CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Rapat Panitia di Rumah Mono


__ADS_3

"Assalamualaikum." Sebuah salam tiba-tiba terdengar seiring dengan munculnya sosok yang mengucapkannya ke ruang makan itu.


"Waalaikumsalam," jawabku dan ibu Cindai serempak.


"Bapak sudah pulang ya?" tanya ibu Cindai pada suaminya yang baru datang itu.


Ibu Cindai segera berdiri dan menghampiri suaminya, meraih tas kerja yang dibawanya. Ayah Cindai adalah seorang pegawai negeri di kantor desa, itu yang ku ingat dan juga nampak dari seragam yang dikenakannya.


"Bapak agak telat pulang makan siang karena tadi singgah ke toko fotocopy. Ada banyak berkas yang harus dicopy," terang Bapak Cindai sembari duduk di salah satu kursi di meja makan itu.


Mendapati ada orang lain di situ, dia pun agak terkejut, memandangku seksama lalu bertanya, "Siapakah ini?"


"Ini Fadil, Pak. Sulung Pak Dul dan Mak Ama." Ibu Cindai menjawab seraya meletakkan sebuah piring dan gelas di hadapan suaminya.


"Hah?! Fadil? Ya ampun, lama sekali Bapak tak melihatmu. Segagah inikah sekarang? Tak seperti lelaki kampung. Kapankan kamu datang dari kota?"


Aku segera berdiri dan menyalaminya. Lalu berkata, "Iya Om, ini Fadil. Tiga hari yang lalu Fadil datang, cuti untuk melepas rindu dengan keluarga."


Ibu Cindai kembali datang membawa mangkuk berisi air cuci tangan dan meletakkannya di hadapan suaminya. Sesaat ia kembali ikut duduk di sampingnya.


"Sudahkah kamu bertemu dengan Cindai? Ahh ... bagaimanakah ekspresi Cindai bertemu jo ... aww!" Belum juga selesai ayah Cindai berucap, ia malah teriak. Seakan ada sesuatu yang menyakitkan dirasakannya.


Ibu Cindai menyeringai pada suaminya seiring menolehnya wajah pria paruh baya itu memberikan tatapan tanya. Sepertinya ibu Cindai sudah menginjak kaki ayah Cindai, karena kini ia tengah mengelus-elus punggung kakinya itu.


Belum juga aku bisa menjawab, ibu Cindai sudah mengarahkan kami untuk kembali melanjutkan makan siang itu. Tak ada lagi perbincangan tentang Cindai setelah itu. Mereka hanya lebih intens menanyakan kegiatanku di kota serta tentang pekerjaanku. Hingga setelah makan siang itu usai aku memutuskan untuk berpamitan pulang.


Saat berjalan ke luar rumah, melewati ruang tengah dengan beberapa pintu kamar, aku berhenti sejenak di depan salah satu pintu kamar yang memiliki tempelan ornamen khas kamar wanita. Entah mengapa batinku meyakini bahwa ini adalah kamar tidur Cindai.

__ADS_1


'Aku pulang dulu, cepatlah pulih,' batinku berkata.


***


Matahari telah terbenam seiring berkumandangnya adzan maghrib. Senja mulai berlalu berganti malam.


Kami sekeluarga telah usai menyantap makan malam bersama sesaat sebelum aku berpamitan untuk menuju ke rumah Mono.


Rumah minimalis itu terlihat sudah ramai. Menyadari kehadiranku, sang tuan rumah yang adalah kawan lamaku itu segera menyambut dan membawaku masuk ke dalam rumah. Berbaur dengan orang-orang yang sudah ada di sana.


Beberapa saat ku habiskan dengan saling bersapa dengan Pardi, Ucup serta beberapa kawan lama lainnya. Sesaat bercerita tentang masa lalu kami sembari tertawa.


Hingga saat sepasang pria dan wanita datang, kami semua berhenti bercakap. Mono menyambut mereka dan mempersilahkan duduk di tempat yang tersisa dari lesehan di ruang tamu itu.


Mengenali sepasang manusia itu tentu aku terkejut. Cindai dan Rahmat. Mereka datang bersama, artinya mereka sudah berbaikan.


Sorot mataku sedang bertanya, apa dia tak sakit lagi? Apa raga dan hatinya baik-baik saja?


Dan ... mengapa dia datang bersama Rahmat?


Sedangkan pria yang duduk di sampingnya itu, tentu pula mengetahui perbuatanku. Sorot matanya penuh rasa tak suka, tapi aku tak peduli. Perasaannya bukan urusanku dan cemburunya bukanlah masalahku.


Hingga saat Pardi yang memimpin pertemuan itu mengumumkan pembagian tugas, aku mulai mengalihkan perhatianku kembali ke acara, terlebih saat namaku disebut.


"Petugas pengantar undangan adalah Fadil dan Cindai."


Alamak ... ingin rasanya ku peluk Pardi saat itu. Bagus benar pembagian tugas yang dibuatnya. Sementara Rahmat kebagian tugas sebagai seksi pengamanan acara. Bisa jadi ini adalah bagian dari rencana kawan-kawanku itu untuk mendekatkanku dengan Cindai.

__ADS_1


Ku amati ekspresi Cindai. Awalnya senyum kecil mengembang saat mendengar nama kami berdua disebut. Tapi saat tatapan kami bertemu, dia kembali memasang tampang datar.


Ahh ... ada apa dengan gadis itu? Masihkah jual mahal padaku? Tapi aku tak peduli, karena Tuhan sudah mengabulkan permohonanku, memberikan satu kesempatan lagi untuk lebih dekat dengan Cindai.


"Tak bisakah aku saja yang mengantar undangan bersama Cindai?" sela Rahmat tiba-tiba.


"Maaf Bang Rahmat, panitia sudah disusun seperti ini. Jadi, kalau bisa diterima saja," jawab Pardi.


Mimik wajah Rahmat mengecut. Aku bisa merasakan hatinya panas. Terbakar cemburu padaku.


"Lalu mulai jam berapa besok kita bisa mengantar undangan?" tanyaku pada Cindai.


"Hmm ... mulai siang setelah aku selesai mengajar," jawabnya.


"Oke, kalau begitu besok siang akan ku jemput di sekolah. Sebelumnya aku akan mampir ke sini dulu mengambil undangannya."


"Ehh ... jemput di rumah saja, Bang. Biar Cindai pulang dulu untuk makan siang."


"Nanti malah terlalu siang, acara pernikahan kan lusa, jadi besok semua undangan sudah harus tersebar. Soal makan siang, kan banyak warung makan yang akan kita lewati."


"Iya, benar kata Fadil. Bagusnya langsung saja dijemput sepulang mengajar Dik Cindai." Pardi mendukungku.


"Baiklah," jawab Cindai disertai anggukan.


Ahh ... rasanya tak sabar menunggu hari esok. Meskipun malam ini Cindai datang dan pulang bersama Rahmat, tapi besok dia akan berada di sisiku sepanjang siang, sore dan bahkan sampai malam.


Tapi sesungguhnya aku menginginkannya berada di sisiku selamanya ....

__ADS_1


***


__ADS_2