
Suara rem motorku berdecit, berhenti tepat di depan rumah Cindai. Dia turun dari boncenganku.
“Sekali lagi makasih,” ucapnya.
“Oke,” jawabku singkat.
Tombol starter kembali ku hidupkan.
“Hmm ... tunggu. Kenapa tadi kau bilang begitu pada Bapak dan Ibu Dita?” tanyanya sesaat sebelum aku hendak memutar gas.
“Bilang apa?” tanyaku.
“Hmm ... tentang kita yang ....”
“Yang minta didoakan?”
Cindai hanya diam. Menunduk.
“Itu supaya tak berlama-lama ngobrolnya. Hmm ... kamu pikir aku benar-benar ingin kita didoakan berjodoh? Ge-er!” lanjutku.
Dia mengangkat kepalanya, memandangku kesal.
“Tentu saja tidak, karena aku sudah punya jodoh!” Setelah mengucapkan itu Cindai langsung memalingkan tubuhnya masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan aku yang belum sempat menanyakan siapa jodohnya itu.
Sungguh ... aku penasaran. Beruntung, kesempatan untuk mencari tahu terbuka saat ibunya keluar dari rumah dan memanggilku untuk masuk.
__ADS_1
“Hei ... Nak Fadil, kemarilah masuk dulu.”
“Iya, Bu.” Aku segera turun dari motor dan menuruti ibu Cindai.
Kini kami telah duduk bersebelahan di ruang tamu.
“Fadil ... lama sekali kita tak jumpa. Sekarang kau semakin gagah saja. Lama di kota kamu jadi terlihat seperti lelaki kota,” ucap ibu Cindai sembari mengamatiku.
“Iyakah, Bu?” tanyaku.
“Iya, tadi Ibu pikir yang mengantar Cindai si Rahmat, tak taunya dirimu. Kapan kau datang dari kota, Nak.”
“Fadil datang sejak kemarin. Hmm ... Rahmat itu siapa, Bu?” tanyaku.
“Ohh .... Rahmat itu anak Kampung Durian, tapi dia sekarang bertugas di kampung ini, guru di sekolah tempat Cindai mengajar juga. Cuma bedanya kalau Rahmat itu sudah PNS, sedang Cindai masih guru kontrak.” Ibu Cindai menjelaskan.
“Iya, hampir setiap hari, jemput saat pagi, mengantar saat pulang.”
Entah mengapa perasaanku nampak tak suka mendengar jawaban ibu Cindai. Terpancar dalam raut wajahku yang melemas. Namun, selidikku belum berhenti.
“Apa ... mereka ... hmm ... menjalin hubungan, Bu?” tanyaku perlahan.
“Entahlah, Cindai belum pernah bercerita. Tapi kalau buat Ibu dan Bapak, inginnya Cindai itu segera menikah.”
“Dengan Rahmat?” sergapku.
Ibu Cindai sejenak menatapku penuh tanya lalu kembali berkata, “Ya, dengan siapapun yang dipilihnya. Rahmat pun lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Kalau pun Cindai memilihnya, Ibu dan Bapak tak keberatan. Hmm ... ataupun bila yang dipilihnya kamu, tentu Ibu dan Bapak akan lebih senang, hehehe....”
__ADS_1
Ibu Cindai terkekeh, dan aku hanya diam tersipu. Entah dia hanya menggodaku ataukah bersungguh-sungguh mengatakannya.
Hingga saat dia kembali bertanya padaku, “Tapi ... Nak Fadil sudah ada calonkah?”
“Belum, Bu. Fadil jomblo.”
“Alamak ... lama di kota, tak dapatkah kau gadis di sana?”
“Fadil mau cari jodoh di kampung saja, Bu, hehehe ....”
“Aih ... di kampung ini sudah tak ada gadis, yang banyak hanya gadis-gadis remaja yang masih sekolah.”
Aku terdiam, wajahku mengecut. Bila sudah tak ada gadis di kampung ini, lalu anak gadisnya itu apa? Bukannya tadi dia sudah menggodaku berharap dipilih oleh anaknya itu?
Ataukah ... tadi dia memang hanya sekadar menggodaku karena Cindai memang adalah milik Rahmat?
Rahmat ... siapakah dia? Anak Kampung Durian, hmm ... aku mencoba mengingatnya. Sepertinya nama itu tak asing dalam ingatan masa laluku.
Namun, aku sudah terlalu lelah hari ini. Ku putuskan untuk mengakhiri obrolan bersama ibu Cindai, meminta ijin darinya untuk pulang. Lagipula hari sudah terlalu senja, sebentar lagi maghrib.
Malam ini, malam kedua aku berada di rumah. Dalam peraduan, sembari menatap langit-langit kamar, anganku mengingat kejadian seharian tadi, bersama Cindai. Dalam upaya mengobati patah hati, aku telah menemui petualangan hati yang baru. Mungkin ....
Masih banyak yang menjadi misteri, tentang Rahmat. Nama itu menyeruak di benakku. Aku harus mencari tahu tentangnya, tentang mereka. Entahlah hasrat apa ini, mengapa aku begitu penasaran.
Tapi aku harus tahu!
Besok ....
__ADS_1
***