CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Kacau


__ADS_3

Hari ini rasanya hari yang paling tak menyenangkan selama liburanku di kampung. Perasaanku kacau. Amburadul.


Semalam sesampai di rumah, aku mencoba menghubungi Cindai, tapi hasilnya nihil. Telepon tak diangkat, pesan tak berbalas. Jangankan dibalas, whatsapp-ku pun tak dibaca, centang dua abu-abu masih menandainya.


Aku galau segalau-galaunya. Bahkan mungkin lebih dahsyat dari saat berpisah dengan Naura. Dan seperti biasa, aku harus menumpahkan curahan hati pada seseorang. Mamak.


"Mak ...."


Aku menghampiri mamak di dapur. Seperti biasa mamak sedang berjibaku dengan rutinitasnya saat penghuni rumah yang lain sudah berangkat menunaikan aktivitas masing-masing.


"Sudah bangun kamu, Dil?" tanya mamak.


Memang, tak seperti biasanya, hari ini aku bangun lebih siang. Bagaimana tidak, semalaman mataku tak bisa terpejam dan baru bisa terlelap menjelang pagi.


"Iya, Mak."


"Nampaknya acara semalam melelahkan ya sampai tidurmu lelap sekali?"


Ah, rupanya mamak mengira aku bangun telat karena kelelahan. Mamak harus tahu apa yang sedang terjadi padaku.


"Tidak, Mak. Fadil semalaman tak bisa tidur."


"Hah? Kenapa? Banyak nyamuk?"


"Maakk ...." Aku merengek.


"Ada apa denganmu, Fadil?" Mamak mulai curiga. Punggung tangannya diarahkan ke dahiku. Mungkin untuk memastikan apakah aku sedang sakit atau baik-baik saja. "Tak panas." Dahi mamak berkerut.


"Fadil tak sedang sakit badan, Mak. Tapi di sini," ucapku seraya menunjuk ke arah dada.


"Hah? Kamu ... masih memikirkan mantan kekasihmu itu?" tanya mamak.


Aku menggeleng dan segera menarik tangan mamak ke ruang tengah dan mengajaknya duduk melantai di karpet.


"Mak ... Fadil sedang jatuh cinta," ucapku sesaat setelah kami mengambil posisi duduk nyaman di karpet.


"Apa? Jatuh cinta? Pada siapa?" Mamak nampak kaget.


"Cindai," lirihku.


"Subhanallah ... alhamdulilah," ucap mamak dengan ekspresi bahagia.

__ADS_1


Aku memandang heran pada mamak, beliau pun menyadarinya dan langsung berkata, "Eh ... anu, maksud Mamak syukurlah kalau kamu sudah melupakan kesedihanmu dan jatuh cinta lagi."


"Fadil tahu, Mamak pasti senang bila Fadil jatuh cintanya pada Cindai. Mamak dan Mak Rahmi telah menjodohkan kami sejak kecil kan?"


"Heh? Bagaimana kau bisa tahu? Itu kan rahasia. Rahmi tak mungkin bilang." Mamak nampak penasaran.


"Fadil habis melakukan penyelidikan, jadi Fadil tahu sendiri."


"Kau jadi detektif?"


Aku mengangguk.


"Untuk apa?" lanjut mamak.


"Fadil sudah menyatakan cinta pada Cindai, tapi dia belum mau memberi jawaban sebelum bertemu dengan jodohnya itu. Dia memintaku mencari tahu tentang jodoh masa kecilnya dulu sebab ... Cindai mencintainya," jelasku.


"Baguslah, Nak. Kau kan sudah tahu, mengapa tak kau sampaikan padanya agar setelah itu dia bisa menerima cintamu? Bukannya cintanya akan semakin dalam bila tahu kau adalah jodoh masa kecil yang dicintainya itu?"


"Tidak, Mak. Fadil tak mau seperti itu. Fadil mau Cindai mencintai diri Fadil yang sekarang. Tapi kenyataannya, sekarang dia membenci Fadil."


"Membencimu? Oh tidak, Nak. Dia hanya kesal dengan kenakalanmu di masa kecil."


"Mak ... Fadil sudah menyakiti Cindai. Fadil melanggar janji."


Aku pun menceritakan segalanya pada mamak. Bagaimana rasa cinta ini mulai muncul, bahkan hanya dalam empat hari semenjak kami berjumpa lagi.


Kukisahkan pula bagaimana akhirnya perasaan itu telah kuutarakan, dan penantianku akan jawabannya.


Hingga akhirnya, bagaimana obrolanku bersama kawan-kawan semalam yang telah membuat Cindai marah dan tak lagi mau berbicara padaku.


Mamak mendengarkan dan memahami segala perasaanku. Pancaran matanya penuh banyak makna. Ada binar kebahagiaan dan sayup kesedihan.


"Fadil ... bila kau sungguh-sungguh yakin maka kejarlah. Namun bila kau ragu, tinggalkanlah," ucap Mamak setelah ceritaku usai.


"Fadil sungguh-sungguh mencintai Cindai. Tapi Fadil bingung sekarang harus bagaimana, makanya Fadil bercerita pada Mamak. Mungkin saja Mamak bisa membantu Fadil berbicara pada Cindai untuk memaafkan Fadil," ujarku.


Mamak menggeleng lalu tersenyum dan berkata, "Tidak, Nak. Mamak tidak akan melakukan itu."


"Mengapa, Mak? Bukankah Mamak mengagumi Cindai dan menginginkan dia menjadi menantu Mamak?" tanyaku.


"Mamak tak akan pernah ikut campur urusan percintaan anak-anak Mamak. Mamak hanya akan ikut campur dalam doa saja. Sekarang semua tindakan dan keputusan ada di tanganmu sendiri."

__ADS_1


Kusandarkan punggungku ke tembok, badanku melemas.


"Mungkin Fadil memang sudah benar-benar kalah sekarang. Mengapa takdir cinta Fadil selalu begini?" keluhku.


"Kalah? Kalah pada siapa? Kau hanya kalah oleh kekhilafanmu sendiri. Begitulah manusia bila berucap terkadang tak sadar diri, terbawa suasana dan arus perbincangan yang bisa membawa diri sendiri ke dalam petaka. Belajarlah dari setiap pengalaman yang terjadi."


Mamak berhenti sejenak, menatapku penuh kasih,


"Bila sebelumnya kau telah menang atas keegoisan, maka semalam kau telah kalah oleh kekhilafan. Mamak hanya akan membantumu lewat doa dan petuah. Dengarkanlah ini, wanita itu seperti Puteri Malu, bila didekati dia mengatup, saat dijauhi akan mengembang. Sesungguhnya bila wanita berkata tidak, itu artinya iya. Dan bila berucap jangan berarti harus."


Sejenak ia mengelus kepalaku, menarik nafas dan melanjutkan,


"Cindai marah padamu atas kekhilafan yang kau lakukan artinya ada rasa kecewa dari yang seharusnya diharapkan. Wanita yang setia akan selalu sulit bila harus berbagi hati. Tetapi bila itu terjadi, wanita memerlukan alasan sempurna untuk berpaling. Bila Cindai sudah menanam cintanya pada jodoh masa kecilnya tanpa pernah mengetahui sosoknya, itu sesungguhnya adalah cinta yang murni. Namun di sisi lain, dia telah terjebak dalam cinta yang nyata. Akan tetapi karena dia adalah wanita yang setia, tak semudah itu menghianati cinta murninya."


Ada banyak kiasan yang harus kucerna dari ucapan Mamak, namun bila kutanya artinya apa, Mamak pasti hanya akan bilang agar aku memikirkannya sendiri.


Dan benar saja, setelah itu Mamak berdiri, "Kau mandilah lalu makan, Mamak masih banyak kerjaan," ucapnya seraya bergegas menuju halaman belakang.


***


Sudah tiga hari aku tak berjumpa dengannya. Komunikasi pun tidak. Rasanya memang berat. Beruntung, latihan sepakbola setiap sore yang kulakukan bersama kawan-kawan dalam tiga hari ini, dapat sejenak membuatku melupakan kesedihan.


Dan besok sore adalah waktu pertandingan.


Mungkinkah kami akan bertemu? Bukankah dia akan datang menonton pertandingan sepakbola antara Kampung Manggis dan Kampung Durian?


Itulah yang sedang kupikirkan di peraduanku malam ini. Melepas lelah setelah berlatih sepanjang sore tadi.


Cindai ... masihkah dia marah padaku?


Ucapan Mamak kembali terngiang, 'kejarlah bila sungguh-sungguh, tinggalkan bila ragu'.


Ya Tuhan, tunjukkanlah lagi jalan untuk memilih langkah apa yang harus kuambil! Sungguh aku ingin mengejarnya, tetapi takut bila itu justru akan menyakitinya.


Sebab ... keyakinanku belum sempurna untuk memastikan bahwa rasa yang dimilikinya sama denganku.


Semoga, esok hari kutemukan jawaban untuk kepastian langkah yang akan kupilih, agar semua rasa ini tak semakin berlarut dalam ketidaktentuan.


Dan ... malam telah larut saat kubenamkan lelahku dalam pejaman mata di malam ke delapan aku berada di kampung halaman.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2