CINTA GADIS PENDOSA

CINTA GADIS PENDOSA
PERNIKAHAN


__ADS_3

Ruby POV


“Tidak sayang, aku ada rapat sampai jam 8 malam.” Aku melihat Daniel masuk kedalam kantorku, berjarak beberapa menit dari Sean. Daniel pergi ke ruang tidurku.


“Sayang, kamu tahu pekerjaanku. Kita sudah menikah 20 tahun. Kamu tahu aku selalu telat.” Istriku merengek tentang aku pulang terlambat. Meskipun dia selalu melupakannya ketika aku sampai dirumah. Namun hal ini selalu menjadi masalah bagi kami.


“Oke sayang, aku akan berusaha pulang sebelum jam 9, aku janji.” Aku mengalah, tidak ingin berdebat dengannya.


“Baik sayang, aku juga mencintaimu, sampai bertemu nanti malam.” Aku memutuskan panggilan dan mengehela nafas panjang.


“Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak menikah, ikatan dan seorang istri benar-benar hal yang menyebalkan.” Suara Daniel dari balik bilikku.


“Diam Daniel! Ruby dan Ketrin menikah dan bahagia, kesalahpahaman dan perdebatan adalah hal biasa dalam rumah tangga. Jangan membandingkannya dengan dirimu yang selalu melakukan one night stand.” Kata Sean. Dia adalah orang yang cukup tenang dan bijak, pesonanya adalah hal itu.


Mereka adalah teman dekatku sejak aku SMA. Daniel adalah yang termuda dari kami, aku bahkan tidak menyangka dia akan menjadi teman kami karena kepribadiannya. Dia bebas dan liar. One night stan adalah favoritnya, dia tidak pernah punya hubungan yang serius. Namun dia juga penghibur bagiku, ketika aku lelah karena banyak bertengkar dengan istriku, dia membawaku bersenang-senang dan membuatku bernafas lega, itu adalah poin positifnya.


Lain dengan Sean, dia tenang, berwibawa dan sopan. Dia dan istrinya mempunyai kepribadian yang sama-sama baik. Mereka pasangan yang sempurna. Meskipun aku tahu dia juga terkadang melakukan one night stand saat bertengkar dengan istrinya. Tapi kehidupan pernikahannya cukup baik.


“Oh, kamu berganti merek kopi?” Sean terkejut melihat cup kopiku karena dia tahu aku benci mengubah kebiasaanku.


“Ya asistenku membawakannya, katanya dia menjamin bahwa rekomendasinya akan cocok untukku.” Sean mengangguk.


“Aku tahu kamu tidak suka berganti merek, tapi aku setuju kopi itu enak, aku pernah kesana beberapa kali.”


“Ngomong-ngomong soal sekretarismu, dia masih muda dan cantik bukan?” aku mengangguk.


“Ya. Kurasa dia menguntungkan, seseorang yang muda, professional, dan tentu saja dengan usianya dia sangat aktif dan lebih cekatan. Dia bisa menggunakan alat elektronik dengan baik. Aku rasa jadwalku akan selalu tersusun baik.”


Sean hanya mengangguk. “Daniel menggodanya. Mereka akan pergi makan siang, kurasa kamu harus memperingati asisten barumu hal apa yang harus dihindari dan Dan Daniel harus ada di daftar teratas."


“Hey sial, aku mendengarnya!” Daniel berteriak dari seberang ruangan.


“Biarkan saja dia. Selama Jenny melakukan pekerjaannya dengan baik, aku tidak keberatan dia mau berkencan dengan siapapun. Tapi Daniel jangan mempermainkan perasaan asistenku!” aku memanggil Daniel. Aku tidak mau suatu hari asistenku menangis dengan surat pengunduran diri karena patah hati oleh Daniel.

__ADS_1


“Aku ragu dia akan mendengarkanmu, dia bajingan sialan. Dia pasti berencana melakukan hal lain dengan alasan makan siang." Bisik Sean.


Daniel bangun, berjalan menuju mejaku dan duduk depan kami. “Mengapa kamu berbisik, aku bisa mendengarmu dengan jelas sialan.” nadanya mengejek. “Aku hanya ingin berteman dengan asistenmu yang cantik, apa itu salah? Dan jangan terlalu menggebu seperti itu Sean. Seakan kau lebih baik dariku! Lagi pula bukan urusanmu jika aku bahkan makan siang sambil melakukan se*ks dengannya.”


“Dasar bajingan kotor.” Sean bangkit dari duduknya.


Aku berdehem dan menatap mereka dengan serius. Jika terus dibiarkan mereka benar-benar akan saling memukul. Daniel sangat senang membuat Sean kesal dengan ketidaksopanannya.


“Dengar !! aku sibuk, banyak hal yang harus aku kerjakan. Sean tolong dengan hormat, aku menghargai pendapatmu dan itu masuk akal tapi aku tidak bisa ikut campur dengan kehidupan pribadi sekretarisku. Dan kau Daniel, berhenti berbuat semaumu oke, entah kau serius atau tidak, jangan melakukan hal mesum diperusahaanku dan jangan bertengkar diruanganku!!!” Keduanya menatapku dengan kesal, kami selalu begini.


“Baik, maaf." Sean kembali duduk tenang.


“Kami ingin mengajakmu ke pesta Rania mantan Sean yang cantik itu. Itu sebabnya kami disini. Kamu akan datang kan?” Tanya Daniel.


“Oh! Aku sudah lama tidak melihatnya, kudengar dia menjadi model terkenal?” seruku.


“Ini saatnya! Aku dengar dia punya kekasih seniman sekarang. Mungkin pria itu akan hadir. Mari kita lihat siapa pria yang mampu menggeser nama Sean dihatinya." Daniel tertawa mengejek.


“Jangan membawa-bawa namaku, aku sudah menikah, ini hanya karena kita diundang ke pestanya.”


“Dan tolong jangan bawa istri kalian, please ini hanya kita, tidak ada hal menyengkan dipesta jika kalian membawa istri kalian.” Tegas Daniel, dia sangat tidak sopan dan lancang, tapi aku setuju dengan ucapannya.


Aku tersenyum menatap mereka, di usia kami sekarang, kurasa adalah masa-masa dimana kami rawan merasa bosan terhadap pasangan. Aku juga merasakannya, tapi aku sangat mencintai istriku. Aku selalu memaklumi segala sikap dan sifatnya yang aku tidak sukai karena aku mencintainya,


...****************...


JENNY


Pkl 12.25


Aku mempunyai janji makan siang dengan Daniel. Melihatnya begitu berani menyentuhku meskipun banyak cctv, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika hanya kita berdua diruangannya yang tertutup. Berjalan menuju kantor Daniel di lantai 2, tampak suasana di depannya kosong, karyawan lain pasti sedang istirahat untuk makan siang, aku mengetuk pintu kantornya.


“Selamat siang” Aku masuk dengan perlahan.

__ADS_1


“Oh kamu sudah datang!!! Silahkan duduk, aku memesan beberapa makanan, tapi aku tidak tahu apa yang kamu suka.” Aku melihat dimeja tamunya terdapat salad sayur, sushi, steak dan minuman.


“Kurasa bukankah ini terlalu banyak?” Aku duduk disampingnya.


“Benarkah? Tidak apa-apa aku hanya ingin kamu merasa nyaman makan denganku.” Daniel berdiri dan menuju pintu kantornya, memutar kuncinya. Aku sedikit terkejut dia mengunci pintu ruangannya.


Berbalik tersenyum padaku dan kembali duduk.


“Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu kita saat makan."


Aku hanya mengangguk. Memperhatikan bagaimana tangannya kembali mengusap pahaku, menyingkap sedikit rokku, matanya menatap penuh arti.


“Apa kamu sudah sangat lapar?” tanyanya. Tangannya terus berjalan mengusap sampai pangkal pahaku. Membuat darah ku berdesir seketika.


Aku tidak menjawab, hanya terus balas menatapnya. Dia tersenyum menarik pinggangku lebih dekat padanya.


“Kamu benar-benar cantik.” bisiknya ditelingaku.


Mencium leherku dengan bibirnya yang lembut.


“Jangan!!! Orang lain akan melihatnya jika kamu menggigitku ke tempat itu,” aku menghentikannya saat dia mulai menghisap dan mengigit leherku.


“Lalu aku harus menggigit yang mana?” dia memutar tubuhku agar menghadapnya.


“Bisakah kamu duduk dipangkuanku dan menghadapku?” Matanya penuh dengan kabut nafsu. Mulutnya dileherku terus mencium disana.


Aku berdiri, duduk dipangkuan Daniel dengan kedua kakiku memeluk pinggangnya, rokku otomatis terangkat memperlihatkan celana dal*mku yang berwarna merah. Daniel tersenyum puas.


“Warna merah memang cocok untukmu, itu menambah kesan seksimu.” Tangannya terulur mencoba menarik celana dalamku, aku menahan tangannya.


“Tidak, saya bersedia melakukan hal apapun dengan anda asal bukan se*ks.” Aku berbisik didepan bibirnya. “Lalu bagaimana kamu akan membantu anggotaku yang mengeras?” Daniel menggeram mencoba meraih bibirku.


“Saya bisa menggunakan mulut saya, apakah anda suka?” Daniel tersenyum menarik tengkukku.

__ADS_1


“Tentu saja aku suka, kamu bisa mengukur panjangku dengan tenggorokanmu yang cantik.” Daniel menciumku dengan keras, membuka kancing bajuku.


Menghabiskan waktu makan siang dengan segala kegiatan panas. Itu menyenangkan. Sudah lama aku tidak bermain-main.


__ADS_2