
“Sudah dimulai,” Daniel melirik Ruby yang frustrasi. Dia mengangkat jari telunjuknya untuk memberi isyarat sebotol anggur lagi. Bartender dengan senang hati meletakkan botol lain dan mengeluarkan botol yang sudah kosong.
Ruby berusaha menahan air matanya. Sesuatu yang dia ahli dalam melakukannya. “Gila kan? Terkadang cinta tidak selalu cukup. Aku tidak menyalahkan siapapun kecuali diriku sendiri. Aku punya pilihan tapi aku memilih yang salah. Aku bisa memutuskannya, seharusnya sudah lama, tapi aku tidak melakukannya. Aku tidak tahu apa yang salah denganku dan aku tidak bisa berpaling.”
“Anak-anak. Kamu bertahan demi anak-anakmu. Kamu suka anak-anak,” kata Daniel.
“Aku memang suka anak-anak. Tapi jika di pikir-pikir lagi. Aku adalah ayah yang buruk. Aku bahkan tidak bisa akrab dengan putraku Leo, dia sangat pendiam. Putriku Irene sudah hampir lulus dari universitas, tapi aku tidak pernah tahu apa cita-citanya.” Ruby mendengus frustrasi.
“Kalau begitu jadilah ayah yang baik. Semacam ungkapan, mungkin lakukan saja untuk anak-anak.” Daniel mengangakat kedua bahunya.
Ruby terkekeh. Dia tidak percaya dia akan mendengar hal seperti itu dari pria playboy dan anti pernikahan.
“Sepertinya aku salah telah menikah, apakah itu cara yang tepat untuk mengatakannya?” Ruby meneguk satu lagi, mengosongkan gelas.
Daniel mencibir. “Sudahkah kamu mempertimbangkan untuk melakukan konseling pernikahan?”
Ruby tertawa sinis. Menggelengkan kepala. “Aku sudah memikirkannya. Aku tahu apa yang terjadi tidak sehat. Aku selalu menemukan kesalahan dalam semua yang dilakukan Ketrin, sementara dia terus memperbaiki dirinya untukku. Aku tidak tahu cara mengakhiri ini. Atau jika aku punya nyali untuk memberitahunya bahwa aku selingkuh.”
Daniel tertawa menghina, “Kamu punya nyali untuk menipu, tapi takut ketahuan. Ironis sekali bukan?”
Ruby menganggukkan kepala. Daniel menuangkan cairan merah ke gelas Ruby menjatuhkan beberapa es. “Karena hari-hari bahagiamu akan berakhir. Diakui atau tidak, bagimu Jenny hanyalah cadangan.”
Keheningan mengikuti. Ruby mengerti apa yang dia lakukan. Dia tahu bahwa memiliki Jenny saat dia masih menikah adalah sebuah kesalahan. Tapi jauh di lubuk hati, dia tidak ingin menyebutnya sebagai kesalahan. “Aku bertemu dengan Jenny di waktu yang salah. Betapa aku berharap dia lahir lebih awal atau aku lahir belakangan. Dia sempurna. Dia mandiri. Dia tahu apa yang dia inginkan. Dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada pria menikah yang bodoh dan pengecut.”
“Jadi kamu telah jatuh cinta padanya?”
“Sepertinya begitu.” Ruby mengusap wajahnya kasar. “Aku seharusnya di rumah menonton film bersama keluargaku. Tapi aku memilih untuk pergi dan menjadi pengecut. Kurasa menikah muda dan menikah jika kamu belum siap bukanlah keputusan terbaik. Aku sekarang mencari hal-hal yang tidak bisa Ketrin berikan. Seharusnya aku tidak membandingkan. Hal-hal yang seharusnya tidak kupikirkan. Mencari kesalahan dalam segala hal. Itu bodoh. Aku bodoh.”
__ADS_1
“Yah, kamu tidak akan melihat terlebih dahulu apakah dia bisa memberikannya. Aku tidak mengatakan aku setuju denganmu, tapi kurasa lebih baik membicarakannya dengan dia, dan saranku kalian benar-benar butuh bantuan dari konselor pernikahan. Kalian kacau.”
“Aku ingin memperbaikinya sedini mungkin.”
“Jadi kau akan meninggalkan Jenny?”
“Ya, aku sedang mencari waktu yang tepat. Sekarang dia sedang sakit dan sepertinya dia punya masalah keluarga.”
“Jenny sakit?” Daniel bertanya penasaran.
“Ya sekarang sudah 3 hari dia di rumah sakit. Aku menemukannya 3 hari yang lalu di kamar mandi apartemennya, tubuhnya penuh luka dan lebam. Aku langsung membawanya ke rumah sakit, tapi ketika sadar dia tidak mau berbicara kecuali dengan Lucas. Bahkan dia juga menolak menemui siapapun kecuali Lucas.”
“Ya, mereka seperti saudara kandung.” Ucap Daniel lirih.
“Benar, Jenny mengataka Lucas sudah seperti kakak kandungnya. Dia mempunyai hubungan yang buruk dengan ibunya, tapi aku tidak bisa menyimpulkan bahwa itu perbuatan ibunya. Mana mungkin seorang ibu tega memukuli anaknya seperti itu. Aku sebenarnya khawatir, tapi tidak bisa apa-apa. Itu juga menggangguku, hidupnya sedikit rumit. Bukankah itu hanya akan menambah beban jika kami bersama, entah bebanku atau bebannya.”
Ruby tertawa. “Aku akan membunuh pria yang menyakiti Irene, aku tidak akan membiarkan siapapun mempermainkannya. Dosaku tidak ada hubungannya dengan putriku.”
"Kamu memang bajingan." Daniel tertawa pahit.
“Ngomong-ngomong sebenarnya sekarang aku sedang dalam masalah,” Daniel meminum di gelas terahirnya.
“Oh apa itu? Aku terkejut. Bukankah ini pertama kalinya kamu menyebut dirimu dalam masalah? Biasanya kau acuh dengan apapun yang tejadi dalam hidupmu.” Ruby mengerahkan semua atensinya pada Daniel yang menunduk.
“Ya …, ini berbeda, aku tiba-tiba tahu bahwa aku punya anak.” Daniel menatap Ruby yang sangat terkejut. Matanya membulat.
“Anak? Waaah ku kira kamu adalah orang yang perfeksionis dan tidak akan melakukan kesalahan.”
__ADS_1
“Aku dijebak oleh wanita itu. Aku bahkan tidak mengingat apapun. Dan sekarang aku baru tahu bahwa dia mengandung dan melahirkan anakku.” Daniel menatap gelasnya yang kosong.
“Tapi bukankah itu bagus? Kau pernah bilang ingin hidup dengan seornag anak tanpa istri. Kau bisa mengajukan hak asuh. Kau punya banyak uang, ambillah anakmu.” Menepuk bahu Daniel untuk memberi semangat.
“Masalahnya adalah wanita itu istri orang dan suaminya tidak tahu bahwa itu bukan putranya. Aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan.”
“Sial, itu sangat rumit. Seharusnya kamu tidak berurusan dengan wanita seperti itu.”
“Benar, aku sial”
...****************...
Daniel terus mengawasi kamar nomer 3 itu. Dia telah bertanya di tempat administrasi bahwa itu adalah kamar rawat Jenny. Dia ingin menemuinya, namun menunggu Lucas pergi terlebih dahulu. 20 menit berlalu, Daniel melihat Lucas keluar dengan membawa kunci di mobilnya. Sepertinya dia akan pergi lama, jadi Daniel langsung menuju kamar Jenny tanpa mengetuk pintu, lalu menguncinya.
“Daniel …” Jenny terkejut melihat Daniel yang masuk dan langsung mengunci pintu, berjalan perlahan ke arahnya.
“Bagimana kabarmu?” Daniel duduk di samping Jenny yang memalingkan luka. Dia malu karena wajahnya banyak luka yang masih belum kering.
“Aku baik-baik saja, cepat pergi. Aku tidak ingin menemui siapapun,” ujar Jenny tanpa melihat Daniel.
“Apakah ibumu yang melakukan ini semua? Dia menganiayamu?” Tanya Daniel sambil meraih tangan Jenny. Mengusapnya pelan.
“Itu bukan urusanmu.”
Daniel menarik nafas dan menghembuskannya gusar. “Aku memutuskan untuk memperjuangkan hak asuh Leo, aku sedang mempersiapkan berkas-berkas yang aku perlukan. Aku akan membawanya pergi jauh dari sini. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya. Dan kamu, kuharap kamu baik-baik saja. Aku mengerti kamu melakukan semua ini untuk Lucas. Jika aku jadi kamu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama untuk saudaraku. Tapi aku juga yakin Lucas ingin kamu bahagia. Kamu harus membicarakan ini semua dengannya.” Daniel mengangkat tangan Jenny dan menciumnya sekilas.
“Semoga berhasil. Cepat sembuh, bukankah kamu harus punya banyak kekuatan untuk balas dendam?, jadi jangan sakit.” Daniel berdiri, mencium kening Jenny, lalu perlahan pergi meninggalkan Jenny yang tetap tidak mau menatapnya.
__ADS_1