
Membaringkan tubuh di peraduan setelah beraktivitas seharian terasa sangat menyenangkan.
Namun malam ini sepertinya aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Cintaku masih digantung.
Lalu ... bagaimanakah dengannya? Mungkinkah rasa yang telah kuungkapkan membuatnya tengah merasakan kegalauan juga? Tak ada salahnya aku mencari tahu.
Kuraih telepon genggam dan mulai mengetikkan pesan whatsapp padanya.
[Hai ... sudah tidurkah?]
Centang dua berwarna abu-abu. Pesanku terkirim tapi belum dibaca.
Ahh ... menunggu pesan balasan membuat jantung berdebar-debar. Semakin sulit memejamkan mata.
Sepuluh menit berlalu, hapeku bergetar. Sebuah pesan masuk.
[Belum, baru habis teleponan dengan Bang Rahmat.]
Glek! Aku menelan air liur. Sekian lama menanti balasan, namun rangkaian kata yang kuterima hanya membuat dada sesak.
[Oh begitukah? Jadi setiap malam kalian berteleponan?] Balasku kemudian.
[Tidak juga.]
[Lalu?]
[Lalu apa?]
[Teleponan yang tadi dalam rangka apa?]
Dua centang biru, tapi tak ada balasan. Ahh ... menyebalkan sekali!
Lima menit berlalu, kuputuskan untuk mengirim pesan lagi.
[Cindai ....]
Dibaca, dan dia sedang mengetik.
[Apa lagi?] Balasnya.
[Kangen .... ] Balasku disertai gambar emosi hati merah.
[Maksudnya?]
[Ahh ....]
[Hmm ....]
[Apa besok malam kamu akan datang di resepsi pernikahan Murni?]
[Iya.]
[Maukah datang bersamaku?]
[Cindai datang bersama Bang Rahmat.]
__ADS_1
Hatiku seketika memanas membaca balasannya. Aku memutuskan mengakhiri percakapan online itu. Menaruh gawai itu di samping bantal dan mencoba memejamkan mata.
Derrttt ....
Tak lama gawaiku bergetar. Kulirik sejenak di layarnya. Nama Cindai tertera di situ. Segera kubuka pesannya.
[Cindai sudah terlanjur mengiyakan permintaan Bang Rahmat untuk datang bersamanya saat dia menelepon tadi. Maaf ....]
Aku tersenyum. Begitukah wanita? Saat sudah diakhiri, dia akan penasaran dan memulai dengan penjelasan.
[Oke. Tapi cukup sekali ini saja kau ucapkan kata maaf. Setelah ini aku tak mau lagi mendengar kata itu kau ucapkan padaku.]
[Kenapa? Kata maaf kan wajib diucapkan bila kita tak bisa menyanggupi?]
[Jangan ... aku tak sanggup mendengarnya. Bila memang kau tak bisa menyanggupi, diamlah dan beranjaklah pergi.]
[Abang takut kecewa?]
[Kecewa hanyalah sebuah rasa. Yang aku takutkan hanyalah menyakiti. Membuat seseorang terpaksa mengucapkan kata maaf mungkin saja akan membuatnya tersakiti.]
[Mengapa saya?]
[Tak ada penjelasan. Tanya saja hatimu.]
[Tapi saya mau penjelasan.]
[Mengapa wanita selalu begitu?]
[Siapa saja wanita itu?]
[Oh ... tak ada yang lain lagi?]
[Cindai.]
[Lalu dia?]
[Siapa?]
[Mantan kekasihmu.]
[Mungkin! Aku sudah lupa.]
[Masa?]
[Ada masa lalu yang terus terkenang dan ada yang harus dilupakan.]
[Secepat itu melupakannya?]
[Tak ada alasan untuk terus mengingatnya.]
[Semudah itukah para pria melupakan kenangan?]
[Apakah kau belum melupakan mantan kekasihmu?]
[Hah? Siapa?]
__ADS_1
[Ya aku tanya.]
[Saya tidak punya.]
[Mengapa? Tak pernah menerima atau tak pernah ada yang menyatakan?]
[Cindai sudah punya jodoh.]
[Jodoh waktu bayi? Bukankah sosoknya tak jelas?]
[Abang tahu?]
[Ibumu sudah bercerita.]
[Kenapa bisa?]
[Ya, karena aku bertanya.]
[Hmm ... Ibu bilang dia benar-benar ada.]
[Apa karena itu, kamu belum menjawab pernyataan cintaku?]
[Saya harus bertemu dia dulu.]
[Sudah coba bertanya pada ibu dimana dia?]
[Tadi sudah, tapi ibu hanya bilang bahwa dia ada dan biarlah Tuhan yang menjodohkan.]
[Hufhh ... lalu sampai kapan aku harus menunggu?]
Sungguh, aku merasa gadis ini benar-benar konyol. Dia berimajinasi dengan jodoh yang tak jelas wujudnya itu. Mungkin dia terlalu sering membaca cerita dongeng.
[Bantulah aku mencarinya.] Balasnya kemudian.
[Mana mungkin ada pria yang membantu mencari jodoh wanita yang dicintainya?]
[Biarkan saya bertemu dia dulu.]
[Baiklah. Besok kita cari tahu tentang dia.]
[Terima kasih.]
[Semoga saja dia sudah menikah atau wajahnya tidak sesuai seleramu.]
[He-he-he.]
[Ya, sudahlah. Ayo tidur, sudah malam.]
[Iya.]
[Mimpikan aku ya. Mmmuaahhh.]
Terbaca, tapi tak dibalas lagi. Namun bisa kupastikan wajahnya tengah bersemu.
Dan aku? Tentu saja terlelap sembari membayangkan semu di wajahnya itu.
__ADS_1
***