
Aku memang telah menang atas Rahmat dalam pertandingan sepakbola sore ini, tapi tidak dengan pertandingan hati. Bayang-bayang setiap adegan yang barusan kulihat terus mengikuti sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
"Fadil, kau sudah pulang, Nak? Kau pasti lelah kan? Tapi lelahmu tak sia-sia karena kalian menang. He-he-he, tak lagikah kau pulang sambil menangis?" Mamak menyambutku dengan gurauannya.
Di ruang tengah itu mereka semua sedang berkumpul. Bersenda gurau sembari menikmati cemilan dan teh hangat.
Aku tak menjawab tanya mamak. Langkahku terus berlalu menuju kamar mandi. Aku hendak membersihkan diri, serta mungkin sedihku ....
Usai mandi, aku pun langsung masuk ke dalam kamar. Sempat kulihat wajah-wajah bingung mereka.
Mungkin mereka sedang bertanya-tanya tentang keanehan sikapku. Hingga akhirnya mamak pun masuk ke kamarku untuk mencari tahu.
"Fadil? Kau kenapa, Nak? Eh ... apa ini, apa yang sedang kau lakukan?"
Mamak terkejut melihatku sedang memasukkan pakaian ke dalam ransel.
"Fadil akan kembali ke kota malam ini, Mak," ucapku lirih.
Mamak menarik tanganku, menuntun untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Berceritalah, Nak. Ada apa denganmu, bukankah kau baru saja memenangkan pertandingan, tapi mengapa raut wajahmu tampak durjana? Apalagi berniat kembali ke kota dengan tergesa."
"Fadil kalah, Mak. Kali ini benar-benar kalah. Fadil takkan kuat bila terus di sini. Biarlah Fadil kembali ke kota dan bekerja supaya bisa melupakan rasa kecewa ini."
"Kalah? Kecewa? Maksudmu apa, Dil?" tanya mamak penasaran.
"Fadil kalah lagi dalam urusan cinta. Cindai memilih Rahmat," jawabku pelan.
"Dia mengatakan begitu?" tanya Mamak tegas.
Aku menggeleng, "Fadil melihat mereka bersama seperti sepasang kekasih."
__ADS_1
Mamak terdiam sejenak lalu berkata, "Tak semua yang kita lihat itu akan sama dengan apa yang sebenarnya terjadi."
"Fadil tak mungkin salah, Mak. Rupanya selama ini alasan yang diberikan Cindai untuk menolakku hanya mengada-ada. Yang sebenarnya adalah Cindai akan menerima cinta Rahmat."
"Kau tak ingin memastikan kebenarannya dulu?"
"Tak perlu lagi, Mak. Itu hanya akan menambah perihku. Aku pulang ke kampung untuk menghibur diri dari patah hati. Bertemu Mamak, Ayah dan adik-adik telah menyembuhkannya. Dan, tak pernah Fadil sangka akan jatuh cinta pada Cindai di sini."
Aku berhenti sejenak, berusaha mengatur nafasku yang berat, lalu kembali melanjutkan,
"Fadil sungguh-sungguh jatuh hati pada Cindai, berharap dia jadi yang terakhir, menemani Fadil hingga nanti. Tapi belum juga cinta itu bersemi, harapan sudah gugur. Cinta Fadil tak berbalas."
Aku berdiri, kembali meraih ransel dan mengunci resletingnya. Kemudian berbalik menatap mamak.
"Maafkan Fadil, Mak. Selalu gagal membawa menantu untuk Mamak dan Ayah," ucapku lirih.
Mamak hanya diam, menatapku sendu seolah turut merasakan kepedihan. Sesaat kemudian ia berdiri dan menghampiriku.
"Bersabarlah, Nak. Jodoh sudah ada yang mengatur," ucapnya sembari mengelus punggungku.
***
Aku dan mamak keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya.
"Ayah, maaf Fadil harus kembali ke kota malam ini," kataku pada ayah.
"Hah? Bukannya cutimu masih beberapa hari lagi?" tanya ayah heran.
"Iya, Yah. Tapi Fadil harus kembali karena ada pekerjaan yang harus Fadil selesaikan," jawabku berdusta.
"Yaaahhh, Abang sudah mau kembali ke kota? Tidaaakkkk ...." Zagi berkata sembari menuju ke tempatku.
__ADS_1
Adik bungsuku itu memeluk erat tubuhku, aku pun menyambutnya dan merangkulnya erat.
Sesaat kemudian Safira dan Nadira pun melakukan hal yang sama. Tubuhku kini dikelilingi pelukan mereka bertiga.
Namun kali ini isak tangis mereka mulai terdengar.
"Hei ... mengapa kalian menangis?" Abang kan kembali ke kota untuk bekerja," ujarku.
"Abang kalau sudah kembali ke kota akan lama lagi pulang ke kampung," ucap Nadira.
"Tidak, Abang janji akan lebih sering lagi pulang. Atau kalau kalian libur, bolehlah kalian yang bermain ke kota," hiburku.
"Abang janji?" tanya Zagi meyakinkan.
"Asik .... Bolehlah, sudah lama Safira tak jalan-jalan ke kota."
"Iya, Nadira juga ingin ke mall membeli baju-baju bagus."
"Iya, nanti Abang akan mengajak kalian ke mall," sahutku.
Obrolan seperti itu terus saja berlangsung antara kami hingga makan malam usai dan kini waktu telah menunjukkan tepat pukul sepuluh. Sudah waktunya untuk berangkat.
Aku pun berpamitan pada ayah, mamak dan adik-adik. Suasana haru kembali tercipta. Sejujurnya berpisah dari mereka terasa berat bagiku, terutama berpisah dari mamak.
Sekali lagi wanita yang paling kuhormati itu memelukku erat. Mengusap kepala hingga punggungku. Penuh kasih sayang. Bulir bening menetes dari kedua sudut mata tuanya.
"Berhati-hatilah di jalan, Nak," ucapnya lembut.
Sesungguhnya hati ini sangat perih melihat air mata mamak, serasa makin berat untuk meninggalkannya sekarang. Namun biarlah semua rasa ini harus kutahan dulu. Mungkin sampai berita pernikahan Cindai dan Rahmat kuterima, dan hatiku telah mengikhlaskan. Aku pun akan pulang ke kampung lagi.
***
__ADS_1