CINTA DUA BELAS HARI

CINTA DUA BELAS HARI
Cemburu


__ADS_3

Dari keramaian itu aku berusaha mencari adik-adikku, dan tentu saja mereka pun sedang berusaha menuju ke arahku.


"Bang Fadil ... Bang Fadil," seru mereka.


Satu per satu mereka memelukku dengan bahagia.


"Yee ... Bang Fadil menang. Kita menang!" seru Zagi senang.


"Mamak pasti senang. Hari ini Abang pulang tanpa menangis karena kalah," ujar Nadira.


"Apa? Siapa bilang Abang pulang menangis jika kalah?" tanyaku.


"Ya Mamaklah yang bercerita kisah-kisah Bang Fadil sewaktu kecil," jawab Nadira.


"Huh Mamak tuh, jadi malulah Abang sama kalian," kataku yang disambut decak tawa mereka.


Sesaat mataku melihat ke sana ke mari, mencari sosoknya. Gadis berkostum tak konsisten itu kemana?


"Abang cari Kak Cindai ya?" Suara Nadira mengagetkanku.


"Hmm ... tadi dia bersama kalian kan?" tanyaku.


"Iya, tapi tadi katanya dia buru-buru mau pulang duluan," jawab Nadira.


"Iya, padahal tadi kami datang bersama. Mungkin Kak Cindai ada urusan, Bang," sahut Safira.


"Memangnya tadi dia mendukung tim mana sih?" tanyaku mencari tahu.


"Kak Cindai bilang, dia mendukung kedua tim. Tapi anehnya saat yang memasukkan bola tim Kampung Durian, Kak Cindai tak borsorak. Namun sebaliknya, saat tim Kampung Manggis yang gol, Kak Cindai ikut berlompatan bersama kami," gumam Nadira.

__ADS_1


"Apalagi waktu Bang Fadil melakukan tendangan penalti dan gol," sambung Zagi.


"Safira pun sempat memperhatikan bagaimana kecemasan Kak Cindai saat Bang Fadil akan melakukannya," sahut Safira.


Benarkah yang dikatakan adik-adikku? Mereka tak mungkin berdusta. Aku sangat mengenal tabiat mereka. Artinya, Cindai sebenarnya mendukung aku? Oh tidak, mana bisa aku seyakin itu. Mungkin saja dukungan yang diberikan untuk tim Kampung Manggis, bukanlah diriku semata.


Tapi bagaimanapun, biarlah momen kemenangan ini kumanfaatkan untuk menemuinya. Bila seperti kata adik-adikku bahwa Cindai mendukung timku, setidaknya saat ini perasaannya tak begitu marah karena peranku dalam pertandingan tadi cukup berarti.


"Kalian pulanglah duluan, Abang masih ada urusan," ucapku pada adik-adikku.


"Baiklah, kami naik angkot saja sama teman-teman yang lain. Mamak dan Ayah pasti senang mendengar berita kemenangan Abang," sahut Nadira riang.


Mereka bertiga pun berlalu, dan aku segera mengambil motor di parkiran, memacunya menuju rumah Cindai.


***


Sejujurnya jantungku berdetak tak karuan. Antara bingung dan takut. Bingung harus memulai ucapan dari mana, takut ia menolak bertemu denganku.


Sehela nafas kutarik seiring pijakan langkah kaki hendak memasuki gerbang rumah itu. Namun dua sosok manusia yang terpantau indera penglihatanku sedang berada di teras rumah membuatku menghentikan langkah.


"Cindai dan Rahmat? Sedang apa mereka?" desisku setelah memepetkan tubuhku ke pagar.


Setelah itu kembali kumunculkan sedikit kepala dari baliknya, mengintip mereka.


Ah, aku tak bisa mendengar suara obrolan mereka. Jarak dari pagar ke teras lumayan jauh. Hanya gerak tubuh saja yang bisa kupantau.


Rahmat tampak membelakangi Cindai, raut wajahnya seperti sedang tak menyetujui sesuatu. Cindai berdiri di belakangnya, sedang berbicara dengan ekspresi penuh permohonan.


Apa yang sedang dipinta oleh Cindai pada Rahmat? Mengapa Rahmat kelihatan tak menginginkannya?

__ADS_1


Rahmat berbalik, berbicara dengan ekspresi tak suka. Seperti sedang marah. Lalu ia kembali berjalan ke sisi lain, memunggungi Cindai.


Cindai mengikutinya, lalu ... ah tidak! Cindai memegang pundak Rahmat.


Hatiku memanas, seperti ada kompor yang sedang dinyalakan di situ. Namun aku masih berpijak di tempat pengintipanku dan terus mengamati.


Sejurus kemudian Rahmat menoleh pada Cindai. Dan melakukan sesuatu yang membakar hatiku.


Rahmat kini menggenggam kedua tangan Cindai.


Aku membalikkan badan, tak sanggup melihat adegan itu lebih lama. Sesaat bersandar di tembok pagar itu. Kompor yang menyala di hatiku tadi seolah telah meledak, panas sekali rasanya. Tanpa terasa air mata bergulir dari sudut netraku.


Cindai mungkin telah memilih Rahmat. Dan ... aku kalah!


Sesaat kuseka mata basah tadi. Tak ada gunanya tetap di sini. Aku akan pergi. Namun, saat hendak menaiki motor, aku terkaget. Sebuah motor keluar dari halaman rumah Cindai.


Kutoleh, Rahmat sedang membonceng Cindai. Mereka berhenti setelah menyadari keberadaanku di situ.


"Fadil?"


"Bang Fadil?"


Rahmat dan Cindai berdesis bersamaan.


Aku tak menggubris mereka, segera kunyalakan motor, memutar gas dan berlalu pergi.


Samar-samar kudengar suara teriakan Cindai memanggil-manggil namaku, namun aku tak peduli. Walaupun aku tak mengerti mengapa dia memanggilku lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2