CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Petuah Mamak


__ADS_3

"Assalamualaikum ... Assalamualaikum."


Setiba di depan rumah, aku berteriak mengucap salam. Mungkin saja Mamak sedang di dapur, biar dia mendengar suaraku.


Jam segini ayah pasti sudah ke sawah dan adik-adikku ke sekolah.


"Waalaikumsalam ... siapakah yang datang pagi-pagi begini?" Mamak membuka pintu. "Fadil? Kamu datang Nak?"


"Iya Mak." Segera ku cium tangannya.


"Kenapa tak telepon dulu, hah? Tiba-tiba kau pulang, apa ada sesuatu Nak? Apa ... kamu datang untuk meminta Ayah dan Mamak untuk melamar pacarmu itu?" Mamak seketika senyum-senyum sembari menggerak-gerakkan telunjuknya ke arahku.


"Tak bolehkah Fadil masuk dulu Mak?"


"Heh ... kau ini."


Mamak masuk ke dalam rumah, aku mengikuti. Di ruang tengah sebuah karpet terbentang menghadap ke sebuah televisi. Segera ku terlentangkan tubuhku di situ. Menghempaskan rasa lelah usai perjalanan tadi.


"Mamak buatkan teh hangat dulu untukmu."


"Adik-adik sekolah Mak?" teriakku padanya yang sudah berada di dapur.


"Iya lah."


"Fadil rindu pada mereka. Sudah tak rusuh kan mereka, Mak?"


"Adik-adikmu sudah beranjak besar semua. Mereka juga rindu abangnya."


Mamak sudah berada di dekatku dengan segelas teh hangat. Ku serutup beberapa teguk, rasanya nikmat sekali. Teh buatan Mamak sedapnya tak tertandingi.


"Mak ... Aku lelah Mak."


Mamak tersenyum, mengerti maksudku. Segera kedua tangannya memijat kepalaku yang kini telah ku geserkan tumpuannya ke paha Mamak.


"Ada apa Fadil? Ceritalah...."


Mamak selalu tahu. Ia seperti seorang paranormal atau mungkin pembaca ekspresi. Gerak gerik kegalauanku bisa ditangkapnya.


"Apa Mamak dan Ayah memang sudah benar-benar ingin punya mantu?"


"Semua orang tua pasti punya keinginan itu. Membesarkan anak-anak, mendidik, memberikan bekal kemandirian, lalu mengantar menuju bahteranya sendiri. Kamu kan sudah cukup dewasa Fadil. Dua puluh delapan tahun. Kamu sudah punya bekal kemandirian, sekarang waktunya membuat perahu rumah tanggamu sendiri. Setelah itu Mamak dan Ayah sudah bisa melepasmu untuk diurus oleh pendampingmu."


Mamak berhenti sejenak. " Eh ... apa benar perkiraan Mamak tadi? Kamu pulang hendak meminta Mamak dan Ayah meminang pacarmu di kota?"


Aku menggeleng pelan. Mamak menatapku nanar, lalu kembali mengusap-usap rambutku dan memijat kepalaku.

__ADS_1


"Maafkan Fadil, Mak."


"Kenapa Nak?"


"Fadil belum bisa memenuhi keinginan Mamak dan Ayah."


"Dia belum mau dipinang?"


Aku menggeleng lalu berkata, "Fadil sudah kalah, Mak."


"Kalah?"


"Fadil kalah dari takdir dan nasib."


Mamak menarik nafas, lembut. Ku rasakan hembusan angin dari hidungnya saat ia menghempaskannya.


"Ceritakanlah ... Mamak mendengarkan."


"Sebenarnya ... Fadil sudah berencana meminang Naura, dia pun mau. Tapi ... pernikahan kami harus dengan syarat."


"Syarat?"


"Iya, Mak. Fadil harus bisa menyediakan biaya pernikahan sesuai permintaan orang tua Naura untuk melangsungkan pernikahan itu."


"Bukankah itu memang kewajibanmu, Nak?"


"Hah?!"


"Fadil mundur."


"Fadil ...." Mamak berkata pelan. "Kau mundur?"


"Iya, permintaan mereka tak bisa ditawar. Fadil tak mampu. Maafkan Fadil yang tak bisa membawa calon menantu buat Mamak dan Ayah."


"Apa kau mencintainya?"


"Naura pacar pertama Fadil, Mamak tahu itu."


"Kenapa langsung mundur? Kau tak mengandalkan Mamak dan Ayah?"


"Maksud Mamak?"


"Demi kebahagiaan anak, orang tua pasti akan melakukan apapun."


"Tidak! Jangan katakan itu, Mak!"

__ADS_1


"Kenapa tidak?"


"Fadil tak mau menyusahkan Mamak dan Ayah. Sungguh, Fadil akan merasa jadi anak tak berguna bila sampai membebani orang tua untuk biaya menikah ."


"Kau kecewa, Nak? Maafkan Mamak dan Ayah yang hanya petani ini."


"Jangan pernah meminta maaf, Mak. Fadil memang sedih tak berjodoh dengan Naura. Tapi, Fadil akan lebih sedih bila sampai Mamak, Ayah dan adik-adik harus menderita gara-gara Fadil."


Mamak terdiam. Sesaat ku rasakan setetes air jatuh di wajahku.


"Mamak menangis?" tanyaku cepat.


Dia menggeleng.


"Mamak bukan menangis, Mamak bahagia."


"Bahagia?"


Ia kembali mengelus rambutku.


"Fadil ... kamu tidak kalah, Nak."


"Maksud Mamak?"


"Sesungguhnya, kamu sudah menang. Mamak bangga sama kamu."


"Menang? Aku gagal Mak."


"Kamu memang gagal memperisteri Naura, tapi kamu telah menang melawan dunia."


"Melawan dunia?" Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah tuanya lekat.


"Dunia ini isinya adalah keegoisan, rasa haus dan lapar, nafsu, ketamakan. Kamu sudah mengalahkan keegoisan dalam dirimu, nafsu cinta yang bisa membutakan, ketamakan akan harga diri."


Mamak terdiam sebentar untuk menarik nafas. Aku masih menyimak.


"Bila keegoisan, nafsu dan ketamakan dituruti hingga memaksakan diri melebihi batas kemampuan, itulah awal dari kesengsaraan."


Aku mengangguk pelan, menyatakan setuju dengan ucapannya. Hatiku terenyuh. Aku mengerti arah pembicaraan wanita yang melahirkanku itu.


"Semua manusia memang dilahirkan untuk berjuang, tapi jangan pernah lupa ... niatkan semua hanya untuk ibadah. Pernikahan itu adalah ibadah. Berhasilnya pernikahan adalah setelah samudera rumah tangga itu diarungi, akan ada banyak ombak dan badai yang menerjang. Kuat atau tidak tergantung dari kokoh tidaknya perahu yang dibangun. Bila perahu dibangun dari keegoisan, ketamakan akan harga diri, hawa nafsu, ibaratnya sama saja dengan membuat perahu megah tapi tak bisa mengapung dengan baik. Jangankan diterjang badai, riak kecil pun bisa membuatnya tenggelam. Kau paham maksud Mamak, Nak?"


Aku tak menjawab sepatah katapun. Ku raih tangan Mamak lalu menciumnya. Baru hari pertama berada di rumah, aku sudah menemukan sebuah ketenangan. Galau yang ku rasa perlahan mulai memudar.


Mamak kembali mengelus rambutku dan memijat kepalaku dengan lembut hingga rasa kantuk kembali menerjangku.

__ADS_1


Aku terlelap di pangkuan Mamak.


***


__ADS_2