupa kepiting rebus.
“Terserah Abang lah ...,” lirihnya pelan.
Cindai kembali mengalihkan perhatiannya pada Dita, mengusap-usap kepalanya. Sesekali bersenandung kecil. Setengah jam kemudian Dita mulai terlelap. Cindai kembali meminta washlap dan air hangat untuk mengompres Dita.
Dan aku ... terus mengamati.
Setengah jam berlalu, Cindai kembali mengukur suhu tubuh gadis kecil itu.
“Alhamdulillah ... 37,” gumamnya sembari tersenyum.
“Alhamdulillah ....” Pak Bagas dan isterinya berseru bersamaan. “Terima kasih ya Bu Cindai, sejak pagi kami sangat kesusahan meminta Dita untuk makan dan minum obat, panasnya tak turun-turun. Maafkan kami karena sudah merepotkan Ibu, apalagi hari libur begini.” Bu Bagas berkata lagi.
“Sama-sama Pak, Bu. Tidak apa-apa kok, ini sudah menjadi hal biasa bagi saya. Hmm ... kalau begitu kami permisi dulu ya Pak, Bu. Semoga besok pagi kondisi Dita sudah benar-benar pulih supaya bisa masuk sekolah,” balas Cindai.
“Ehh ... anu ... maaf ini yang anterin Bu Cindai siapa ya?” Pak Bagas tiba-tiba menanyakanku.
Oh my God! Aku sudah berada di sini lebih dari satu jam, tapi mengapa baru menanyakanku sekarang? Apakah sejak tadi mereka pikir yang berdiri di sini adalah sebuah tiang atau patung?
Huffhhh ....
“Dia ... Bang Fadil, anak Paman Dul dan Mak Ama.” Cindai menerangkan.
“Ohh ... ya ampun! Kamu si Fadil? Lama sekali tak melihat dirimu, merantau ke kota sampai jarang pulang. Sekarang sudah dewasa dan gagah sekali. Kami pikir ... Bang Fadil tadi pacar Bu Cindai,” ucap Pak Bagas.
“Ya ... doakan saja lah,” jawabku nyeleneh.
“Aamiin ....” seru Pak Bagas dan isterinya bersamaan.
Tentu Cindai tak menerimanya. Wajah kesalnya sangat nampak. Namun, aku memang sengaja mengucapkannya karena tak mau terlalu lama berbasa basi.
Lagipula ... aku memang menikmatinya.
Kekesalannya ... amarahnya ... menggairahkan bagiku.
Tapi ... ini bukanlah sekadar kepuasan menjahilinya. Tapi seperti kepuasan karena mampu menguasainya. Menguasai lebih dalam ... tentang rasa ... tentang hati ....
Kini ... seakan ada hasrat yang bergentayangan dalam jiwa kelaki-lakianku.
Bukan lagi jiwa kekanak-kanakan yang hanya berakhir dengan tawa kemenangan saat manaklukkannya.
Gadis itu ... Cindai. Aku telah menemukan satu hal lagi dari dirinya, yang mungkin menjadi salah satu poin yang membuat Mamak mengaguminya.
__ADS_1
Dia peduli.
***