
Waktu istirahat sudah selesai. Kedua tim sudah mengambil tempat di posisi masing-masing setelah bertukar lapangan. Wasit pun kembali meniup peluit untuk memulai babak kedua.
Menit ke-sepuluh, aku dan Mono saling mengoper bola hingga masuk ke area dalam pertahanan lawan. Duet maut kami rupanya mampu memporak-porandakan benteng mereka hingga akhirnya seorang pemain belakang tim Kampung Durian menendang bola ke luar lapangan.
Kesempatan untuk melakukan tendangan sudut bagi tim kami. Aku yang akan melakukannya. Di depan gawang kulihat beberapa kawanku yang bersiap menerima tendangan bola dariku.
Aku melihat posisi Mono sangat baik. Sorot mataku yang menatapnya tajam membuatnya mengerti maksudku. Sikapnya pun semakin siaga.
Tendangan sudut kutunaikan. Melesat melengkung menuju garis depan gawang. Mendarat tepat di sisi kepala Mono, yang dengan sekali hujaman tandukan mengarahkan bola melesat memasuki gawang tanpa terjangkau oleh penjaganya.
Gooollllll .... Riuh sorakan kelegaan dari para pendukung tim Kampung Manggis.
Aku dan kawan-kawan melakukan selebrasi dengan saling berpelukan. Sekilas kulihat wajah Rahmat, menunjukkan ekspresi tak suka. Kembali kupalingkan pandangan pada para pendukung utama yang ada di tribun. Tampak ketiga bocah itu berlompatan kegirangan sambil memukul-mukul botol plastik mereka.
Dan ... gadis berkaos biru berkerudung merah itu tampak mengurai senyum simpul di wajah manisnya. Aku melihatnya, tapi dia tak mengetahui itu.
Sejujurnya, melihatnya tersenyum jauh lebih membahagiakan daripada memenangkan pertandingan sepakbola ini. Tapi bagaimanapun pertandingan ini belum selesai, dan skor masih seri.
Setidaknya ... bila aku dan tim memenangkan pertandingan ini, ada sedikit celah yang bisa membawaku menemuinya. Meminta maaf padanya, bersujud di kakinya, menerima hukuman darinya. Hukuman apapun asal jangan dengan mendiamkanku seperti ini.
Apakah para wanita tak tahu bila pria merasa sangat tersiksa saat didiamkan? Mendengar amukan, cacian, omelan atau apapun itu akan lebih baik daripada didiamkan oleh wanitanya. Para wanita selalu mengira bila pria merasa baik-baik saja saat mereka mendiamkannya.
__ADS_1
Ya, pria memang masih akan tetap bisa melakukan kegiatannya seperti biasa, tapi para wanita tak pernah tahu apa yang terjadi di dalam hati. Kami para pria merasakan derita yang luar biasa.
***
Pertandingan kembali dilanjutkan. Kiper tim Kampung Durian sudah melesatkan tendangannya. Kedua tim kembali saling berebut bola dengan menampilkan teknik dan strategi masing-masing.
Tampak kedua tim berusaha saling menyerang dan mempertahankan gawang hingga meski pertandingan sudah hampir berakhir, belum juga ada gol yang tercipta lagi.
Waktu yang tersisa tinggal dua menit ketika aku berlari menggiring bola menuju gawang melalui sayap kiri pertahanan lawan dan kini telah tiba di area kotak penalti. Namun seketika kurasakan seseorang menarik kaos dan menjegal kakiku hingga membuat tubuhku terjungkal ke tanah.
Saat itu Jaka, seorang gelandang di timku melihatnya dan mengadukan pada wasit. Jaka bilang, Rahmat yang melakukannya.
"Saya hanya sedang berada di belakangnya saja, sama sekali tak menyentuhnya," elak Rahmat pada wasit sembari melirik padaku yang sedang meringis kesakitan.
Rupanya dia mengambil kesempatan saat wasit berada agak jauh dari tempat kami, ditambah penglihatannya yang terhalang beberapa pemain di sekitar kami tadi.
Beruntung posisiku yang tadi berlari melalui sisi sayap lapangan terus terpantau oleh hakim garis hingga saat aku berada di kotak penalti. Dia membenarkan pernyataan Jaka.
Wajah Rahmat memerah, entah karena marah atau malu. Namun kini yang pasti, tendangan penalti akan dilakukan oleh tim Kampung Manggis untuk hukuman atas perbuatannya.
Dan aku akan menjadi eksekutor. Kukumpulkan energi yang tersisa. Berdiri sekuat tenaga dan menghempaskan rasa sakit akibat terjatuh tadi.
__ADS_1
Tendangan penalti ini harus menjadi pembalasan yang indah, niatku mantap.
Tatapanku lurus ke arah bola yang berada beberapa meter dari tempatku berpijak. Kiper tim Kampung Durian tengah bersiaga.
Wasit meniup peluit pertanda eksekusi wajib segera kulakukan. Aku pun berlari menendang bola dengan kaki kananku setelah sebelumnya menatap tajam ke arah kiper di hadapanku.
Sebuah strategi tipuan telah kulakukan tadi. Menatap tajam matanya lalu melempar pandanganku ke sisi kiri. Dia mengikuti jalan netraku, membuatnya secara otomatis melemparkan tubuhnya ke arah itu.
Sedangkan arah tendanganku yang sesungguhnya berbeda, menuju sisi gawang lainnya.
Dan ... bola yang kutendang pun mendarat sempurna ke dalam gawang lawan seiring bunyi peluit panjang tanda pertandingan telah usai.
Kami menang!
Sorak sorak penduduk tim Kampung Manggis pun riuh terdengar diiringi bunyi botol-botol plastik yang dipukulkan.
Aku dan kawan-kawan saling berpelukan.
"Makasih, Dil. Karena kamu kita jadi menang setelah sekian lama selalu kalah dari tim Kampung Durian," ucap Mono sambil memelukku.
"Tidaklah, No. Ini bukan karena aku tapi usaha kita semua," balasku.
__ADS_1