
Riuh sorak sorai penonton memenuhi lapangan sepakbola di kecamatan sore ini. Para pendukung dari dua kampung telah hadir dengan atribut masing-masing. Karena ini adalah lapangan sepakbola kecamatan, jangan bayangkan seperti Gelora Bung Karno. Hanya ada tribun kecil di salah satu sisi lapangan yang biasa menjadi tempat pejabat kecamatan dan desa serta beberapa penonton duduk. Penonton lainnya berdiri di garis batas mengelilingi sisi lapangan lainnya.
Kesebelasan Kampung Durian memakai kostum berwarna biru, demikian pula dengan pendukungnya yang dominan dengan kostum dan atribut bernuansa biru. Sedangkan tim kesebelasan Kampung Manggis, telah bersiap dengan kostum merah kami. Supporter kami pun tampil berani dengan atribut merah yang menambah semangat para pemain.
Kedua tim sudah memasuki lapangan. Sebelum pertandingan dimulai kami melakukan pemanasan. Ada yang melakukan gerakan di tempat, ada pula yang melakukan lari kecil memutari lapangan.
Aku sendiri memilih berlari kecil mengitari lapangan, sebab tujuanku tak sekadar melakukan pemanasan tetapi hendak mencari seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan dia, Cindai.
Sudah tigaperempat lapangan kuputari tapi belum juga melihat sosoknya. Ah, jangan-jangan dia tak datang. Mungkin saja dia enggan melihat diriku.
Putaran lariku terhenti saat kudengar suara yang meneriakkan namaku. Pandanganku menoleh, tampaklah ketiga adikku yang sedang berada di tribun dengan kaos merah sembari masing-masing membawa dua botol plastik yang saling dipukulkan.
__ADS_1
Aku tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. Dan ... ah, apakah aku tak salah lihat? Ternyata tidak! Itu benarlah dirinya.
Cindai berada di situ, di antara adik-adikku. Dia mengenakan kaos berwarna biru, senada kostum tim Kampung Durian. Tapi, kerudungnya berwarna merah. Ah, mengapa kostumnya tak konsisten? Sebenarnya tim manakah yang didukungnya?
Cindai menyadari aku tengah memandangnya. Ekspresinya gugup. Yang tadinya ia berdiri bersama adik-adikku, kini duduk, membiarkan wajahnya tertutup orang yang berdiri di depannya.
Walaupun dia bersembunyi dariku, setidaknya aku telah tahu bahwa dia ada di sini. Hembusan angin segar serasa menerpa wajahku, memberikan energi positif yang lebih besar.
Aku pun kembali berlari kecil, menuntaskan pemanasan hingga akhirnya wasit meniup peluit untuk mengumpulkan kedua tim guna melakukan undian tim mana yang akan menguasai bola di awal.
Rahmat mulai menggiring bola. Semakin lihai saja permainannya. Sejujurnya aku terkesima. Namun, bukan berarti aku tak bisa mengimbanginya. Tentu saja sekuat tenaga kukerahkan untuk bisa menandaskan serangannya dan melancarkan seranganku.
__ADS_1
Hingga akhirnya di menit-menit menjelang berakhirnya babak pertama, Rahmat telah melakukan penetrasi yang sangat dalam hingga ke kotak penalti. Kulihat dia berhasil melewati Mono yang menjaga lini tengah, Rohim dan Ucup yang mengawal pertahanan belakang dan akhirnya kini tengah berhadapan dengan Pardi yang menghadang di depan gawang.
Ya, Tuhan ... bagai mimpi kulihat bola itu melesat tajam, tak terjangkau oleh Pardi. Membobol gawang tim Kampung Manggis lewat tendangan kaki kanan Rahmat.
Satu-kosong, kemenangan sementara untuk tim Kampung Durian. Wasit meniup peluit tanda pertandingan babak pertama berakhir.
Sejenak kutangkap tatapan Rahmat padaku. Tatapan kesombongan atas keberhasilannya sekaligus menyiratkan sebuah ejekan padaku. Mungkin dia sedang merasa lebih hebat dariku.
Kualihkan pandangan pada adik-adikku. Satu per satu ekspresi mereka kuamati. Safira nampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nadira membuka lebar mulutnya tanda tak percaya. Sedangkan Zagi tampak menaruh kedua tangannya di atas kepala.
Seseorang lagi, gadis yang berdiri di belakang mereka, sedang menaruh tangan kanannya menutup mulut, seolah tak terima dengan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Cindai tampak tak bahagia dengan gol yang dicetak oleh Rahmat? Ah, apakah itu artinya dia mendukung tim Kampung Manggis? Mendukung diriku?
***