CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Menyatakan Cinta


__ADS_3

Perjalanan mengantar undangan pun berlanjut. Satu per satu rumah kami datangi untuk menyampaikan undangan itu. Hingga saat kami sedang berada di rumah Pak Diman, adzan ashar berkumandang.


Pak Diman beserta isteri dan anak-anaknya sedang tak di rumah. Hanya ada Nek Iroh, ibu Pak Diman yang sudah cukup sepuh, namun masih terlihat kuat. Menyambut kami dengan hangat.


"Nek, bolehkah kami mampir sejenak untuk sholat ashar?" tanyaku pada Nek Iroh setelah menyerahkan undangan.


"Tentu boleh Nak, masuklah," jawabnya.


"Saya sholat dulu," kataku pada Cindai.


"Saya juga," ujarnya.


"Kita sholat berjamaah saja," ucap Nek Iroh.


Aku dan Cindai mengiyakannya.


Setelah mengambil wudhu, kami sudah berada di ruang shalat. Tentu aku mengambil posisi imam dan mereka menjadi makmum.


Empat rakaat telah selesai kami tunaikan. Aku segera berbalik, menciumi tangan Nek Iroh. Begitu pun Cindai, melakukan hal yang sama denganku.


Dan ... entah mengapa setelah itu, secara spontan ku sodorkan tangan pada Cindai, dan dia pun meraihnya ... mencium tanganku.


Hingga setelah adegan itu usai, kami seolah menyadarinya bersamaan. Dan tepat di saat itu, Nek Iroh yang memperhatikan kami nampak tengah memamerkan gusinya yang hanya ditumbuhi beberapa gigi saja. Senyum-senyum sendiri.


"Terima kasih ya, Nek. Kami permisi dulu," kataku seusai mengenakan kembali sepatu di teras rumah.


"Iya, kalian hati-hatilah. Dan, Nenek tunggu undangan kalian," ujarnya sembari tersenyum.


"Undangan apa, Nek?" tanya Cindai.


"Ya, undangan pernikahan lah," jawab Nek Iroh seraya tertawa kecil.


"Oh, iya Nek. Doakan ya, semoga secepatnya undangan itu bisa Nenek terima," ucapku sembari melirik ke arah Cindai.


"Apa?!" Cindai tak terima dengan ucapanku.


Namun belum juga sempat bibirnya berucap lagi segera ku tarik lengannya untuk berpamitan pada Nek Iroh dan mengajaknya segera menaiki motor.


*


"Untuk apa bilang begitu pada Nek Iroh? Ini kali kedua kau mendustai orang," gerutu Cindai di boncenganku.


"Sama dengan jawabanku dahulu. Supaya tak berlama-lama. Bayangkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk menjelaskan kronologi hubungan kita yang sebenarnya. Apalagi cuaca mulai mendung begini," balasku.


"Baguslah kalau memang hanya bergurau."


"Apa kau tak mau itu menjadi serius?" godaku.


"Maksudnya?"


"Bagaimana bila doa Nek Iroh tadi diijabah oleh Allah?"


"Tak mungkin!" tandasnya.


"Kau meragukan doa orang tua?"

__ADS_1


"Pernikahan haruslah dengan cinta."


"Apa kau belum jatuh cinta padaku? Bukankah aku tampan?"


"Hah? Apa menurutmu semua wanita akan jatuh cinta pada pria yang tampan?"


"Berarti kau mengakui aku tampan?"


"Ish ... aku tak bilang begitu."


"Barusan kau mengakuinya."


"Kau sudah gila!"


"Gila karena kamu?"


"Cukuplah! Jangan menggangguku lagi!"


Seiring gerutu Cindai, kilat di langit menggelegar. Cindai terkaget dan sontak langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Memelukku erat. Wajahnya pun dibenamkan di punggungku.


"Lihatlah, langitpun tak terima bila kau marah padaku," godaku lagi.


Rupanya kini ia tersadar dan segera melepaskan pelukannya.


"Kamu memang menyebalkan. Sejak kecil menyebalkan," ujarnya sebal.


Seiring ucapannya, langit kembali berkicau. Namun kali ini suara petir yang menggelegar seiring dengan jatuhnya rintik hujan yang menderas.


Segera ku hentikan laju motor. Menepi di sebuah warung yang tertutup. Ada sebuah bangku panjang di terasnya.


"Pakailah ini supaya tak kedinginan," ucapku seraya menyerahkan jaket kulit yang sudah ku lepaskan.


Dia menoleh, "Dan ... Abang?"


"Aku lelaki jagoan. Hujan dan angin tak semudah itu membuatku kedinginan. Pakailah."


Dia tersenyum geli, lalu meraih jaket itu dan memakainya.


"Bila tadi kau tak marah-marah, hujan mungkin takkan turun sederas ini," ucapku.


"Apa hubungannya marahku dengan hujan? Memangnya aku malaikat?" celotehnya.


"Karena alam pun tak terima kau marah padaku. Seharusnya kau lemah lembut padaku."


"Itu hanya karanganmu."


"Bukan karangan, tapi impian." Aku tertawa.


"Dasar gila!"


"Iya, aku memang gila. Gila karena cinta."


"Cinta? Begitukah orang yang baru putus cinta, bisa menjadi gila?"


"Aku tak gila karena putus cinta. Tapi aku gila karena jatuh cinta."

__ADS_1


"Abang sedang jatuh cinta?" Dia menatapku.


Dan aku ... tentu menatapnya lebih tajam. Menembus hingga ke rongga-rongga terdalam.


"Iya."


Bilakah sore ini ku ungkapkan, maka biarlah gemuruh petir dan angin menjadi saksi.


Biarlah deras hujan menjadi penyerta, dan hawa dingin mengiringi.


Aku harus melakukannya. Menyatakan cinta pada Cindai.


"Cindai ... aku ingin kamu tahu sesuatu," lanjutku.


"Apa?" tanyanya heran.


"Aku pernah sekali menjalin cinta, dan gagal. Aku tak pernah tahu bagaimana rasa cinta itu hilang dan bagaimana rasa kecewa itu lenyap ...."


Aku menarik nafas pelan, lalu melanjutkan, "Ini hari ke empat pertemuan kita kembali setelah sekian lama tak berjumpa. Entah mengapa sejak bertemu kembali, ada rasa yang tak biasa. Dan di hari ke empat ini, aku telah memantapkan hati ...."


Sejenak ku hentikan untuk memandangnya lebih lekat lagi. Ku lihat bola matanya membesar. Dapat ku rasakan detak jantungnya tak beraturan. Nampak dari wajahnya yang menegang.


"Cindai ... harus ku akui ini ... kamu berbeda. Kehadiranmu bukanlah penutup lukaku, tapi pengisi separuh jiwaku yang masih kosong. Kamu mengisi relung hatiku dengan rasa yang indah. Aku ... telah jatuh cinta padamu," tuntasku.


Cindai terbelalak. "Fadil ... Bang Fadil ... kamu sedang mengerjaiku? Setelah ini kau akan tertawa dan mengejekku kan?" lirihnya perlahan.


"Kita bukan anak kecil lagi. Sungguh lupakan lah kenakalanku dulu. Kita sudah dewasa. Aku bersungguh-sungguh menyatakan cinta."


"Mungkinkah dalam empat hari cinta itu datang setelah dilanda patah hati? Engkau hanya sedang mencari pelarian hati," pungkasnya.


"Jangan samakan aku dengan pria lain, dan jangan ucapkan hal yang sama."


Cindai terkejut, ekspresi wajahnya memperlihatkan itu.


"Bagaimana bisa ku percaya?"


"Tanya hatimu."


"Hatiku?"


"Jujurlah pada dirimu. Dalam empat hari ini, tidakkah kehadiranku menoreh makna di hatimu?"


Cindai terdiam.


"Bila tak ada rasa di hatimu padaku, katakanlah. Aku akan mundur sebelum terlalu lama menyimpan rasa ini," lanjutku.


"Aku ... maaf, Bang. Cindai tak bisa menjawabnya sekarang." Dia tertunduk setelah mengucapkan itu.


Aku menghela nafas berat.


Tentu saja aku akan menunggu hingga jawaban terucap dari bibirnya. Lebih tepatnya dari hatinya.


Entah mengapa, ada keyakinan di lubuk hatiku bahwa dia pun merasakan hal yang sama denganku.


Cinta ....

__ADS_1


****


__ADS_2