CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Makan Bersama


__ADS_3

Di tengah kegalauan, aku mencoba tetap duduk dan menenangkan pikiran. Tak boleh gegabah bertanya ataupun mengucapkan hal lainnya. Untuk sementara, biarlah ini tetap menjadi rahasia.


"Assalamualaikum." Sebuah suara dari ruang depan terdengar.


"Waalaikumsalam." Kami bertiga menjawab bersamaan.


Sosok yang mengucap salam itu pun muncul di dapur. Cindai pulang.


"Kok sudah pulang, Nak?" tanya ibu Cindai.


"Cindai ijin, Bu. Kan Ibu lagi sakit. Eh, ada Mak Ama?," jawab Cindai sembari menyalami dan mencium tangan ibunya dan mamak.


"Tak lihatkah kau, ada Fadil di situ? Dia yang tadi menemani ibu bahkan membuatkan ibu obat," ujar ibu Cindai sembari menunjuk ke arahku.


"Oh, iyakah? Makasih ya, Bang," ucap Cindai padaku.


"Sama-sama," balasku.


"Ayo, Nak, makanlah di sini. Ini ada makanan pesta," ujar mamak pada Cindai.


"Wah ... sedap kali ya, Mak," seru Cindai.


"Ayo, Dil kau juga makanlah. Kalau mamak sudah makan tadi di pesta," ujar mamak padaku.


Kami pun makan bersama. Tak banyak obrolan yang berarti saat itu, hanya sesekali aku dan Cindai saling beradu pandang. Kami harus berbincang berdua setelah ini, pikirku.

__ADS_1


Dan akhirnya kesempatan itu muncul juga dimana seusai makan mamak memijati ibu Cindai di kamar sehingga meninggalkan kami berdua di dapur.


Cindai sedang mencuci piring saat aku menghampirinya dengan modus membantu menata-nata piring ke raknya.


"Tadi ... mamak menyuruhku ke sini untuk menemani ibu. Aku mengiyakan karena kupikir akan jadi kesempatan untuk mencari tahu tentang jodohmu itu," ucapku perlahan.


Dia berpaling cepat padaku dengan wajah penasaran. "Lalu hasilnya? Apa ibu sudah bilang?"


"Hmm ... tidak." Aku menggeleng.


"Yaahh!" gerutunya.


"Dia tak menyebut secara langsung namanya, hanya memberikan beberapa informasi yang bisa menjadi petunjuk," kataku lagi.


"Oh ya? Apa itu?"


Cindai hening sejenak, menunduk dan sesaat kembali mengangkat kepalanya, menatap nanar dinding di hadapannya.


"Entah mengapa, sejak kecil saat ibu menceritakan tentang jodoh itu, saya merasa dia selalu ada di hati saya walaupun sosoknya tak jelas. Bila Abang mengira saya terlalu naif atau mungkin sedang berhayal, tapi inilah kenyataannya, saya sudah mencintainya sejak kecil."


Aku tertegun. Cindai mencintai jodoh bayinya itu. Walaupun jodohnya itu adalah aku, tapi ... entahlah .... Aku tetap tak akan memberi tahu tentang hal ini padanya.


"Jadi ... karena itu kau tak menerima cintaku?" tanyaku kemudian.


"Bukankah saya belum menjawabnya?" Cindai memandangku.

__ADS_1


"Tapi dari perkataanmu tadi, di hatimu sudah mencintai seseorang, bukankah itu sudah menjadi jawaban bahwa kau tak menerimaku?"


"Bang ...." desisnya.


"Bila memang begitu, aku akan mundur." Aku menatapnya lekat.


"Sudah saya katakan, saya belum menjawabnya. Tak bisakah lebih bersabar? Secepat itukah akan mundur?"


"Artinya ... kau masih memberi harapan? Artinya di hatimu ada ruang tersendiri untukku?"


Cindai terdiam.


"Jawablah Cindai," desakku.


"Saya ... saya belum bisa menjawabnya sampai saya bertemu dengan jodoh yang dikatakan ibu. Katakanlah dulu, informasi apa yang Abang dapat tentangnya?"


"Dia adalah anak sahabat sejati ibumu," jawabku.


"Lalu apa lagi? tanyanya semakin penasaran.


"Hmm ... cuma itu."


"Hah? Cuma itu?" Cindai melemas.


Memalingkan wajahnya dariku. Dan setelah itu hanya keheningan yang ada antara kami sampai akhirnya aku dan mamak pamit pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2