
Sesampai di kamar kontrakan, segera ku hempaskan tubuhku ke atas kasur. Remuk redam, hanya itu yang terasa kini.
Bulir-bulir bening pun mengalir dari kedua sudut mata. Ya, aku menangis! Jangan pernah bilang lelaki tak pernah menangis. Lelaki juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Eh ...!
Malam ini menjadi malam minggu paling kelabu yang pernah ku lalui. Guling dalam pelukan menjadi saksi, aku patah hati.
Mungkinkah aku telah kalah? Kalah pada takdir atau kalah pada nasib? Yang pasti jodoh yang ku impikan tinggallah mimpi. Mimpi yang terbawa dalam lelapku malam ini.
Beruntung hari ini Minggu, libur. Aku terbangun saat sinar matahari yang muncul dari sela-sela ventilasi tepat mengenai wajahku. Aku menyipitkan mata saat mencoba membukanya, sudah terlalu terik. Ku lirik ke arah jam dinding, rupanya sudah pukul 11 siang. Mungkin aku terlalu lelah hingga terbangun sesiang ini.
Lelah? Bukan tubuhku yang lelah tapi hatiku. Hikss ....
Naura ... aku kembali teringat padanya. Apakah semalaman dia menangis sepertiku? Pasti, ku yakin itu. Hatinya pun pasti hancur. Mungkinkah tangisannya sudah merubah keputusan orang tuanya? Tak ada salahnya kan bila aku masih menaruh setitik harapan? Untuk memastikannya ku raih gawaiku, siapa tahu Naura sudah mengirim sinyal itu.
Satu per satu aplikasi di gawai itu ku buka, panggilan, pesan, hingga whatsapp. Namun aku salah, tak ada satupun yang bertuliskan nama Naura di situ. Artinya Naura sama sekali tak menghubungiku.
Kontak Naura di whatsapp menarik netraku, ku pandangi foto profilnya, tak ada lagi wajahku di sana. Ya, sampai semalam Naura masih memajang gambar kami berdua yang duduk berdampingan sebagai display profilnya. Kini hanya ada foto selfinya seorang diri dengan senyum manisnya. Entahlah sejak kapan Naura menggantinya.
Rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh mengantarkan jemariku berselancar ke aplikasi facebook. Naura Salsabila. Nama itu sudah terpampang setelah mengetiknya di kolom pencarian.
Ya ampun! Foto profil fb-nya pun sudah berubah. Sama seperti display di wa-nya, wajahku sudah tak tampak pula di sini.
Namun itu belum seberapa, hubungan berpacaran yang menautkan akun fb-ku dan akun fb-nya sudah dihapus. Statusnya kini berubah menjadi 'single'. Dan sudah bisa dipastikan, simbol jempol dan hati bertubi-tubi membanjiri perubahan statusnya itu.
Tentu saja, aku tak heran dan bisa ku pastikan para penyumbang simbol itu adalah pria-pria yang sebelumnya pernah ku tumbangkan saat berburu cinta Naura.
Jemariku kembali menggeser layar hp di tanganku, masih di beranda facebook Naura. Sebuah status baru pagi tadi di buatnya. Kira-kira seperti inilah bunyinya, 'aku tak menginginkan seorang pria yang lemah, yang tak mau memperjuangkanku, terlebih tak berniat menjaga harga diriku dan keluargaku'.
__ADS_1
Entah mengapa dadaku terasa panas, nafasku sesak setelah membaca uraian kata-kata yang ditulis oleh Naura itu. Dalam waktu sekejap status Naura sudah dibanjiri berbagai komentar. Tentu mereka tahu, yang dimaksudnya adalah diriku seiring dengan putusnya tautan hubungan kami di facebook.
Oh, Naura ... mengapa kau corengkan lagi arang di wajahku? Tak cukupkah hanya di hadapan orang tuamu saja wajahku tertoreh arang? Haruskah seluruh dunia kini mengetahuinya? Bahwa aku, mantan kekasihmu ini lemah, tak mampu memperjuangkanmu, terlebih tak mampu menegakkan harga dirimu dan keluargamu.
Aku pun teringat kata-kata terakhir Naura semalam. 'Aku akan membuatmu menyesal karena sudah meninggalkanku!'
Apakah ini awal dari pembalasan Naura? Dia berusaha membuatku cemburu. Tidak, untuk apa lagi aku cemburu? Sudah tak ada hubungan apa-apa di antara kami. Apakah dia berusaha menyakiti hatiku?
Lalu ... apakah kau pikir hatiku tak sakit sejak semalam, Naura?
Tidak, aku bukan lelaki lemah. Dengan segera ku tutup aplikasi berwarna biru itu, menekannya agak lama disertai meng-klik 'uninstall'. Selesai! Aku memutuskan tak lagi membuka aplikasi itu, entah sampai kapan.
Urusanku dengan Naura memang sudah selesai, tapi belum bagi orang-orang yang mengetahui hubungan kami. Status perubahan hubungan antara aku dan Naura di facebook yang berkeliaran di lini masa mereka rupanya menjadi trending topic bagi teman-teman kantorku.
Hari ini aku masuk kantor seperti biasa. Sejak memasuki pintu gerbang hingga ke dalam ruangan kerja, tak henti-hentinya mereka melirik padaku sembari saling berbisik. Bahkan ada juga yang sampai menanyakan langsung, "Dil, kamu putus ya sama pacarmu yang cantik itu?" Aku hanya menyunggingkan senyum sembari terus berlalu.
"Fadil, kamu beneran putus sama Naura pacarmu itu? Padahal menurut Ibu, kalian pasangan yang serasi. Kamu ganteng, Naura cantik. Sayang sekali rasanya kalau memang benar-benar putus."
Ku tatap wajah Bu Mila atasanku itu. Selama ini aku sudah menganggap beliau seperti orang tua sendiri. Usianya memang di bawah ibuku, tapi banyak nasehat yang ku pinta darinya. Sekilas ku simak raut wajah Bu Mila, terlihat bahwa dia memang benar-benar sedih.
"Iya, Bu. Kami sudah putus."
"Bukankah kamu pernah bilang sama Ibu kalau kamu serius dengannya?"
"Iya Bu saya memang serius tapi jodoh tak berpihak pada kami."
Aku menundukkan kepalaku. Bu Mila menangkap raut kesedihanku. Ia pun tak melanjutkan lagi pertanyaannya, hanya sebuah petuah kecil yang terucap dari bibirnya.
__ADS_1
"Bersabarlah Dil, suatu saat kamu pasti bertemu jodoh yang terbaik."
***
Ini adalah hari kerja terakhir minggu ini. Sebenarnya hari-hari belakangan ini ku lalui dengan cukup berat. Biar bagaimanapun tak semudah itu membunuh waktu setelah patah hati. Apalagi ditambah dengan berita tentangku yang masih jadi trending di kantor. Masih ada saja yang menanyakan, walau tak pernah ku tanggapi dengan serius.
"Bu... Bisakah saya mengajukan cuti tahunan? Saya ingin pulang kampung," kataku pada Bu Mila di Jumat pagi ini.
"Boleh lah Dil, mau cuti berapa hari?"
"Sepuluh hari kerja Bu. Rencananya saya akan berangkat Sabtu besok, lalu Sabtu dua minggu depan balik lagi ke kota. Minggunya istirahat di kontrakan lalu Senin masuk kantor."
"Sepuluh hari rasanya terlalu lama, Dil. Tak kasihankah kau pada Ibu yang akan menyelesaikan pekerjaan seorang diri?"
"Lalu berapa harikah yang Ibu bisa setujui?" tanyaku.
"Kurangilah dua hari. Delapan hari kerja ditambah dua kali Sabtu Minggu berarti kamu berada di kampung dua belas hari," jawab Bu Mila.
"Baiklah, Bu. Kurasa dua belas hari cukuplah untuk menenangkan hati dan pikiran saya yang penat ini sekaligus melepas rindu pada mamak, ayah, dan adik-adikku."
"Iya, Dil. Semoga dalam dua belas hari itu kamu bisa melupakan kesedihanmu. Ibu juga doakan semoga dalam dua belas hari itu juga kamu bertemu jodohmu dan kembali ke sini untuk memperkenalkannya pada Ibu sebagai pendampingmu."
"Aduh, Ibu ini bisa saja. Mana mungkinlah Bu dalam dua belas hari bisa bertemu jodoh. Lagian ini kampung Bu, kalau ketemu sapi sama kambing mah banyak. Hehehe...."
"Kamu ini Dil, tak ada salahnya mengamini doa orang tua, apalagi Ibu berdoanya tulus. Kalau sampai dalam dua belas hari kamu bertemu kekasih hati, maka Ibu akan memberikan tambahan cuti yang dua harinya."
"Iya, maaf Bu ... maaf. Aamiin...."
__ADS_1
***