
Hari ini adalah hari kedua aku berada di kampung. Minggu, adik-adik tak sekolah begitu pula dengan ayah tak ke sawah.
Aku memutuskan meminjam motor sekuter milik ayah dan mengajak Zagi berkeliling kampung.
Menyusuri jalan kampung, sesekali menengok riuh anak-anak yang sedang bermain. Hamparan sawah yang terbentang memanjakan indera penglihatanku.
Menghirup aroma pagi pedesaan, sungguh menenangkan. Sepertinya ... sudah lama aku tak merasakan ini.
Sejak merantau ke kota, aku seolah lebih hanyut akan kehidupan di sana. Hanya pulang saat libur dan lebaran, saat tak banyak aktivitas yang terjadi di kampung.
Terlebih setahun terakhir ini. Berpacaran dengan Naura telah mengalihkan duniaku. Setiap ada waktu lowong hanya akan ku habiskan bersamanya. Pulang ke kampung pun takkan lama, rasa rindu pada Naura mengharuskan segera kembali ke kota.
"Bang, coba kita ke pasar, di sana pasti ramai. Sekalian beliin Zagi celana baru lah, Bang." Terdengar suara Zagi yang duduk di boncenganku.
"Oke!"
Segera ku lajukan gas motor, menuju pasar.
Hiruk pikuk penjual dan pembeli di pasar terdengar begitu ramai. Aku dan Zagi berjalan menyusuri setiap lorong di pasar itu.
Dan, selembar celana panjang di dalam kantong plastik kini sudah menjadi tentengan Zagi. Juga beberapa kantong buah-buahan yang akan menjadi oleh-oleh untuk orang di rumah.
"Ayo kita pulang, Bang," pinta Zagi.
"Iya, ayolah."
Kami berjalan menuju tempat motor terparkir. Zagi sudah mendahuluiku.
Namun, berhimpit dari keramaian membuatku tak sengaja menabrak seseorang.
Tidak ... lebih tepatnya dia yang menabrak aku!
Buk ... buk ... buk!
"Aww...!" Spontan aku berteriak.
Kakiku tertimpa sesuatu. Tumpukan pisang kepok.
"Aduh ... maaf ... maaf, Bang." Suara seorang wanita yang sembari menunduk memunguti dua sisir pisang itu membuatku pelan-pelan membuka mata yang sempat tertutup karena menahan sakit tadi.
"Kalau jalan lihat-lihat dong, Mbak," gumamku.
"Kan saya sudah minta maaf, Bang."
Akhir ucapannya seiring dengan diangkatnya wajahnya. Memandangku.
"Kamu?" ucapnya dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
"Memangnya aku siapa?" tanyaku lebih terkejut lagi.
Namun tepat saat itu, pandangan kami saling beradu. Seorang gadis manis berdiri di hadapanku. Ya, manis ... walau penampilannya tak berbeda dengan gadis kampung lainnya.
Tapi ... tidak, dia berbeda! Sorot matanya memperlihatkan itu. Mungkin saja busananya seperti gadis kampung, tapi dia terlihat berkelas.
Belum sempat dia bicara menjawab tanyaku, Zagi datang berlarian ke arah kami.
"Bang, kok lama sih? Zagi sudah nungguin dari tadi di parkiran."
"Iya, ini Abang sudah mau ke situ."
Namun, belum juga sempat aku melangkah Zagi kembali berucap.
"Kak Cindai?"
Wanita itu menoleh pada Zagi. "Zagi? Sama siapa kamu ke sini?"
"Ya, sama abangku ini lah. Bang Fadil."
"Dia ... abangmu?" kata Cindai sembari memicingkan matanya ke arahku.
"Iya, Bang Fadil yang kerja di kota. Sekarang lagi liburan di kampung."
Cindai? Jadi inikah gadis yang bernama Cindai? Berarti dialah gadis yang ku jumpai saat perjalanan pulang kemarin. Pantas saja tadi dia seperti sudah mengenalku.
Sejujurnya ... aku masih tak habis pikir, mengapa Mamak mengaguminya?
Ku coba mencari jawaban itu sesaat setelah pandangan kami kembali saling beradu.
Dalam matanya, ku lihat banyak tanya, seolah ia sedang menerka-nerka. Mungkin mencoba mengingat diriku yang dahulu sewaktu kecil.
Aku pun demikian. Tatapanku semakin lekat, memandangnya. Sekian tahun berlalu, Cindai si anak buluk itu kini telah menjadi gadis dewasa. Dan ... sudah tak buluk lagi.
Hari ini aku melihatnya tanpa masker yang menutupi wajahnya. Mungkin dia sudah sembuh dari flunya.
Meminjam istilah Pak Habibie untuk Ibu Ainun saat mereka berjumpa kembali setelah lama tak bersua, 'gula jawa sudah berubah menjadi gula pasir'. Cindai nampak sudah lebih merawat dirinya sebagai seorang wanita.
Walau ... tak megah seperti Naura.
"Kak Cindai ayo pulang bersama kami." Suara Zagi kembali mengagetkan kami.
"Tak usah, biar Kakak naik angkot saja."
"Ayolah Kak, nanti Zagi duduk jongkok di depan."
"Janganlah Zagi, nanti abangmu marah."
__ADS_1
"Kenapa dia harus marah? Abangku ini orang baik, tak mungkin dia marah."
"Iya, mari ikutlah. Biar kami antar." Ucapanku membuatnya tersentak, tatapannya kembali berpaling padaku, nanar.
Sepertinya ... ada sedikit rasa sungkan di benaknya. Entah karena dia masih merasa bersalah ataukah dia telah mengingat kejadian di masa kecil kami.
Mengingat aku, Fadil ... yang selalu mengejeknya.
"Baiklah, asal tak merepotkan."
Zagi nampak senang dengan jawaban Cindai. Dengan sigap dia membantu membawa barang-barang Cindai. Demikian pula denganku. Dua sisir pisang yang tadi menimpa kakiku kini telah ku gotong menuju motorku.
Penampakan kami di motor itu benar-benar menampakkan khas orang kampung. Sebuah motor yang penuh dengan muatannya, mulai dari penumpang hingga barang-barang bawaan. Sampai-sampai terkadang tak mampu melaju saat menemui jalan yang menanjak. Dengan terpaksa Cindai harus turun dan berjalan sampai melewati tanjakan itu.
Terkadang ku perhatikan wajahnya yang kesal, seolah ia menyesal menumpangi kami. Namun ... aku menikmati ekspresinya.
Entah, apakah ini seperti dejavu, seolah kembali ke masa kecil. Aku yang selalu mengejeknya, menikmati setiap ekspresinya saat terbully. Lucu dan menggemaskan ....
Dan ... sekarang terasa lebih menggemaskan saat membuatnya kesal, karena dia bukan bocah buluk lagi.
Dari kaca spion motor beberapa kali ku lirik wajahnya yang duduk menyamping di boncenganku. Gadis kampung dengan kecantikan alami. Tak banyak polesan di wajahnya. Tapi ... sangat eksotik.
Ahh ... kenapa pikiranku menjadi kemana-mana. Tidak, dia tetaplah gadis konyol yang berkali-kali menjatuhkan sesuatu di kakiku.
"Bang, berhenti di depan, Bang." Suara Zagi menyentakkanku.
"Yang mana?"
"Ini Bang rumah hijau ini."
Segera ku injak rem untuk menghentikan laju motor.
Cindai turun dan mengambil barang-barangnya yang dikaitkan di bagian depan motor.
"Makasih ya Zagi, dan ... Bang Fadil."
"Sama-sama Kak Cindai." Zagi membalas.
Sedangkan aku, hanya tersenyum memandangnya. Sebenarnya ... dalam hati aku menerka, apakah dia akan menawari kami untuk singgah.
Ternyata tidak, tubuhnya langsung berbalik dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Setidaknya, bila dia menawari singgah, akan ku iyakan. Aku masih penasaran mengapa Mamak mengaguminya. Aku masih ingin mencari tahu lebih banyak tentangnya.
Tentang Cindai yang sekarang ....
***
__ADS_1