
Di mana kamu??
Aku mengirim pesan dan menelfon Lucas beberapa kali tapi tidak menerima balasan apapun. Dia berjanji akan menjemputku ditempat kerja jadi kami akan pergi bersama ke pesta Rania, pacarnya. Aku membolak-balikkan ponselku untuk menenangkan tubuhku yang tegang. Aku ingin segera pergi dan bersenang-senang di pesta itu. Hariku buruk, Ruby tidak berada di kantor dan Daniel yang terus-menerus menggangguku.
Setelah beberapa menit, aku melihat mobilnya berhenti di jalan masuk. Aku menyilangkan tangan di depan dada dan memolotinya begitu aku duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman.
“Berhenti membuat wajah seperti itu, kamu membuatku sedikit kesal.” Suara Lucas memang terdengar kesal. “Aku minta maaf karena telat, ada seseorang yang melihat lukisanku lalu tidak sengaja menjatuhkannya saat catnya belum kering, sial aku sangat kesal.” Lucas menggerutu, membuatku tidak nyaman untuk marah lebih lama.
“Oke, permintaan maaf diterima, hariku juga buruk. Kurasa pesta Rania akan menjadi hiburan untuk kita, dan hiburan plus untukmu.” Lucas menoleh “Hiburan plus?” tanyanya bingung. “Yaa hiburan plus, kau kan sudah lama tidak bertemu dengam pacarmu. Pasti kau sudah banyak merencanakan kegiatan panas apa yang akan kalian lakukan.” Aku menggodanya sambil terkekeh. “Aku tidak pernah melakukan hal apapun lebih dari ciuman.” Aku menoleh menatap ekspresi lucas yang tidak terpancar kebohongan.
“Sumpah?? Wah kau impoten atau bagaimana? Bukankah rania pacar pertamamu? Kasian sekali rania, dia pasti akan mencari pria lain jika dalam beberapa bulan kau tetap tidak menyentuhnya.”
“Hey aku tidak impoten atau apapun, aku hanya sedang yaaa tidak ingin saja.” Jawab lucas seperti sedang banyak berfikir. “Kau tidak mencintai rania?” tanyaku ragu-ragu.
“Itu ..., aku menyukainya, dia baik ramah pintar dan cantik, tapi jika ditanya apakah aku , mencintainya, aku ragu, bukankah cinta adalah hal yang kompleks dan tidak bisa hanya dinilai dari ucapan? Meskipun kami hampir setahun tinggal bersama, kami tidak pernah bertengkar ataupun berdebat, aku menghargai dan menghormatinya sebagai kekasihku, bukankah itu sudah cukup?”
Terkadang persepsi tentang cinta memang berbeda-beda setiap orang. Ada orang yang mengekang orang lain dengan alasan mencintainya, memukul dan menghukum karena alasan cinta. Kurasa lucas benar, cinta tidak dapat dinilai dari ucapan saja. “Aku tidak tahu, tapi kurasa kau benar.”
“Tapi aku mencintaimu, dan itu bukan sekedar ucapan.” Lucas menggenggam tanganku menyatukan jari-jari kami.
__ADS_1
“Benar, kita sahabat dan saudara yang saling mencintai dan itu bukan hanya sekedar ucapan.” Aku membalas erat genggaman tangan lucas, setiap kali dia mengatakan mencintaiku, menyayangiku, aku sangat merasa nyaman. Kami sudah seperti saudara kandung, ketika ibuku tidak ada untuk membelaku, lucas selalu berada disampingku untuk mendukungku, dan itu membuatku tidak terlalu patah hati karena aku masih punya lucas sebagai keluargaku.
...****************...
Suara musik pesta bergema di dalam mansion besar milik Rania. Meskipun Lucas dan Rania tinggam bersama di sebuah apartemen. Tapi Rania memiliki 1 mansion besar yang mewah dari hasil kerja kerasnya. Lampu redup dalam nuansa hijau biru dan ungu. Beberapa jenis minuman disajikan oleh pelayan. Kerumunan tidak begitu banyak dan tenang. Mataku berkeliaran, mencari sosok Rania.
“Lucas dan adikku!!” Rania menyapa muncul dari samping, mengenakan setelah gaun seksi berwarna hitam. Rania membawa kami ke meja kosong sementara pelayan menyajikan segelas cocktail dan beberapa cemilan. “Aku senang kamu datang, aku merindukanmu adik ipar." Rania memelukku, dia memang sangat ramah dan baik, aku senang Lucas bersama Rania.
“Aku juga merindukanmu, kamu semakin cantik.” Aku membalas pelukannya. Rania tersenyum. “Tapi tidak bisa lebih cantik darimu.” Aku tertawa mendengarnya.
“Hey kalian bisa pergi, aku tidak apa-apa disini sendirian.” Aku menyuruh lucas dan Rania pergi, supaya mereka bisa bermesraan bebas. “Kamu tidak apa-apa?” Lucas bertanya. “Ya, aku baik-baik saja. Cepat pergilah.” “Oke jangan terlalu mabuk.”
Saat sedang asyik memperhatikan sekitar, mataku tertuju ke konter bar dan melihat Tuan Ruby berada disana bersama Daniel dan Sean. Ruby sibuk mengetik diponselnya sementara Daniel dan Sean sibuk mengobrol. Aku akan mendapat masalah karena si penggoda Daniel berada disini bersama mereka. Saat sedang sibuk menatap, Daniel melihatku, buru-buru aku memalingkan mukaku.
"Sial dia melihat"
Tidak butuh waktu yang lama Daniel sudah duduk didekatku. Aku benci dia. “Wah cantik, kamu ada di sini? Rania temanmu?” tangannya menyentuh pahaku, aku menepisnya tidak ingin Ruby melihat bahwa aku baik-baik saja dengan tindakan Daniel.
“Dia pacar teman saya.” Jawabku tanpa melihatnya.
__ADS_1
“Benarkah?? (Daniel melihat ke arah Rania dan Lucas yang sedang menyapa para tamu), aku kira dia pacarmu.” Aku melihat Daniel yang sedang menatap lucas, lalu menatapku lagi.
“Aku pernah melihat dia mengantarmu ke kantor, lalu mencium pipimu. Kau yakin dia hanya temanmu? Bukankah kalian pasti pernah melakukan hal mesum bersama seperti yang dilakukan kamu dan aku?” Daniel tersenyum mengejek, aku menatapnya jijik.
“Tolong jaga ucapan anda, Dia tidak seperti anda yang hanya memikirkan hal tidak senonoh jika bersama saya. Kami berada diluar kantor jadi jangan ikut campur kehidupan pribadi saya” Aku mendengus kesal, dia keterlaluan.
“Wow kamu sangat kasar dan ...” ucapannya terpotong karena suara telfonnya, dia segera pergi untuk mengangkatnya. Aku lega, akhirnya bisa bernafas dengan baik. Aku melihat lagi ke arah Ruby tapi malah bertemu dengan mata Sean, kami saling menatap beberapa saat. Aku tersenyum malas. Dia mencondongkan tubuh, mengatakan sesuatu pada Ruby dan kepala Ruby langsung menoleh ke arahku.
Sean kemudian mengeluarkan ponselnya dan seperti berpamitan pada Ruby sambil menepuk bahunya. Aku melihatnya melangkah menuju Daniel, lalu mereka keluar bersama. Senang melihat mereka pergi dari sisi Ruby.
Aku melihat kembali ke Ruby yang memandangku, berjalan pelan, aku duduk disebelahnya, menghadapnya saat aku meletakkan gelas minuman di depannya. “Jenny? Kau juga disini?” Dia tampak terkejut. Aku tersenyum padanya sebelum dengan cepat menatapnya dari atas sampai bawah. “Anda terlihat bagus dengan kemeja itu dan tanpa Jas Tuan Ruby.”
Tatapannya menjadi tajam, begitu intens, jantungku mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. “Kau juga terlihat baik, Jenny.”
Aku membutuhkan seseorang yang melihat api dimataku dan ingin bermain dengannya. Pria yang sudah menikah, yang lebih tua khususnya, mereka memiliki pesona tak terlukiskan yang sangat aku sukai. Tidak semua, tapi pria didepanku ini termasuk tentunya. Dia seksi, menarik, cerdas dan stabil. Cincin emas perak dijarinya adalah target dari hasratku yang tersembunyi. Aku ingin dia memakainya saat kami bercinta, itu adalah sesuatu yang sangat ingin aku alami.
“Aku terkejut melihatmu disini.” Lampu menyorot detail tajam wajahnya. “Saya diundang oleh Rania.” Aku membungkuk untuk berbicara didekat telinganya, dengan sengaja menghirup udara hangat ditelinganya. Aku memperhatikan bagaimana rahangnya menegang dan itu membuatku merasa gembira.
“Kita punya teman yang sama? Itu keren” Aku bergeser di kursiku untuk menggosok lututku dipahanya. Dia tidak bergerak dan aku bertanya-tanya apakah dia menyukai apa yang baru saja kulakukan, jadi aku menjaga lututku di posisi itu, diatas pahanya yang berotot. “Aku bertemu dengannya baru-baru ini. Dia adalah pacar dari sahabatku.” Jawabku berbisik di telinganya sambil meletakkan tanganku di pahanya.
__ADS_1